Seperti disebutkan dalam posting sebelumnya, bahwa dalam skala terbatas akan dilaksanakan temu silaturrahmi (Reuni) teman-teman alumni PGAN Kediri lulusan tahun 1989 pada tanggal 5 Oktober 2008 lalu. Pada posting ini, akan dilaporkan gambaran sekilas dari pertemuan tersebut.
Rencana silaturrahmi ini sejak dari awal memang dimaksudkan sebagai pertemuan permulaan dalam rangka mempersiapkan forum silaturrahmi yang lebih besar. Ide dan gagasan muncul setelah beberapa teman sesama alumni berhasil menyambung lagi, tetapi dalam skala yang masih terbatas. Gagasan ini menjadi semakin dirasakan mendesak untuk diwujudkan setelah mendengar masukan dari pihak-pihak yang belakangan berhasil terhubung. Lebih-lebih pada Idul Fitri 1428 H (2007) lalu, salah satu alumni yaitu saya sendiri, berkesempatan sowan ke kediaman Almukarrom Bpk. M. Sudja'i Habib. Beliau mengungkapkan kerinduannya yang sangat dalam untuk dapat bertemu dengan para mantan anak didiknya yang saat ini sudah banyak melalang buana di berbagai kota besar di Indonesia.
Singkat kata setelah dilakukan sounding dengan teman-teman, baik yang ada di Jogjakarta, Jakarta, Surabaya, Kediri, Tulung Agung, Pare, Cirebon, dll., disepakati perlunya segera dilakukan pertemuan kecil untuk mulai merintis keinginan/gagasan tersebut di atas. Dan pertemuan itu akhirnya diwujudkan pada tanggal 5 Oktober 2008, bertepatan dengan hari kelima Idul Fitri 1429 H.
Pertemuan semula direncanakan dilaksanakan di masjid PGAN Kediri (masjid At-Taqwa sih, wong sekarang sudah jadi masjid MAN 3 Kediri). Namun sebelum teman-teman datang, ternyata sudah ada adik-adik dari alumni MAN 3 Kediri yang lebih dulu memenuhi ruang masjid untuk tujuan yang sama. Oleh karena itu, dengan cepat teman-teman berkoordinasi dengan pihak MAN 3 untuk meminta ijin menggunakan salah satu ruang kelas untuk keperluan pertemuan tersebut.
Oleh karena pertemuan kecil ini merupakan pertemuan pertama, pemandangan yang terlihat ya lazimnya pertemuan antar sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Setiap ada yang baru datang, wajah keheranan dan penasaran seringkali nampak, disusul teriakan luapan kerinduan seorang sahabat. Eh.. gila kamu gemuk banget, itu salah satu ungkapan yang sesekali terdengar. Eh.. tambah gagah aja kamu, dimana rek kamu sekarang, waduh... berapa anakmu sekarang, dimana tinggal, kerja apa kamu, eh gila... ini yang jadi bos, .... (pokonya seru dan seru....).
Dalam pertemuan awal ini hampir setiap kelas (9 kelas) dari lulusan tahun 1989 ada yang mewakili, mulai dari kelas III/1 hingga kelas III/9. Data lengkap yang hadir akan disusulkan kemudian.
Pertemuan menyepakati pembentukan panitia yang akan mempersiapkan pertemuan berikutnya. Struktur terdiri dari Ketua, Sekretaris, Bendahara, beberapa Seksi, dan Koordinator Masing-masing Wilayah. Informasi kelengkapan kepanitiaan akan di-posting-kan kemudian, karena notulensi lengkap masih belum diterima. Diharapkan pada awal tahun 2009 dapat dilakukan pertemuan putara kedua untuk membahas kemajuan "perburuan" jaringan baru teman-teman alumni yang belum sempat terhubungi. Tidak mudah memang, karena hampir semua alumni sudah tidak beralamat sebagaimana alamat asal saat kelulusan tahun 1989. Oleh karenanya dengan membentuk koordinator di tiap-tiap kota diharapkan dapat menjaring secara lebih efektif terhadap teman-teman sesama alumni yang belum berhasil dihubungi.
Demikian sekilas info. Kebutuhan informasi dapat ditanyakan kepada Sdr. Jumadi, Pare (0813.5999.6157), Sdri. Latifah, Kediri (Pesantren Al-Huda Kowak), Sdr. M. Sobir, Yogyakarta (0818.0272.0166), Sdr. Ali Ridlo, Jakarta (0812.950.4542), dll. (Posted, 31 Oktober 2008)
Friday, October 31, 2008
Bersambungnya Kembali Tali Komunikasi
Kemarin sore, tepatnya hari Kamis, 30 Oktober 2008, saya memperoleh anugerah yang sangat istimewa. Bermula dari ketidaksengajaan dari sambung-kontak dengan salah seorang guru MAN 3 Kediri, Ibu Zidni Rahmawati, yang secara kebetulan berkenalan via media internet, akhirnya komunikasi salah satunya berujung kepada 'tersambungnya' kembali komunikasi dengan sosok yang saya sangat hormati, yaitu pak Djazuli Djazim. Saya berterima kasih secara khusus kepada bu Zidni Rahmawati.
Dalam kenangan yang masih rapi saya simpan, sosok beliau ini adalah sosok seorang guru yang memiliki kekhasan dalam berinteraksi dengan para siswanya. Kekhasan beliau terlihat antara lain dari gaya bicara yang terbuka dan cenderung 'ceplas ceplos' bila bermaksud menyindir anak didiknya kalau ada yang menurut beliau perlu diluruskan. Gaya yang demikian menjadikan siswa merasa dekat dan tidak canggung dalam berinteraksi dengan beliau, yang pada gilirannya justru dapat melahirkan sikap hormat dan tawadlu' kepada beliau. Hal demikian menurut saya sedikit tidak lazim, tidak lazim dalam arti sedikit guru yang menjadikan gaya keterbukaan dan kedekatan sebagai strategi membangun 'respect' antara keduanya. Tidak jarang kita temui bahwa guru cenderung menjaga jarak dan berperilaku sebagai sosok yang ingin terlihat serba dan paling tahu dalam banyak hal. Tetapi yang ini tidak demikian, semua hal ditempatkan dalam hubungan kesetaraan, seringkali terkesan siswa ditempatkan sebagai mitra dalam proses pembelajaran.
Mungkin kebetulan saja, bahwa gaya demikian matching dengan sosok gaya guru yang saya impikan, sehingga kesan yang tertinggal dalam ingatan terasa begitu mendalam. Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa gaya seorang guru tidak harus sama, dan tentu masing-masing juga memiliki bawaan dan pengalaman yang tentu berbeda. Sehingga dengan demikian gaya yang ditampilkan juga tentu berbeda. Hanya saja, tidak jarang dapat kita temui sosok guru yang terkesan memaksakan suatu gaya, entah apakah dimaksudkan sebagai cara membangun kewibawaan, atau apa, tapi justru dengan gaya itu malah luntur kewibawaannya. Tengok saja gaya atau pendekatan yang sedikit atau banyak ‘jaim’, atau gaya yang sok berwibawa, justru malah sering menjadikan yang bersangkutan "kurang" berwibawa dan malah dijauhi anak didiknya. Itu berbeda dengan gaya yang saya ceritakan di bagian awal.
Memang sih, kalau pembicaraan diarahkan kepada soal kewibawaan, menurut shohibul hikayat ada beberapa sumber kewibawaan. Ada kewibawaan karena keilmuan dan perilakunya, ada kewibawaan karena karakter pembawaannya, ada kewibawaan karena kekuasaannya, ada pula kewibawaan karena kemampuan "manipulatif" behavioral-nya. Masing-masing memiliki keuntungan dan kekurangannya sendiri. Tapi kalau bisa, raihlah kewibawaan yang bersumber dari penguasaan ilmu dan keluhuran berperilaku. Sungguh elok sekali yang demikian. Eh kok jadi nglantur ke sana sini ya.
Ok, kembali soal kenangan sosok beliau ini, keberhasilan kontak kembali dengan beliau terasa begitu istimewa oleh karena sudah hampir 20 tahun saya tidak bertemu beliau. Dalam situasi demikian, maka bisa bicara dengan beliau terasa luar biasa. Beberapa hal yang langsung teringat tentang beliau ini antara lain adalah, bagaimana beliau mendidik kala itu, bagaimana beliau bercengkerama dengan para siswanya termasuk saya, bagaimana beliau piawai mendorong siswa untuk aktif berbahasa arab. Masih saya ingat dengan baik saat beliau memanggil satu persatu siswanya untuk kedepan, diajak bicara bahasa arab, sebisanya, semampunya, pokoknya bahasa arab. Itu semua sungguh merupakan pengalaman dan kenangan yang sulit dilupakan. Belum lagi kalam nasyid yang pernah beliau ajarkan kala itu: “Al-jahlu daa’, wal ‘ilmu yasyfii” langsung terngiang di telinga. Seakan perputaran dunia dari 1989 baru terjadi sedetik yang lalu. Subhanallah…!
Baiklah, semoga kontak pertama ini dapat berlanjut dengan silaturrahmi yang langgeng, dalam konteks beliau sebagai guru dan saya sebagai murid. Amin...! (Thohir Afandi, 31 Oktober 2008)
Dalam kenangan yang masih rapi saya simpan, sosok beliau ini adalah sosok seorang guru yang memiliki kekhasan dalam berinteraksi dengan para siswanya. Kekhasan beliau terlihat antara lain dari gaya bicara yang terbuka dan cenderung 'ceplas ceplos' bila bermaksud menyindir anak didiknya kalau ada yang menurut beliau perlu diluruskan. Gaya yang demikian menjadikan siswa merasa dekat dan tidak canggung dalam berinteraksi dengan beliau, yang pada gilirannya justru dapat melahirkan sikap hormat dan tawadlu' kepada beliau. Hal demikian menurut saya sedikit tidak lazim, tidak lazim dalam arti sedikit guru yang menjadikan gaya keterbukaan dan kedekatan sebagai strategi membangun 'respect' antara keduanya. Tidak jarang kita temui bahwa guru cenderung menjaga jarak dan berperilaku sebagai sosok yang ingin terlihat serba dan paling tahu dalam banyak hal. Tetapi yang ini tidak demikian, semua hal ditempatkan dalam hubungan kesetaraan, seringkali terkesan siswa ditempatkan sebagai mitra dalam proses pembelajaran.
Mungkin kebetulan saja, bahwa gaya demikian matching dengan sosok gaya guru yang saya impikan, sehingga kesan yang tertinggal dalam ingatan terasa begitu mendalam. Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa gaya seorang guru tidak harus sama, dan tentu masing-masing juga memiliki bawaan dan pengalaman yang tentu berbeda. Sehingga dengan demikian gaya yang ditampilkan juga tentu berbeda. Hanya saja, tidak jarang dapat kita temui sosok guru yang terkesan memaksakan suatu gaya, entah apakah dimaksudkan sebagai cara membangun kewibawaan, atau apa, tapi justru dengan gaya itu malah luntur kewibawaannya. Tengok saja gaya atau pendekatan yang sedikit atau banyak ‘jaim’, atau gaya yang sok berwibawa, justru malah sering menjadikan yang bersangkutan "kurang" berwibawa dan malah dijauhi anak didiknya. Itu berbeda dengan gaya yang saya ceritakan di bagian awal.
Memang sih, kalau pembicaraan diarahkan kepada soal kewibawaan, menurut shohibul hikayat ada beberapa sumber kewibawaan. Ada kewibawaan karena keilmuan dan perilakunya, ada kewibawaan karena karakter pembawaannya, ada kewibawaan karena kekuasaannya, ada pula kewibawaan karena kemampuan "manipulatif" behavioral-nya. Masing-masing memiliki keuntungan dan kekurangannya sendiri. Tapi kalau bisa, raihlah kewibawaan yang bersumber dari penguasaan ilmu dan keluhuran berperilaku. Sungguh elok sekali yang demikian. Eh kok jadi nglantur ke sana sini ya.
Ok, kembali soal kenangan sosok beliau ini, keberhasilan kontak kembali dengan beliau terasa begitu istimewa oleh karena sudah hampir 20 tahun saya tidak bertemu beliau. Dalam situasi demikian, maka bisa bicara dengan beliau terasa luar biasa. Beberapa hal yang langsung teringat tentang beliau ini antara lain adalah, bagaimana beliau mendidik kala itu, bagaimana beliau bercengkerama dengan para siswanya termasuk saya, bagaimana beliau piawai mendorong siswa untuk aktif berbahasa arab. Masih saya ingat dengan baik saat beliau memanggil satu persatu siswanya untuk kedepan, diajak bicara bahasa arab, sebisanya, semampunya, pokoknya bahasa arab. Itu semua sungguh merupakan pengalaman dan kenangan yang sulit dilupakan. Belum lagi kalam nasyid yang pernah beliau ajarkan kala itu: “Al-jahlu daa’, wal ‘ilmu yasyfii” langsung terngiang di telinga. Seakan perputaran dunia dari 1989 baru terjadi sedetik yang lalu. Subhanallah…!
Baiklah, semoga kontak pertama ini dapat berlanjut dengan silaturrahmi yang langgeng, dalam konteks beliau sebagai guru dan saya sebagai murid. Amin...! (Thohir Afandi, 31 Oktober 2008)
Subscribe to:
Comments (Atom)