Pada musim lebaran yang lalu, silaturrahmi besar dalam bentuk Reuni Alumni '89 PGAN Kediri telah sukses diselenggarakan di Kediri. Para guru dan alumni tumpah ruah dalam kebahagiaan yang hampir tak terlukiskan setelah 20 tahun berpisah. Kejadian yang hampir sama meski tidak serupa juga terjadi di Jakarta pada tanggal 8 November 2009. Segenap alumni PGAN Kediri yang mukim di wilayah Jakarta dan sekitarnya memperoleh kesempatan istimewa untuk bisa sowan dengan al-mukarrom Bpk. M. Sudja'i Habib, mantan Kepala Sekolah PGAN Kediri era tahun 80-an.
Kegiatan silaturrahmi yang lebih layak disebut dengan 'sowan bersama' ini terjadi begitu cepat dan bisa dikatakan tidak melalui proses perencanaan yang baik. Waktunya begitu tiba-tiba dan cepat sekali. Bermula dari kabar bahwa pak Dja'i (sapaan akrab untuk beliau) ada di Jakarta untuk menghadiri undangan Gus Dur yang belum lama ini mantu, salah seorang alumni berusaha untuk sowan ke beliau, sambil menjajagi kemungkinan untuk mengatur pertemuan yang melibatkan seluruh alumni yang ada di Jakarta. Alhamdulillah ternyata beliau menyambut gembira gagasan ini, bahkan beliau berkenan untuk memperpanjang masa singgah di Jakarta sehingga gagasan silaturrahmi bersama dapat diwujudkan.
Sebagaimana pernah disebut dalam posting sebelumnya, di Jakarta terdapat banyak sekali alumni PGAN Kediri, hanya saja sejauh ini yang berhasil di-data dan sering melakukan kontak, termasuk hadir dalam beberapa acara bersama baru mencapai 30-orang. Jaringan yang sudah ada relatif dapat bertahan dengan baik sebagaimana ditunjukkan tingkat kehadiran para alumni dalam berbagai kegiatan bersama yang selama ini sudah berlangsung.
Kembali ke soal gagasan silaturrahmi, bahwa dengan restu dan perkenan beliau yang demikian, akhirnya inisiatif ini diwujudkan dengan mengkoordinir rekan-rekan alumni. Waktu ditentukan yaitu pada tanggal 8 November 2009. Mengenai tempat, semula akan diatur penyelenggaraannya di rumah salah satu alumni, tetapi karena pak Dja'i lebih senang bila acara dapat berlangsung di kediaman dimana beliau tinggal, maka tempat acara disesuaikan. Semua kesibukan dan persiapan terkait dengan berbagai kebutuhan untuk acara dipenuhi seluruhnya oleh jaringan alumni.
Hari Minggu, 8 November 2009, tibalah saat yang dinanti. Satu per satu alumni berdatangan. Datang pertama kali adalah Thohir Afandi, sekaligus sebagai penggagas. Berikutnya adalah Sdr. Achmad Munir, yang sekarang berkarir di Kopassus, Cijantung. Kemudian, Ustadz Imam Abda', disusul Ust. Sufyan Ats-Tsauri, juga Ust. Abu Mansyur. Dalam keadaan yang hadir belum demikian banyak, pak Dja'i dengan antusias ingin mendengar berita terkini dan cerita perjalanan hidup para alumni hingga pertemuan pada detik pertemuan tersebut. Hal yang agak mengagetkan beliau adalah ketika Sdr. Achmad Munir mengenalkan diri bahwa sekarang sedang meniti karir militer berpangkat Mayor di Kopassus Cijantung. Tentu berita ini agak jarang beliau dengar, mengingat kebanyakan alumni PGAN Kediri kalau tidak jadi guru, jadi dosen, jadi Kyai/Ustadz, atau profesi sejenisnya, dan tidak jauh-jauh dari itu.
Setelah seluruh alumni dinyatakan telah datang sesuai jumlah konfirmasi yang masuk, acara dimulai. Acara silaturrahmi secara formalitas diisi dengan sambutan wakil alumni, lalu sambutan dan wejangan dari pak Dja'i, dan diakhiri dengan do'a yang juga dipimpin oleh beliau. Namun secara khusus beliau juga minta agar dibacakan do'a yang dipimpin oleh salah satu alumni untuk secara khusus mendo'akan beliau agar segera diberikan kesembuhan dari cobaan sakit berupa tidak berfungsinya indra penglihatan beliau akibat operasi katarak beberapa waktu yang lalu. Beliau menyampaikan bahwa dengan cobaan tersebut, banyak aktifitas sosial keagamaan yang sekarang tidak lagi bisa beliau tunaikan, seperti memberi ceramah, menjadi khatib, membaca al-qur'an, al hadits, dll. Oleh karena itu, akhirnya Ust. Imam Abda' memimpin bacaan surat al fatihah dan dilanjutkan dengan bacaan do'a untuk maksud sebagaimana yang pak Dja'i minta.
Di luar suasana formil pengacaraan, situasi silaturrahmi berlangsung sangat cair. Pak Dja'i yang didampingi oleh istri beliau dengan nada yang 'cair' mengajak bercengkerama para alumni yang hadir. Di sela-sela pembicaraan, beliau mengeluhkan mengapa sejak selesai dari PGAN Kediri saat itu, sedikit sekali alumni yang datang bersilaturrahmi ke beliau. Terhadap pertanyaan ini, salah satu respon yang mengemuka adalah adanya rasa 'segan' untuk bertemu langsung dengan beliau. Segan dalam arti perasaan tawadlu' yang berlebih dari seorang murid kepada gurunya. Perasaan demikian yang menjadi kendala sehingga kebanyakan sungkan untuk sowan langsung dengan beliau. Padahal suasana batin yang riil dari para alumni sebenarnya mereka ingin sekali bersilaturrahmi dan sowan ke beliau. Dengan pemahaman yang demikian, pak Dja'i mewanti-wanti agar para alumni tidak sungkan secara berlebih, beliau sama sekali tidak ada masalah kapan-pun bila ada yang datang ke kediaman di Ngronggo Kediri untuk bersilaturrahmi, bahkan merasa senang. Bahkan beliau menghimbau agar setiap lebaran ke depan, dimana pada momentum tersebut kebanyakan para alumni mudik kampung, agar menyempatkan diri untuk bisa bertatap muka, syukur bila bisa dilakukan secara berkelompok.
Beberapa respon dan komentar alumni setelah acara silaturrahmi kemarin berakhir adalah betapa terharunya bisa memperoleh kesempatan bercengkerama langsung dengan pak Dja'i. Dimana hal yang demikian sangat jarang terjadi, bahkan saat masih sama-sama di Kediri sekalipun. Mudah-mudahan hubungan tali silaturrahmi ke depan dapat terus dijalin dan dikembangkan, dan kegiatan-kegiatan kealumnian juga dapat digalakkan. Betapapun PGAN Kediri sekarang sudah tidak ada lagi, tetapi alumninya masih eksis dan dapat berperan di mana-mana sesuai bidang profesi yang ditekuninya. (Thohir Afandi, 10/11/2009)
Tuesday, November 10, 2009
Subscribe to:
Comments (Atom)