Awalnya sempat ragu tentang kesuksesan rencana pelaksanaan Reuni 20 Tahun Alumni 1989 PGAN Kediri pada tanggal 24 September 2009. Keraguan ini cukup beralasan, karena rentang waktu 20 tahun bukanlah waktu yang pendek dan singkat, akurasi data alamat domisili menjadi masalah utama. Banyak diantara alumni yang sudah menyebar di berbagai wilayah, diantara yang berhasil teridentifikasi ada yang di Gorontalo, Kaltim, Kalsel, Palembang, Jakarta, Cirebon, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Jombang, Kediri, Nganjuk, Blitar, Tulung Agung, Trenggalek, dan berbagai daerah lainnya.
Waktupun tiba saat pelaksanaan, Kamis, 24 September 2009. Dengan perasaan dag-dig-dug dan penuh tanya, mungkinkah acara akan berlangsung sukses. Tiba di depan lokasi, tetamu sudah disambut dengan baliho besar "Reuni Abiturient PGAN Kediri 1989", spanduk "Selamat Datang Abiturent PGAN Kediri 1989", umbul-umbul, dan beberapa ornament lain yang memberi kesan bahwa acara akan berlangsung meriah. Mendekati gedung tempat acara, Aula MAN 3 Kediri, sudah tampak berjajar meja-meja registrasi yang dibagi menurut kelas, mulai kelas III/1 hingga kelas III/9, masing-masing dijaga oleh wakil dari kelas bersangkutan. Alunan musik khas lebaran, qosidah, mengalun merdu di tengah suasana menunggu kehadiran tamu-tamu undangan. Hiburan musik ini juga dikomandani oleh salah seorang alumni 1989, Sdr. Abd. Haris Nasution.
Waktu menunjukkan pukul 8.30 WIB, tamu mulai berdatangan. Pemandangan mengharukan sekaligus membahagiakan mulai tampak dimana-mana. Satu tamu bertatap muka dengan tamu lain, raut muka keheranan, bingung, bangga, bahagia, dan tawa, semua menyatu jadi satu. Luapan rasa kangen diwujudkan dalam berbagai bentuk ungkapan, mulai dari ucapan verbal khas Kediri hingga simbol-simbol keakraban secara fisik seperti "cipika-cipiki" juga jamak terlihat dimana-mana. Sungguh semua dapat memaklumi, perpisahan selama 20 tahun telah menjadikan suasana batin pada keadaan kangen yang luar biasa. Dan reuni ini menjadi kesempatan sekaligus obat yang pas untuk menumpahkan suasana batin yang demikian. Meski secara fisik masih relatif mudah mengenali wajah, tetapi diakui banyak pihak bahwa yang tersulit adalah mengenali nama. Oleh karenanya panitia sudah mengantisipasi hal tersebut, dan kepada semua alumni diharuskan menempelkan label nama yang sudah disiapkan oleh panitia di dada masing-masing untuk memudahkan proses "pengenalan kembali" teman lama yang telah 20 tahun berpisah. Ini di luar dugaan ternyata betul-betul sangat membantu.
Di sudut lain, tampak mulai hadir undangan dari unsur para guru. Hadir pertama kali adalah Bapak Tamam Syafi'i, disusul Bpk. Ni'am Hamzah, lalu Bpk. Samudji, Bpk. Djazuli Djazim, Bpk. Dalail, Bpk. Ngadenan, Bpk. M. Khodir, Ibu Djuannah. Saat mendekati acara dimulai, hadir Bpk. M. Sudja'i Habib beserta Ibu. Kehadiran beliau ini disambut dengan luar biasa, bak para santri berkesempatan sungkem dengan Kyai-nya. Para alumni menyerbu ke depan berebut 'berkah' bisa sungkem dengan pak Dja'i (panggilan akrab beliau). Terakhir juga hadir Bpk. Qusyairi Bakrie. Secara umum, pemandangan yang tampak adalah perubahan penampilan dari beliau-beliau, guratan penuaan hampir tampak di semua wajah Bapak dan Ibu guru. Maklum, sang waktu terus berlari, dan saat kemarin itu waktu telah lari sejauh 20 tahun lamanya. Hampir semuanya juga sudah memasuki masa purna bhakti (pensiun), kecuali Bpk. Djazuli Djazim dan Ibu Djuannah.
Pemandangan yang tidak kalah mengharukan adalah saat seksi acara, Sdr. Zamroni, menyampaikan pengumuman bahwa dari 450-an alumni tahun 1989, banyak diantaranya telah mendahului dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Tidak kurang dari 11 alumni telah meninggal dunia, dan disebutkan satu per satu, disertai tayangan foto memori masing-masing dalam media layar lebar, termasuk diantaranya dokumentasi kegiatan ziarah kubur ke beberapa makam yang dapat dijangkau oleh panitia. Setelah itu, juga diumumkan nama-nama dewan guru yang telah pula meninggal dunia. Rangkaian informasi duka ini dimaksudkan sebagai media 'introduksi' terhadap mata acara berikutnya yaitu doa bersama untuk mereka, berupa pembacaan kalimah thoyyibah dalam bentuk tahlil yang dipimpin oleh Gus Qowim (salah satu alumni dari kelas III/3). Acara tahlil sendiri juga tidak kalah mengharukannya. Saat-saat dibacakan kalimah doa, tidak sedikit yang menitikkan air mata, baik di kalangan alumni maupun di bapak/ibu guru. Gambaran wajah mereka yang telah mendahului begitu segar dalam ingatan, apalagi di layar lebar secara terus menerus dan bergantian tayangan wajah mereka dimunculkan satu per satu.
Tahap acara berikutnya adalah sambutan Ketua Panitia, Sdr. Thohir Afandi. Beberapa hal yang disampaikan dalam sambutan adalah adanya keinginan untuk me-revitalisasi kelembagaan jaringan alumni PGAN Kediri. Reuni ini diharapkan menjadi langkah awal menuju ke arah itu. Juga disampaikan bahwa ke dapan diharapkan setiap 5 tahun sekali dapat diselenggarakan acara serupa, tetapi tidak harus dalam format acara formal, bisa juga dalam bentuk "Family Gathering", kumpul-kumpul santai. Pada kesempatan tersebut dilaporkan juga tentang situasi pendanaan untuk kegiatan tersebut, disebutkan bahwa iuran sukarela yang masuk mencapai Rp 18-an juta, dan belanja Rp 14-an juta, sehingga masih terdapat saldo dana sebesar Rp 4-an juta. Sisa dana yang ada akan digunakan untuk dana awal pengelolaan biodata baru yang dikumpulkan saat reuni, juga penggandaan DVD/VCD rekaman kegiatan Reuni. Namun diharapkan dana ini dapat dipertahankan untuk bekal awal bagi penyelenggaraan Reuni 5 tahun berikutnya, dan akan mempercayakan penyimpanannya kepada Bendahara Panitia, syukur apabila kelembagaan pengurus alumni angkatan 1989 dapat terbentuk sehingga sisa dana ini bisa menjadi bekal awal. Dilaporkan pula kepada para dewan guru, bahwa saat ini posisi alumni dari satu angkatan 1989 sudah menyebar di berbagai daerah, dengan pos pekerjaan/jabatan yang sangat beragam. Ada yang jadi politisi, guru, pengusaha, kyai, dosen, dan lain-lain. Tentu dengan situasi itu jaringan alumni ini menjadi sangat strategis dan penting untuk dijaga.
Pada kesempatan berikutnya, Bpk. M. Sudja'i Habib selaku mantan Kepala PGAN Kediri era 1989 itu diminta untuk memberikan pesan dan kesan dalam bentuk "mauidhoh hasanah". Dalam pesannya beliau bercerita banyak tentang cerita sukses dari para alumni. Dalam berbagai kesempatan beliau sering berjumpa dengan para alumni, termasuk saat beliau menunaikan ibadah haji. Cerita sukses tersebut menjadi kebanggaan beliau bahwa pendidikan yang telah diberikan punya makna dan guna bagi masa depan anak didik, dan lebih-lebih bagi kepentingan bangsa dalam arti luas. Beliau menghimbau kiranya masing-masing dapat terus berkiprah sesuai bidang dan keahlian masing-masing. Lebih khusus beliau juga menyampaikan doa agar para alumni semuanya tanpa kecuali dapat diberikan kelonggaran oleh Allah Swt untuk menunaikan ibadah haji, ibadah idaman bagi setiap insan muslim yang mampu memenuhinya.
Acara dilanjutkan dengan ritual bersalam-salaman. Para guru berjajar di depan, dan para alumni mengular panjang untuk 'ngantri' memperoleh giliran sungkem ke masing-masing guru. Bersalam-salaman ini ternyata berlanjut panjang antara sesama alumni, sehingga barisan memanjang hingga jauh keluar dari gedung aula tempat acara. Memontum ini benar-benar menjadi saat-saat untuk menumpahkan rasa kangen antara satu dengan lainnya. Hal unik yang tampak adalah suasana akrab antara alumni lelaki dan alumni perempuan, dimana suasana yang demikian dahulu tidak pernah terjadi mengingat sistem pembagian kelas menggunakan pemisahan antara kelas siswa laki-laki dan kelas siswi perempuan. Dengan suasana demikian, akhirnya terungkap pula cerita-cerita kecil di balik itu dalam suasana guyonan yang cair, yang selama ini tidak tampak ke permukaan.
Mengakhiri rangkaian acara reuni, masing-masing kelas diberikan kesempatan untuk berkumpul sendiri-sendiri. Ini dimaksudkan agar suasana ramah tamah dapat lebih bermakna dan lebih 'berkesan', sekaligus agar masing-masing dapat menyusun 'arrangement' agenda silaturrahmi ke dapan, sesuai kesepakatan masing-masing kelas. Sementara silaturrahmi untuk level satu angkatan diharapkan akan dilaksakan setiap 5 tahun sekali. Singkat kata, acara Reuni ini sungguh merupakan momentum yang LUAR BIASA...! Ucapan terima kasih dan ucapan selamat layak diberikan kepada panitia. Dan perlu diketahui oleh teman-teman, bahwa di balik sukses acara kemarin adalah peran besar dan kerja tanpa lelah teman kita, Sdr. Jumadi, yang bersedia menjadi Wakil Ketua Panitia dan dalam prakteknya bersedia menjadi pelaksana harian dari setiap rentetan persiapan acara reuni, tentu ini tidak bermaksud mengurangi apresiasi kepada teman panitia yang lain. Sekali lagi selamat atas sukses acara Reuni 24 September 2009 kemarin.
(Jakarta, 28 September 2009, by Thohir Afandi)
Monday, September 28, 2009
Subscribe to:
Comments (Atom)