Pada musim lebaran yang lalu, silaturrahmi besar dalam bentuk Reuni Alumni '89 PGAN Kediri telah sukses diselenggarakan di Kediri. Para guru dan alumni tumpah ruah dalam kebahagiaan yang hampir tak terlukiskan setelah 20 tahun berpisah. Kejadian yang hampir sama meski tidak serupa juga terjadi di Jakarta pada tanggal 8 November 2009. Segenap alumni PGAN Kediri yang mukim di wilayah Jakarta dan sekitarnya memperoleh kesempatan istimewa untuk bisa sowan dengan al-mukarrom Bpk. M. Sudja'i Habib, mantan Kepala Sekolah PGAN Kediri era tahun 80-an.
Kegiatan silaturrahmi yang lebih layak disebut dengan 'sowan bersama' ini terjadi begitu cepat dan bisa dikatakan tidak melalui proses perencanaan yang baik. Waktunya begitu tiba-tiba dan cepat sekali. Bermula dari kabar bahwa pak Dja'i (sapaan akrab untuk beliau) ada di Jakarta untuk menghadiri undangan Gus Dur yang belum lama ini mantu, salah seorang alumni berusaha untuk sowan ke beliau, sambil menjajagi kemungkinan untuk mengatur pertemuan yang melibatkan seluruh alumni yang ada di Jakarta. Alhamdulillah ternyata beliau menyambut gembira gagasan ini, bahkan beliau berkenan untuk memperpanjang masa singgah di Jakarta sehingga gagasan silaturrahmi bersama dapat diwujudkan.
Sebagaimana pernah disebut dalam posting sebelumnya, di Jakarta terdapat banyak sekali alumni PGAN Kediri, hanya saja sejauh ini yang berhasil di-data dan sering melakukan kontak, termasuk hadir dalam beberapa acara bersama baru mencapai 30-orang. Jaringan yang sudah ada relatif dapat bertahan dengan baik sebagaimana ditunjukkan tingkat kehadiran para alumni dalam berbagai kegiatan bersama yang selama ini sudah berlangsung.
Kembali ke soal gagasan silaturrahmi, bahwa dengan restu dan perkenan beliau yang demikian, akhirnya inisiatif ini diwujudkan dengan mengkoordinir rekan-rekan alumni. Waktu ditentukan yaitu pada tanggal 8 November 2009. Mengenai tempat, semula akan diatur penyelenggaraannya di rumah salah satu alumni, tetapi karena pak Dja'i lebih senang bila acara dapat berlangsung di kediaman dimana beliau tinggal, maka tempat acara disesuaikan. Semua kesibukan dan persiapan terkait dengan berbagai kebutuhan untuk acara dipenuhi seluruhnya oleh jaringan alumni.
Hari Minggu, 8 November 2009, tibalah saat yang dinanti. Satu per satu alumni berdatangan. Datang pertama kali adalah Thohir Afandi, sekaligus sebagai penggagas. Berikutnya adalah Sdr. Achmad Munir, yang sekarang berkarir di Kopassus, Cijantung. Kemudian, Ustadz Imam Abda', disusul Ust. Sufyan Ats-Tsauri, juga Ust. Abu Mansyur. Dalam keadaan yang hadir belum demikian banyak, pak Dja'i dengan antusias ingin mendengar berita terkini dan cerita perjalanan hidup para alumni hingga pertemuan pada detik pertemuan tersebut. Hal yang agak mengagetkan beliau adalah ketika Sdr. Achmad Munir mengenalkan diri bahwa sekarang sedang meniti karir militer berpangkat Mayor di Kopassus Cijantung. Tentu berita ini agak jarang beliau dengar, mengingat kebanyakan alumni PGAN Kediri kalau tidak jadi guru, jadi dosen, jadi Kyai/Ustadz, atau profesi sejenisnya, dan tidak jauh-jauh dari itu.
Setelah seluruh alumni dinyatakan telah datang sesuai jumlah konfirmasi yang masuk, acara dimulai. Acara silaturrahmi secara formalitas diisi dengan sambutan wakil alumni, lalu sambutan dan wejangan dari pak Dja'i, dan diakhiri dengan do'a yang juga dipimpin oleh beliau. Namun secara khusus beliau juga minta agar dibacakan do'a yang dipimpin oleh salah satu alumni untuk secara khusus mendo'akan beliau agar segera diberikan kesembuhan dari cobaan sakit berupa tidak berfungsinya indra penglihatan beliau akibat operasi katarak beberapa waktu yang lalu. Beliau menyampaikan bahwa dengan cobaan tersebut, banyak aktifitas sosial keagamaan yang sekarang tidak lagi bisa beliau tunaikan, seperti memberi ceramah, menjadi khatib, membaca al-qur'an, al hadits, dll. Oleh karena itu, akhirnya Ust. Imam Abda' memimpin bacaan surat al fatihah dan dilanjutkan dengan bacaan do'a untuk maksud sebagaimana yang pak Dja'i minta.
Di luar suasana formil pengacaraan, situasi silaturrahmi berlangsung sangat cair. Pak Dja'i yang didampingi oleh istri beliau dengan nada yang 'cair' mengajak bercengkerama para alumni yang hadir. Di sela-sela pembicaraan, beliau mengeluhkan mengapa sejak selesai dari PGAN Kediri saat itu, sedikit sekali alumni yang datang bersilaturrahmi ke beliau. Terhadap pertanyaan ini, salah satu respon yang mengemuka adalah adanya rasa 'segan' untuk bertemu langsung dengan beliau. Segan dalam arti perasaan tawadlu' yang berlebih dari seorang murid kepada gurunya. Perasaan demikian yang menjadi kendala sehingga kebanyakan sungkan untuk sowan langsung dengan beliau. Padahal suasana batin yang riil dari para alumni sebenarnya mereka ingin sekali bersilaturrahmi dan sowan ke beliau. Dengan pemahaman yang demikian, pak Dja'i mewanti-wanti agar para alumni tidak sungkan secara berlebih, beliau sama sekali tidak ada masalah kapan-pun bila ada yang datang ke kediaman di Ngronggo Kediri untuk bersilaturrahmi, bahkan merasa senang. Bahkan beliau menghimbau agar setiap lebaran ke depan, dimana pada momentum tersebut kebanyakan para alumni mudik kampung, agar menyempatkan diri untuk bisa bertatap muka, syukur bila bisa dilakukan secara berkelompok.
Beberapa respon dan komentar alumni setelah acara silaturrahmi kemarin berakhir adalah betapa terharunya bisa memperoleh kesempatan bercengkerama langsung dengan pak Dja'i. Dimana hal yang demikian sangat jarang terjadi, bahkan saat masih sama-sama di Kediri sekalipun. Mudah-mudahan hubungan tali silaturrahmi ke depan dapat terus dijalin dan dikembangkan, dan kegiatan-kegiatan kealumnian juga dapat digalakkan. Betapapun PGAN Kediri sekarang sudah tidak ada lagi, tetapi alumninya masih eksis dan dapat berperan di mana-mana sesuai bidang profesi yang ditekuninya. (Thohir Afandi, 10/11/2009)
Tuesday, November 10, 2009
Monday, September 28, 2009
Luar Biasa: Reuni 20 Tahun Alumni 1989 PGAN Kediri
Awalnya sempat ragu tentang kesuksesan rencana pelaksanaan Reuni 20 Tahun Alumni 1989 PGAN Kediri pada tanggal 24 September 2009. Keraguan ini cukup beralasan, karena rentang waktu 20 tahun bukanlah waktu yang pendek dan singkat, akurasi data alamat domisili menjadi masalah utama. Banyak diantara alumni yang sudah menyebar di berbagai wilayah, diantara yang berhasil teridentifikasi ada yang di Gorontalo, Kaltim, Kalsel, Palembang, Jakarta, Cirebon, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Jombang, Kediri, Nganjuk, Blitar, Tulung Agung, Trenggalek, dan berbagai daerah lainnya.
Waktupun tiba saat pelaksanaan, Kamis, 24 September 2009. Dengan perasaan dag-dig-dug dan penuh tanya, mungkinkah acara akan berlangsung sukses. Tiba di depan lokasi, tetamu sudah disambut dengan baliho besar "Reuni Abiturient PGAN Kediri 1989", spanduk "Selamat Datang Abiturent PGAN Kediri 1989", umbul-umbul, dan beberapa ornament lain yang memberi kesan bahwa acara akan berlangsung meriah. Mendekati gedung tempat acara, Aula MAN 3 Kediri, sudah tampak berjajar meja-meja registrasi yang dibagi menurut kelas, mulai kelas III/1 hingga kelas III/9, masing-masing dijaga oleh wakil dari kelas bersangkutan. Alunan musik khas lebaran, qosidah, mengalun merdu di tengah suasana menunggu kehadiran tamu-tamu undangan. Hiburan musik ini juga dikomandani oleh salah seorang alumni 1989, Sdr. Abd. Haris Nasution.
Waktu menunjukkan pukul 8.30 WIB, tamu mulai berdatangan. Pemandangan mengharukan sekaligus membahagiakan mulai tampak dimana-mana. Satu tamu bertatap muka dengan tamu lain, raut muka keheranan, bingung, bangga, bahagia, dan tawa, semua menyatu jadi satu. Luapan rasa kangen diwujudkan dalam berbagai bentuk ungkapan, mulai dari ucapan verbal khas Kediri hingga simbol-simbol keakraban secara fisik seperti "cipika-cipiki" juga jamak terlihat dimana-mana. Sungguh semua dapat memaklumi, perpisahan selama 20 tahun telah menjadikan suasana batin pada keadaan kangen yang luar biasa. Dan reuni ini menjadi kesempatan sekaligus obat yang pas untuk menumpahkan suasana batin yang demikian. Meski secara fisik masih relatif mudah mengenali wajah, tetapi diakui banyak pihak bahwa yang tersulit adalah mengenali nama. Oleh karenanya panitia sudah mengantisipasi hal tersebut, dan kepada semua alumni diharuskan menempelkan label nama yang sudah disiapkan oleh panitia di dada masing-masing untuk memudahkan proses "pengenalan kembali" teman lama yang telah 20 tahun berpisah. Ini di luar dugaan ternyata betul-betul sangat membantu.
Di sudut lain, tampak mulai hadir undangan dari unsur para guru. Hadir pertama kali adalah Bapak Tamam Syafi'i, disusul Bpk. Ni'am Hamzah, lalu Bpk. Samudji, Bpk. Djazuli Djazim, Bpk. Dalail, Bpk. Ngadenan, Bpk. M. Khodir, Ibu Djuannah. Saat mendekati acara dimulai, hadir Bpk. M. Sudja'i Habib beserta Ibu. Kehadiran beliau ini disambut dengan luar biasa, bak para santri berkesempatan sungkem dengan Kyai-nya. Para alumni menyerbu ke depan berebut 'berkah' bisa sungkem dengan pak Dja'i (panggilan akrab beliau). Terakhir juga hadir Bpk. Qusyairi Bakrie. Secara umum, pemandangan yang tampak adalah perubahan penampilan dari beliau-beliau, guratan penuaan hampir tampak di semua wajah Bapak dan Ibu guru. Maklum, sang waktu terus berlari, dan saat kemarin itu waktu telah lari sejauh 20 tahun lamanya. Hampir semuanya juga sudah memasuki masa purna bhakti (pensiun), kecuali Bpk. Djazuli Djazim dan Ibu Djuannah.
Pemandangan yang tidak kalah mengharukan adalah saat seksi acara, Sdr. Zamroni, menyampaikan pengumuman bahwa dari 450-an alumni tahun 1989, banyak diantaranya telah mendahului dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Tidak kurang dari 11 alumni telah meninggal dunia, dan disebutkan satu per satu, disertai tayangan foto memori masing-masing dalam media layar lebar, termasuk diantaranya dokumentasi kegiatan ziarah kubur ke beberapa makam yang dapat dijangkau oleh panitia. Setelah itu, juga diumumkan nama-nama dewan guru yang telah pula meninggal dunia. Rangkaian informasi duka ini dimaksudkan sebagai media 'introduksi' terhadap mata acara berikutnya yaitu doa bersama untuk mereka, berupa pembacaan kalimah thoyyibah dalam bentuk tahlil yang dipimpin oleh Gus Qowim (salah satu alumni dari kelas III/3). Acara tahlil sendiri juga tidak kalah mengharukannya. Saat-saat dibacakan kalimah doa, tidak sedikit yang menitikkan air mata, baik di kalangan alumni maupun di bapak/ibu guru. Gambaran wajah mereka yang telah mendahului begitu segar dalam ingatan, apalagi di layar lebar secara terus menerus dan bergantian tayangan wajah mereka dimunculkan satu per satu.
Tahap acara berikutnya adalah sambutan Ketua Panitia, Sdr. Thohir Afandi. Beberapa hal yang disampaikan dalam sambutan adalah adanya keinginan untuk me-revitalisasi kelembagaan jaringan alumni PGAN Kediri. Reuni ini diharapkan menjadi langkah awal menuju ke arah itu. Juga disampaikan bahwa ke dapan diharapkan setiap 5 tahun sekali dapat diselenggarakan acara serupa, tetapi tidak harus dalam format acara formal, bisa juga dalam bentuk "Family Gathering", kumpul-kumpul santai. Pada kesempatan tersebut dilaporkan juga tentang situasi pendanaan untuk kegiatan tersebut, disebutkan bahwa iuran sukarela yang masuk mencapai Rp 18-an juta, dan belanja Rp 14-an juta, sehingga masih terdapat saldo dana sebesar Rp 4-an juta. Sisa dana yang ada akan digunakan untuk dana awal pengelolaan biodata baru yang dikumpulkan saat reuni, juga penggandaan DVD/VCD rekaman kegiatan Reuni. Namun diharapkan dana ini dapat dipertahankan untuk bekal awal bagi penyelenggaraan Reuni 5 tahun berikutnya, dan akan mempercayakan penyimpanannya kepada Bendahara Panitia, syukur apabila kelembagaan pengurus alumni angkatan 1989 dapat terbentuk sehingga sisa dana ini bisa menjadi bekal awal. Dilaporkan pula kepada para dewan guru, bahwa saat ini posisi alumni dari satu angkatan 1989 sudah menyebar di berbagai daerah, dengan pos pekerjaan/jabatan yang sangat beragam. Ada yang jadi politisi, guru, pengusaha, kyai, dosen, dan lain-lain. Tentu dengan situasi itu jaringan alumni ini menjadi sangat strategis dan penting untuk dijaga.
Pada kesempatan berikutnya, Bpk. M. Sudja'i Habib selaku mantan Kepala PGAN Kediri era 1989 itu diminta untuk memberikan pesan dan kesan dalam bentuk "mauidhoh hasanah". Dalam pesannya beliau bercerita banyak tentang cerita sukses dari para alumni. Dalam berbagai kesempatan beliau sering berjumpa dengan para alumni, termasuk saat beliau menunaikan ibadah haji. Cerita sukses tersebut menjadi kebanggaan beliau bahwa pendidikan yang telah diberikan punya makna dan guna bagi masa depan anak didik, dan lebih-lebih bagi kepentingan bangsa dalam arti luas. Beliau menghimbau kiranya masing-masing dapat terus berkiprah sesuai bidang dan keahlian masing-masing. Lebih khusus beliau juga menyampaikan doa agar para alumni semuanya tanpa kecuali dapat diberikan kelonggaran oleh Allah Swt untuk menunaikan ibadah haji, ibadah idaman bagi setiap insan muslim yang mampu memenuhinya.
Acara dilanjutkan dengan ritual bersalam-salaman. Para guru berjajar di depan, dan para alumni mengular panjang untuk 'ngantri' memperoleh giliran sungkem ke masing-masing guru. Bersalam-salaman ini ternyata berlanjut panjang antara sesama alumni, sehingga barisan memanjang hingga jauh keluar dari gedung aula tempat acara. Memontum ini benar-benar menjadi saat-saat untuk menumpahkan rasa kangen antara satu dengan lainnya. Hal unik yang tampak adalah suasana akrab antara alumni lelaki dan alumni perempuan, dimana suasana yang demikian dahulu tidak pernah terjadi mengingat sistem pembagian kelas menggunakan pemisahan antara kelas siswa laki-laki dan kelas siswi perempuan. Dengan suasana demikian, akhirnya terungkap pula cerita-cerita kecil di balik itu dalam suasana guyonan yang cair, yang selama ini tidak tampak ke permukaan.
Mengakhiri rangkaian acara reuni, masing-masing kelas diberikan kesempatan untuk berkumpul sendiri-sendiri. Ini dimaksudkan agar suasana ramah tamah dapat lebih bermakna dan lebih 'berkesan', sekaligus agar masing-masing dapat menyusun 'arrangement' agenda silaturrahmi ke dapan, sesuai kesepakatan masing-masing kelas. Sementara silaturrahmi untuk level satu angkatan diharapkan akan dilaksakan setiap 5 tahun sekali. Singkat kata, acara Reuni ini sungguh merupakan momentum yang LUAR BIASA...! Ucapan terima kasih dan ucapan selamat layak diberikan kepada panitia. Dan perlu diketahui oleh teman-teman, bahwa di balik sukses acara kemarin adalah peran besar dan kerja tanpa lelah teman kita, Sdr. Jumadi, yang bersedia menjadi Wakil Ketua Panitia dan dalam prakteknya bersedia menjadi pelaksana harian dari setiap rentetan persiapan acara reuni, tentu ini tidak bermaksud mengurangi apresiasi kepada teman panitia yang lain. Sekali lagi selamat atas sukses acara Reuni 24 September 2009 kemarin.
(Jakarta, 28 September 2009, by Thohir Afandi)
Waktupun tiba saat pelaksanaan, Kamis, 24 September 2009. Dengan perasaan dag-dig-dug dan penuh tanya, mungkinkah acara akan berlangsung sukses. Tiba di depan lokasi, tetamu sudah disambut dengan baliho besar "Reuni Abiturient PGAN Kediri 1989", spanduk "Selamat Datang Abiturent PGAN Kediri 1989", umbul-umbul, dan beberapa ornament lain yang memberi kesan bahwa acara akan berlangsung meriah. Mendekati gedung tempat acara, Aula MAN 3 Kediri, sudah tampak berjajar meja-meja registrasi yang dibagi menurut kelas, mulai kelas III/1 hingga kelas III/9, masing-masing dijaga oleh wakil dari kelas bersangkutan. Alunan musik khas lebaran, qosidah, mengalun merdu di tengah suasana menunggu kehadiran tamu-tamu undangan. Hiburan musik ini juga dikomandani oleh salah seorang alumni 1989, Sdr. Abd. Haris Nasution.
Waktu menunjukkan pukul 8.30 WIB, tamu mulai berdatangan. Pemandangan mengharukan sekaligus membahagiakan mulai tampak dimana-mana. Satu tamu bertatap muka dengan tamu lain, raut muka keheranan, bingung, bangga, bahagia, dan tawa, semua menyatu jadi satu. Luapan rasa kangen diwujudkan dalam berbagai bentuk ungkapan, mulai dari ucapan verbal khas Kediri hingga simbol-simbol keakraban secara fisik seperti "cipika-cipiki" juga jamak terlihat dimana-mana. Sungguh semua dapat memaklumi, perpisahan selama 20 tahun telah menjadikan suasana batin pada keadaan kangen yang luar biasa. Dan reuni ini menjadi kesempatan sekaligus obat yang pas untuk menumpahkan suasana batin yang demikian. Meski secara fisik masih relatif mudah mengenali wajah, tetapi diakui banyak pihak bahwa yang tersulit adalah mengenali nama. Oleh karenanya panitia sudah mengantisipasi hal tersebut, dan kepada semua alumni diharuskan menempelkan label nama yang sudah disiapkan oleh panitia di dada masing-masing untuk memudahkan proses "pengenalan kembali" teman lama yang telah 20 tahun berpisah. Ini di luar dugaan ternyata betul-betul sangat membantu.
Di sudut lain, tampak mulai hadir undangan dari unsur para guru. Hadir pertama kali adalah Bapak Tamam Syafi'i, disusul Bpk. Ni'am Hamzah, lalu Bpk. Samudji, Bpk. Djazuli Djazim, Bpk. Dalail, Bpk. Ngadenan, Bpk. M. Khodir, Ibu Djuannah. Saat mendekati acara dimulai, hadir Bpk. M. Sudja'i Habib beserta Ibu. Kehadiran beliau ini disambut dengan luar biasa, bak para santri berkesempatan sungkem dengan Kyai-nya. Para alumni menyerbu ke depan berebut 'berkah' bisa sungkem dengan pak Dja'i (panggilan akrab beliau). Terakhir juga hadir Bpk. Qusyairi Bakrie. Secara umum, pemandangan yang tampak adalah perubahan penampilan dari beliau-beliau, guratan penuaan hampir tampak di semua wajah Bapak dan Ibu guru. Maklum, sang waktu terus berlari, dan saat kemarin itu waktu telah lari sejauh 20 tahun lamanya. Hampir semuanya juga sudah memasuki masa purna bhakti (pensiun), kecuali Bpk. Djazuli Djazim dan Ibu Djuannah.
Pemandangan yang tidak kalah mengharukan adalah saat seksi acara, Sdr. Zamroni, menyampaikan pengumuman bahwa dari 450-an alumni tahun 1989, banyak diantaranya telah mendahului dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Tidak kurang dari 11 alumni telah meninggal dunia, dan disebutkan satu per satu, disertai tayangan foto memori masing-masing dalam media layar lebar, termasuk diantaranya dokumentasi kegiatan ziarah kubur ke beberapa makam yang dapat dijangkau oleh panitia. Setelah itu, juga diumumkan nama-nama dewan guru yang telah pula meninggal dunia. Rangkaian informasi duka ini dimaksudkan sebagai media 'introduksi' terhadap mata acara berikutnya yaitu doa bersama untuk mereka, berupa pembacaan kalimah thoyyibah dalam bentuk tahlil yang dipimpin oleh Gus Qowim (salah satu alumni dari kelas III/3). Acara tahlil sendiri juga tidak kalah mengharukannya. Saat-saat dibacakan kalimah doa, tidak sedikit yang menitikkan air mata, baik di kalangan alumni maupun di bapak/ibu guru. Gambaran wajah mereka yang telah mendahului begitu segar dalam ingatan, apalagi di layar lebar secara terus menerus dan bergantian tayangan wajah mereka dimunculkan satu per satu.
Tahap acara berikutnya adalah sambutan Ketua Panitia, Sdr. Thohir Afandi. Beberapa hal yang disampaikan dalam sambutan adalah adanya keinginan untuk me-revitalisasi kelembagaan jaringan alumni PGAN Kediri. Reuni ini diharapkan menjadi langkah awal menuju ke arah itu. Juga disampaikan bahwa ke dapan diharapkan setiap 5 tahun sekali dapat diselenggarakan acara serupa, tetapi tidak harus dalam format acara formal, bisa juga dalam bentuk "Family Gathering", kumpul-kumpul santai. Pada kesempatan tersebut dilaporkan juga tentang situasi pendanaan untuk kegiatan tersebut, disebutkan bahwa iuran sukarela yang masuk mencapai Rp 18-an juta, dan belanja Rp 14-an juta, sehingga masih terdapat saldo dana sebesar Rp 4-an juta. Sisa dana yang ada akan digunakan untuk dana awal pengelolaan biodata baru yang dikumpulkan saat reuni, juga penggandaan DVD/VCD rekaman kegiatan Reuni. Namun diharapkan dana ini dapat dipertahankan untuk bekal awal bagi penyelenggaraan Reuni 5 tahun berikutnya, dan akan mempercayakan penyimpanannya kepada Bendahara Panitia, syukur apabila kelembagaan pengurus alumni angkatan 1989 dapat terbentuk sehingga sisa dana ini bisa menjadi bekal awal. Dilaporkan pula kepada para dewan guru, bahwa saat ini posisi alumni dari satu angkatan 1989 sudah menyebar di berbagai daerah, dengan pos pekerjaan/jabatan yang sangat beragam. Ada yang jadi politisi, guru, pengusaha, kyai, dosen, dan lain-lain. Tentu dengan situasi itu jaringan alumni ini menjadi sangat strategis dan penting untuk dijaga.
Pada kesempatan berikutnya, Bpk. M. Sudja'i Habib selaku mantan Kepala PGAN Kediri era 1989 itu diminta untuk memberikan pesan dan kesan dalam bentuk "mauidhoh hasanah". Dalam pesannya beliau bercerita banyak tentang cerita sukses dari para alumni. Dalam berbagai kesempatan beliau sering berjumpa dengan para alumni, termasuk saat beliau menunaikan ibadah haji. Cerita sukses tersebut menjadi kebanggaan beliau bahwa pendidikan yang telah diberikan punya makna dan guna bagi masa depan anak didik, dan lebih-lebih bagi kepentingan bangsa dalam arti luas. Beliau menghimbau kiranya masing-masing dapat terus berkiprah sesuai bidang dan keahlian masing-masing. Lebih khusus beliau juga menyampaikan doa agar para alumni semuanya tanpa kecuali dapat diberikan kelonggaran oleh Allah Swt untuk menunaikan ibadah haji, ibadah idaman bagi setiap insan muslim yang mampu memenuhinya.
Acara dilanjutkan dengan ritual bersalam-salaman. Para guru berjajar di depan, dan para alumni mengular panjang untuk 'ngantri' memperoleh giliran sungkem ke masing-masing guru. Bersalam-salaman ini ternyata berlanjut panjang antara sesama alumni, sehingga barisan memanjang hingga jauh keluar dari gedung aula tempat acara. Memontum ini benar-benar menjadi saat-saat untuk menumpahkan rasa kangen antara satu dengan lainnya. Hal unik yang tampak adalah suasana akrab antara alumni lelaki dan alumni perempuan, dimana suasana yang demikian dahulu tidak pernah terjadi mengingat sistem pembagian kelas menggunakan pemisahan antara kelas siswa laki-laki dan kelas siswi perempuan. Dengan suasana demikian, akhirnya terungkap pula cerita-cerita kecil di balik itu dalam suasana guyonan yang cair, yang selama ini tidak tampak ke permukaan.
Mengakhiri rangkaian acara reuni, masing-masing kelas diberikan kesempatan untuk berkumpul sendiri-sendiri. Ini dimaksudkan agar suasana ramah tamah dapat lebih bermakna dan lebih 'berkesan', sekaligus agar masing-masing dapat menyusun 'arrangement' agenda silaturrahmi ke dapan, sesuai kesepakatan masing-masing kelas. Sementara silaturrahmi untuk level satu angkatan diharapkan akan dilaksakan setiap 5 tahun sekali. Singkat kata, acara Reuni ini sungguh merupakan momentum yang LUAR BIASA...! Ucapan terima kasih dan ucapan selamat layak diberikan kepada panitia. Dan perlu diketahui oleh teman-teman, bahwa di balik sukses acara kemarin adalah peran besar dan kerja tanpa lelah teman kita, Sdr. Jumadi, yang bersedia menjadi Wakil Ketua Panitia dan dalam prakteknya bersedia menjadi pelaksana harian dari setiap rentetan persiapan acara reuni, tentu ini tidak bermaksud mengurangi apresiasi kepada teman panitia yang lain. Sekali lagi selamat atas sukses acara Reuni 24 September 2009 kemarin.
(Jakarta, 28 September 2009, by Thohir Afandi)
Tuesday, August 25, 2009
Bpk. H. Sudja'i Habib 'Confirmed' Berkenan Hadir
Pada hari Minggu, 23 Agustus 2009, sekitar pukul 9.00 WIB telepon genggam berbunyi, pertanda seseorang sedang menghubungi. Sayang pada saat yang sama, si-empunya sedang di kamar mandi. Begitu keluar kamar mandi, ditengoklah hp.... aduh.... sungguh di luar dugaan. Ternyata terdapat miscall dari orang yang sangat dikenal, orang yang sangat istimewa, orang yang sangat dihormati, yaitu dari Bpk. M. Sudja'i Habib. Segera dengan buru-buru miscall tersebut dibalas dengan dial balik. Sayang di ujung sana terdengar nada sibuk, pertanda ponsel sedang digunakan. Tidak lama kemudian ternyata ponsel pak Dja'i (demikian panggilan akrab kami untuk beliau) terlebih dahulu kembali memanggil. Tentu ini sangat istimewa, sungguh...!
Diawali dengan pembicaraan ringan tentang kabar sana dan kabar sini, topik bergulir ke arah info seputar jaringan teman-teman sesama alumni PGAN Kediri, baik yang di Yogyakarta, di Surabaya, di Malang, di Jakarta, dan lain-lain. Lebih mengejutkan lagi, rupanya berita tentang rencana penyelenggaraan Reuni Lulusan '89 PGAN Kediri sudah sampai ke telinga beliau. Menurut beliau dalam suatu kesempatan Kepala MAN 3 Kediri yang menyampaikan informasi tersebut, dikatakannya bahwa pihak panitia telah menyampaikan surat permohonan penggunaan Aula MAN 3 Kediri untuk kegiatan dimaksud. Dalam hati terbersit rasa malu, kok lebih dulu beliau tahu tidak dari panitia, tetapi dari pihak lain meskipun sebenarnya juga masih dalam rumpun keluarga eks PGAN Kediri. Tapi tak apalah, yang penting beliau akhirnya telah mendengar dan mengetahui bahwa memang akan ada kegiatan tersebut. Kesempatan tersebut sekaligus saya gunakan untuk menjelaskan tentang rencana, progress, dan langkah-langkah yang sedang ditempuh oleh panitia, termasuk mengharapkan kehadiran beliau pada kesempatan tersebut, baik sebagai undangan maupun sebagai pembicara. Alhamdulillah, dengan senang hati beliau bersedia dan memberikan apresiasinya atas kerja teman-teman panitia.
Pada kesempatan tersebut beliau sempat menanyakan alasan mengapa yang diundang hanya satu angkatan saja, padahal banyak sekali alumni angkatan yang lain juga mengharapkan ada yang menggagas acara serupa. Menanggapi hal tersebut, dijelaskan bahwa hal tersebut bukan karena tidak sengaja, tetapi memang 'by design' sudah ditetapkan demikian. Beberapa alasan yang mendasari keputusan tersebut antara lain adalah: (i) sudah lama sekali, mungkin sudah 20an tahun, jaringan alumni PGAN Kediri tidak mengadakan kegiatan Reuni dalam arti formal, sehingga perlu dilakukan 'test case' untuk mengukur ketersambungan antar jaringan; (ii) kepastian jaringan akan sangat menentukan seberapa besar persiapan yang perlu dilakukan, dalam situasi kepastian jaringan alumni yang masih belum jelas maka perlu dibuat ukuran batasan maksimal, dalam hal ini menggunakan ukuran angkatan; (iii) angkatan/lulusan 1989 terdiri dari 9 kelas, masing-masing kelas terdiri dari 48 siswa, sehingga total alumni satu angkatan kurang lebih 500an orang, dengan pertimbangan itu kalau masing-masing akan hadir bersama istri/suami plus satu anak saja, maka total yang akan hadir bisa mencapai 1400an orang. Atas pertimbangan itu maka untuk tahap awal ini Reuni akan dilakukan untuk satu angkatan dulu, tetapi dengan tetap mengundang wakil-wakil dari angkatan lain dengan harapan agar semangat serupa dapat berkobar di kalangan alumni angkatan yang berbeda, dan diharapkan dapat digagas kegiatas serupa pula di angkatan masing-masing. Dengan begitu, jaringan alumni bisa di-jahit lagi dan dibentuk komunitas alumni PGAN Kediri dalam konteks yang lebih luas.
Menutup pembicaraan via telepon ini, pak Dja'i berkenan memanfaatkan momentum bulan suci Ramadhan 1430 H ini untuk memimpin bacaan doa dari Kediri dan di-amin-i di Tangerang, Prov. Banten. Tentu momentum ini sangat mengesankan, dan serta merta mampu menyedot sukma ini seakan suasana batin kembali ke jaman di PGAN Kediri 20 tahun yang lalu. Terima kasih pak Dja'i, bimbinganmu masih senantiasa kami perlukan. Sampai bertemu dalam Reuni tanggal 24 September 2009 nanti. (By Thohir Afandi, Jakarta, 25/8/2009)
Diawali dengan pembicaraan ringan tentang kabar sana dan kabar sini, topik bergulir ke arah info seputar jaringan teman-teman sesama alumni PGAN Kediri, baik yang di Yogyakarta, di Surabaya, di Malang, di Jakarta, dan lain-lain. Lebih mengejutkan lagi, rupanya berita tentang rencana penyelenggaraan Reuni Lulusan '89 PGAN Kediri sudah sampai ke telinga beliau. Menurut beliau dalam suatu kesempatan Kepala MAN 3 Kediri yang menyampaikan informasi tersebut, dikatakannya bahwa pihak panitia telah menyampaikan surat permohonan penggunaan Aula MAN 3 Kediri untuk kegiatan dimaksud. Dalam hati terbersit rasa malu, kok lebih dulu beliau tahu tidak dari panitia, tetapi dari pihak lain meskipun sebenarnya juga masih dalam rumpun keluarga eks PGAN Kediri. Tapi tak apalah, yang penting beliau akhirnya telah mendengar dan mengetahui bahwa memang akan ada kegiatan tersebut. Kesempatan tersebut sekaligus saya gunakan untuk menjelaskan tentang rencana, progress, dan langkah-langkah yang sedang ditempuh oleh panitia, termasuk mengharapkan kehadiran beliau pada kesempatan tersebut, baik sebagai undangan maupun sebagai pembicara. Alhamdulillah, dengan senang hati beliau bersedia dan memberikan apresiasinya atas kerja teman-teman panitia.
Pada kesempatan tersebut beliau sempat menanyakan alasan mengapa yang diundang hanya satu angkatan saja, padahal banyak sekali alumni angkatan yang lain juga mengharapkan ada yang menggagas acara serupa. Menanggapi hal tersebut, dijelaskan bahwa hal tersebut bukan karena tidak sengaja, tetapi memang 'by design' sudah ditetapkan demikian. Beberapa alasan yang mendasari keputusan tersebut antara lain adalah: (i) sudah lama sekali, mungkin sudah 20an tahun, jaringan alumni PGAN Kediri tidak mengadakan kegiatan Reuni dalam arti formal, sehingga perlu dilakukan 'test case' untuk mengukur ketersambungan antar jaringan; (ii) kepastian jaringan akan sangat menentukan seberapa besar persiapan yang perlu dilakukan, dalam situasi kepastian jaringan alumni yang masih belum jelas maka perlu dibuat ukuran batasan maksimal, dalam hal ini menggunakan ukuran angkatan; (iii) angkatan/lulusan 1989 terdiri dari 9 kelas, masing-masing kelas terdiri dari 48 siswa, sehingga total alumni satu angkatan kurang lebih 500an orang, dengan pertimbangan itu kalau masing-masing akan hadir bersama istri/suami plus satu anak saja, maka total yang akan hadir bisa mencapai 1400an orang. Atas pertimbangan itu maka untuk tahap awal ini Reuni akan dilakukan untuk satu angkatan dulu, tetapi dengan tetap mengundang wakil-wakil dari angkatan lain dengan harapan agar semangat serupa dapat berkobar di kalangan alumni angkatan yang berbeda, dan diharapkan dapat digagas kegiatas serupa pula di angkatan masing-masing. Dengan begitu, jaringan alumni bisa di-jahit lagi dan dibentuk komunitas alumni PGAN Kediri dalam konteks yang lebih luas.
Menutup pembicaraan via telepon ini, pak Dja'i berkenan memanfaatkan momentum bulan suci Ramadhan 1430 H ini untuk memimpin bacaan doa dari Kediri dan di-amin-i di Tangerang, Prov. Banten. Tentu momentum ini sangat mengesankan, dan serta merta mampu menyedot sukma ini seakan suasana batin kembali ke jaman di PGAN Kediri 20 tahun yang lalu. Terima kasih pak Dja'i, bimbinganmu masih senantiasa kami perlukan. Sampai bertemu dalam Reuni tanggal 24 September 2009 nanti. (By Thohir Afandi, Jakarta, 25/8/2009)
Monday, August 10, 2009
Silaturrahmi Alumni PGAN Kediri di Jakarta & Sekitarnya
Pada hari Minggu, 9 Agustus 2009 bertempat di kediaman salah satu anggota (Thohir Afandi), para Alumni PGAN Kediri di Jakarta dan Sekitarnya mengadakan kegiatan silaturrahmi bersama keluarga. Kegiatan ini dilangsungkan setelah hampir satu tahun tidak ada kegiatan kealumnian, disamping karena adanya penambahan data baru anggota alumni yang ada di Jakarta dan sekitarnya.
Pada temu silaturrahmi kali ini, beberapa wajah baru yang hadir, a.l. Siti Masruroh (alumni '89, tinggal di Sawangan, Depok), Nur Habibah (alumni '89, tinggal di Pasar Rumput, Jkt.), Supar (alumni '91, tinggal di Lb. Bulus, Jkt.), Mustain (alumni '89, Kby. Baru, Jkt.), Sodik (alumni '91, tinggal di Ulu Jami, Cipulir), dan Moch. Bukhori Muslim (alumni '95, sudah periode MAN 3, tinggal di Pl. Gadung, Jkt.). Sementara itu, data baru alumni lainnya tetapi berhalangan hadir a.l. adalah Ekrom Maftuhi (alumni '88, tinggal di Bekasi), Imam Bukhori (alumni '88), Effendi (alumni '88?, tinggal di Bekasi), Muslikah (alumni '89?, tinggal di Bekasi), Abdul Basith (alumni '89), dan Sita Umi Hanik (alumni '89, tinggal di Kota Bumi, Tangerang). Sementara itu anggota alumni (data lama) yang hadir adalah Thohir Afandi selaku tuan rumah (alumni '89, tinggal di Ciledug, Tangerang), Moh. Ali Ridlo (alumni '89, tinggal di Ps. Senen, Jkt.), Imam Abda' (alumni '91, tinggal di Ciputat, Tangerang), Abu Mansyur (alumni '90, tinggal di Cirendeu, Tangerang), dan Nining Laily Hadi (alumni '90, tinggal di Bekasi).
Dalam temu silaturrahmi ini dibahas beberapa hal, terutama upaya mencari wadah yang pas bagi usaha mempererat tali silaturrahmi yang sudah terjalin diantara sesama alumni, khususnya yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Dari sekian banyak masukan, akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa perlu (baca: wajib) diselenggarakan forum pertemuan tahunan dengan mengambil momentum setiap bulan Syawwal, sekaligus dimaksudkan sebagai media halal-bi-halal diantara sesama alumni. Namun demikian, mengingat temu tahunan ini dipandang terlalu lama dari segi waktu, banyak yang mengharapkan agar tetap dapat diakomodir pertemuan silaturrahmi sejenis setiap enam bulan sekali. Hal ini atas pertimbangan untuk pemerataan kesempatan menjadi tuan rumah temu silaturrahmi tersebut. Tentu akan sangat lama untuk bisa menjadi tuan rumah bila temu silaturrahmi hanya diadakan sekali dalam setahun. Disamping itu, disepakati pula bahwa format acara silaturrahmi ke depan akan diisi dengan acara doa bersama, khususnya bagi para guru dan teman-teman sesama alumni yang telah tiada.
Mudah-mudahan gagasan dan kesepakatan tersebut akhirnya dapat diwujudkan dengan baik di waktu-waktu yang akan datang. (Jakarta, 10 Agustus 2009)
Pada temu silaturrahmi kali ini, beberapa wajah baru yang hadir, a.l. Siti Masruroh (alumni '89, tinggal di Sawangan, Depok), Nur Habibah (alumni '89, tinggal di Pasar Rumput, Jkt.), Supar (alumni '91, tinggal di Lb. Bulus, Jkt.), Mustain (alumni '89, Kby. Baru, Jkt.), Sodik (alumni '91, tinggal di Ulu Jami, Cipulir), dan Moch. Bukhori Muslim (alumni '95, sudah periode MAN 3, tinggal di Pl. Gadung, Jkt.). Sementara itu, data baru alumni lainnya tetapi berhalangan hadir a.l. adalah Ekrom Maftuhi (alumni '88, tinggal di Bekasi), Imam Bukhori (alumni '88), Effendi (alumni '88?, tinggal di Bekasi), Muslikah (alumni '89?, tinggal di Bekasi), Abdul Basith (alumni '89), dan Sita Umi Hanik (alumni '89, tinggal di Kota Bumi, Tangerang). Sementara itu anggota alumni (data lama) yang hadir adalah Thohir Afandi selaku tuan rumah (alumni '89, tinggal di Ciledug, Tangerang), Moh. Ali Ridlo (alumni '89, tinggal di Ps. Senen, Jkt.), Imam Abda' (alumni '91, tinggal di Ciputat, Tangerang), Abu Mansyur (alumni '90, tinggal di Cirendeu, Tangerang), dan Nining Laily Hadi (alumni '90, tinggal di Bekasi).
Dalam temu silaturrahmi ini dibahas beberapa hal, terutama upaya mencari wadah yang pas bagi usaha mempererat tali silaturrahmi yang sudah terjalin diantara sesama alumni, khususnya yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Dari sekian banyak masukan, akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa perlu (baca: wajib) diselenggarakan forum pertemuan tahunan dengan mengambil momentum setiap bulan Syawwal, sekaligus dimaksudkan sebagai media halal-bi-halal diantara sesama alumni. Namun demikian, mengingat temu tahunan ini dipandang terlalu lama dari segi waktu, banyak yang mengharapkan agar tetap dapat diakomodir pertemuan silaturrahmi sejenis setiap enam bulan sekali. Hal ini atas pertimbangan untuk pemerataan kesempatan menjadi tuan rumah temu silaturrahmi tersebut. Tentu akan sangat lama untuk bisa menjadi tuan rumah bila temu silaturrahmi hanya diadakan sekali dalam setahun. Disamping itu, disepakati pula bahwa format acara silaturrahmi ke depan akan diisi dengan acara doa bersama, khususnya bagi para guru dan teman-teman sesama alumni yang telah tiada.
Mudah-mudahan gagasan dan kesepakatan tersebut akhirnya dapat diwujudkan dengan baik di waktu-waktu yang akan datang. (Jakarta, 10 Agustus 2009)
Monday, July 06, 2009
Mbak Urifah: Kabarmu Kini
Saat itu adalah hari Minggu. Waktu telah menunjukkan pukul 19.15 WIB. Tiba-tiba telepon genggam berdering. Nomor tak dikenal masuk. Pikiran yang muncul, pasti ini kawan-kawan lama PGA Kediri. Tepat sekali, tidak mleset. Kalimat pertama yang muncul dari suara seorang perempuan adalah "Halo, ini betul pak Thohir". Saya jawab dengan tenang, "Betul, mohon maaf ini siapa ya?". Dijawab lagi, "pasti tidak kenal kalau saya sebut, pokoknya teman di PGAN Kediri, lain kelas lagi". Kalimat ini dapat dimaklumi, karena saat di PGAN Kediri dulu antara pelajar putra dan putri dipisah kelas, dan pergaulan cenderung terbatas. Untuk meyakinkan, saya pura-pura sok gaul dan memberi indikasi bahwa pasti saya kenal bila tahu nama. Lalu dijawabnya lagi, "iya saya Urifah, dulu kelas III/6".
Mendengar jawaban sebutan nama demikian, ternyata ucapan saya tidak salah. Saya langsung dapat menyebutkan dengan sangat yakin, "Pasti mbak Urifah adalah alumni yang asli dari Kec. Papar, terus kalau tidak salah sekarang domisili ada di Surabaya, tidak jauh-jauh dari Jl. A. Yani sekitar IAIN Sunan Ampel Surabaya". Tidak diduga, tidak pula dinyana, alangkah terkejutnya mbak Urifah dengan jawaban saya ini, ternyata tebakan/jawaban saya jitu adanya. Keterkejutan ini pantas dan layak mengingat saat itu situasi pergaulan antar siswa beda kelas demikian terbatas, sehingga wajar kalau dia beranggapan demikian. Tapi lepas dari itu semua, ternyata sekarang betul-betul manfaat Buku Memori dapat dirasakan. Buku Memori ini pula yang akhirnya membuat saya punya bekal "memori" untuk bisa menebak siapa mbak Urifah, meski saat di sekolah waktu itu tidak mengenalnya dengan dekat. Cukup mengenal dari membaca daftar teman-teman terdahulu dalam Buku Memori. Tentang domisili dia di Surabaya, teringat suatu saat di tahun 1995-an secara tidak sengaja bertemu di Bis Kota Surabaya, saat itu saya sedang transit dari Statiun Gubeng menuju Terminal Purabaya kala hendak menuju kota Jember.
Hal yang menarik dari kejadian 'nyambung'-nya kembali pertemanan ini adalah betapa suasana pertemanan kala itu dan saat sekarang punya makna yang berbeda. Pertemanan kala itu kalau boleh dibilang banyak sekali dilingkupi oleh sikap kepura-puraan, 'topeng' dalam pergaulan secara terselubung begitu lekat dalam keseharian, jatidiri seringkali tersembunyi dan nyaris tak tergali. Tapi dalam suasana seperti sekarang ini, dalam situasi sudah sama tua-tua (eh... masih muda denk!) pembicaraan dapat mengalir begitu lugas, datar, juga dalam suasana dan semangat persahabatan yang tulus. Begitulah pembicaraan berlangsung hingga telepon genggam ditutup.
Kabar penting untuk teman-teman dari pembicaraan per telepon saat itu, diperoleh berita yang sangat patut menjadi keprihatinan kita semua. Mbak Urifa ternyata pada tahun 2004 tertimpa musibah, suaminya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Dan yang lebih memilukan lagi, pada September 2008 yang lalu, putra semata wayangnya juga menyusul dipanggil oleh Yang Maha Kuasa pula. Mendengar berita demikian, tentu sulit digambarkan bagaimana secara kejiwaan kita akan meresponnya. Namun dengan semangat untuk menghibur, disamping menyampaikan kalimat-kalimat do'a, juga saya sampaikan berita gembira tentang rencana Reuni yang sedang kita siapkan. Mudah-mudahan dalam pertemuan Reuni nanti akan ditemukan "obat" yang pas untuk mbak Urifah, apapun bentuk dan format "obat" tersebut.
Kepada teman-teman yang bermaksud "Say hello", atau bertukar kabar, menyambung komunikasi, maupun berbagi rasa dengan mbak Urifah, silahkah hubungi beliau di 0857.4912.7407. Insya Allah mbak Urifah akan turut hadir dapat pertemuan panitia tanggal 18 Juli 2009 nanti.
Mendengar jawaban sebutan nama demikian, ternyata ucapan saya tidak salah. Saya langsung dapat menyebutkan dengan sangat yakin, "Pasti mbak Urifah adalah alumni yang asli dari Kec. Papar, terus kalau tidak salah sekarang domisili ada di Surabaya, tidak jauh-jauh dari Jl. A. Yani sekitar IAIN Sunan Ampel Surabaya". Tidak diduga, tidak pula dinyana, alangkah terkejutnya mbak Urifah dengan jawaban saya ini, ternyata tebakan/jawaban saya jitu adanya. Keterkejutan ini pantas dan layak mengingat saat itu situasi pergaulan antar siswa beda kelas demikian terbatas, sehingga wajar kalau dia beranggapan demikian. Tapi lepas dari itu semua, ternyata sekarang betul-betul manfaat Buku Memori dapat dirasakan. Buku Memori ini pula yang akhirnya membuat saya punya bekal "memori" untuk bisa menebak siapa mbak Urifah, meski saat di sekolah waktu itu tidak mengenalnya dengan dekat. Cukup mengenal dari membaca daftar teman-teman terdahulu dalam Buku Memori. Tentang domisili dia di Surabaya, teringat suatu saat di tahun 1995-an secara tidak sengaja bertemu di Bis Kota Surabaya, saat itu saya sedang transit dari Statiun Gubeng menuju Terminal Purabaya kala hendak menuju kota Jember.
Hal yang menarik dari kejadian 'nyambung'-nya kembali pertemanan ini adalah betapa suasana pertemanan kala itu dan saat sekarang punya makna yang berbeda. Pertemanan kala itu kalau boleh dibilang banyak sekali dilingkupi oleh sikap kepura-puraan, 'topeng' dalam pergaulan secara terselubung begitu lekat dalam keseharian, jatidiri seringkali tersembunyi dan nyaris tak tergali. Tapi dalam suasana seperti sekarang ini, dalam situasi sudah sama tua-tua (eh... masih muda denk!) pembicaraan dapat mengalir begitu lugas, datar, juga dalam suasana dan semangat persahabatan yang tulus. Begitulah pembicaraan berlangsung hingga telepon genggam ditutup.
Kabar penting untuk teman-teman dari pembicaraan per telepon saat itu, diperoleh berita yang sangat patut menjadi keprihatinan kita semua. Mbak Urifa ternyata pada tahun 2004 tertimpa musibah, suaminya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Dan yang lebih memilukan lagi, pada September 2008 yang lalu, putra semata wayangnya juga menyusul dipanggil oleh Yang Maha Kuasa pula. Mendengar berita demikian, tentu sulit digambarkan bagaimana secara kejiwaan kita akan meresponnya. Namun dengan semangat untuk menghibur, disamping menyampaikan kalimat-kalimat do'a, juga saya sampaikan berita gembira tentang rencana Reuni yang sedang kita siapkan. Mudah-mudahan dalam pertemuan Reuni nanti akan ditemukan "obat" yang pas untuk mbak Urifah, apapun bentuk dan format "obat" tersebut.
Kepada teman-teman yang bermaksud "Say hello", atau bertukar kabar, menyambung komunikasi, maupun berbagi rasa dengan mbak Urifah, silahkah hubungi beliau di 0857.4912.7407. Insya Allah mbak Urifah akan turut hadir dapat pertemuan panitia tanggal 18 Juli 2009 nanti.
Rencana Pertemuan Akhir Persiapan Reuni 2009
Waktu kian dekat. Tahun telah berkurang jadi bulan. Tak lama lagi bulan berurai jadi minggu. Dan saat yang ditunggu akhirnya tinggal menghitung hari. Begitu kira-kira gambaran dari sisi waktu menjelang rencana pelaksanaan Reuni 20 Tahun Alumni PGAN Kediri, khususnya lulusan tahun 1989. Tentu masih berlebihan bila waktu yang masih bersisa beberapa bulan ini disebut tinggal menghitung hari. Orang muda sekarang pasti menyebutnya dengan kata "Ah... lebbay deh..!". Namun demikian, dari sisi panitia konsep ketersediaan waktu yang tinggal kira-kira 2 bulan ini betul-betul perlu menjadi perhatian serius. Every minute counts!!!. Begitu kira-kira kalau orang bule menyebutnya.
Menindaklanjuti pertemuan panitia sebelumnya yang diselenggarakan di Ponpes Al-Huda Kowak Kediri (Januari 2009), lalu dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya di Blitar (bulan April 2009), pada tanggal 18 Juli 2009 yang akan datang akan diselenggarakan pertemuan akhir untuk persiapan Reuni dimaksud. Pertemuan ini akan dilaksanakan di kediaman salah satu panitia, yaitu Sdr. Moh. Ridlo'i (alumni kelas III/5), dengan alamat rumah di Kec. Kayen, Kab. Kediri.
Pada pertemuan kali ini diharapkan akan hadir seluruh panitia, termasuk para koordinator di berbagai kota yang telah ditunjuk. Sejauh ini telah diperoleh konfirmasi kehadiran beberapa anggota panitia yang tersebar di beberapa kota, antara lain Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, dll.
Aspek-aspek yang akan dibahas dalam pertemuan tersebut antara lain adalah evaluasi atas progress dan hasil-hasil dari seluruh kegiatan persiapan yang telah dilakukan. Diantaranya menyangkut sejauh mana sosialisasi informasi Reuni dapat menjangkau para alumni, termasuk konfirmasi kehadiran alumni yang telah memperoleh undangan. Tidak kalah pentingnya adalah aspek "fund raising", sejauh mana panitia telah berhasil menghimpun pendanaan untuk mendukung suksesnya kegiatan Reuni tersebut. Diharapkan isu-isu tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Sejauh ini, laporan dari panitia harian yang berdomisili di Kediri, perkembangan persiapan Reuni cukup kondusif dan masih sesuai dengan target-target yang telah ditetapkan.
Terkait dengan itu semua, posting kali ini lebih dimaksudkan sebagai media update atas informasi perkembangan terakhir langkah-langkah persiapan yang telah dilakukan, sekaligus menjadi media undangan bagi rekan-rekan panitia untuk hadir dalam rapat akhir pada tanggal 18 Juli 2009 nanti. Informasi tentang alamat lengkap dan rute tempat pertemuan dapat menghubungi Sdr. Jumadi di 0813.5999.6157. Terima kasih.
(Jakarta, 6 Juli 2009)
Menindaklanjuti pertemuan panitia sebelumnya yang diselenggarakan di Ponpes Al-Huda Kowak Kediri (Januari 2009), lalu dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya di Blitar (bulan April 2009), pada tanggal 18 Juli 2009 yang akan datang akan diselenggarakan pertemuan akhir untuk persiapan Reuni dimaksud. Pertemuan ini akan dilaksanakan di kediaman salah satu panitia, yaitu Sdr. Moh. Ridlo'i (alumni kelas III/5), dengan alamat rumah di Kec. Kayen, Kab. Kediri.
Pada pertemuan kali ini diharapkan akan hadir seluruh panitia, termasuk para koordinator di berbagai kota yang telah ditunjuk. Sejauh ini telah diperoleh konfirmasi kehadiran beberapa anggota panitia yang tersebar di beberapa kota, antara lain Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, dll.
Aspek-aspek yang akan dibahas dalam pertemuan tersebut antara lain adalah evaluasi atas progress dan hasil-hasil dari seluruh kegiatan persiapan yang telah dilakukan. Diantaranya menyangkut sejauh mana sosialisasi informasi Reuni dapat menjangkau para alumni, termasuk konfirmasi kehadiran alumni yang telah memperoleh undangan. Tidak kalah pentingnya adalah aspek "fund raising", sejauh mana panitia telah berhasil menghimpun pendanaan untuk mendukung suksesnya kegiatan Reuni tersebut. Diharapkan isu-isu tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Sejauh ini, laporan dari panitia harian yang berdomisili di Kediri, perkembangan persiapan Reuni cukup kondusif dan masih sesuai dengan target-target yang telah ditetapkan.
Terkait dengan itu semua, posting kali ini lebih dimaksudkan sebagai media update atas informasi perkembangan terakhir langkah-langkah persiapan yang telah dilakukan, sekaligus menjadi media undangan bagi rekan-rekan panitia untuk hadir dalam rapat akhir pada tanggal 18 Juli 2009 nanti. Informasi tentang alamat lengkap dan rute tempat pertemuan dapat menghubungi Sdr. Jumadi di 0813.5999.6157. Terima kasih.
(Jakarta, 6 Juli 2009)
Monday, January 12, 2009
Hasil Pertemuan I: Persiapan Reuni 2009
Sebagaimana telah diumumkan pada posting sebelumnya, bahwa pada liburan lebaran Idul Fitri 1429 H (2008 M) yang lalu, telah berkumpul beberapa alumni lintas kelas lulusan 1989 yang menghasilkan kesepakatan membentuk kepanitiaan untuk pelaksanaan Reuni I Tahun 2009 untuk Alumni PGAN Kediri Lulusan 1989. Pada kesempatan tersebut telah terbentuk susunan kepanitiaan, berikut koordinator masing-masing wilayah untuk memudahkan persiapan kegiatan dimaksud.
Pada hari Minggu, 11 Januari 2009 bertempat di Pondok Pesantren AL-HUDA, Kowak, Kediri, dilangsungkan Pertemuan I Panitia Reuni yang dihadiri oleh kurang lebih 30 orang panitia khususnya yang berdomisili di daerah Kediri dan sekitarnya.
Beberapa poin dari hasil pertemuan tersebut adalah sebagai berikut: (i) Waktu pelaksanaan Reuni disepakati hari keempat Idul Fitri 1430 H, diperkirakan akan jatuh pada hari Kamis, 24 September 2009; (ii) Tempat pelaksanaan Reuni diusahakan akan menggunakan Aula MAN 3 Kediri; (iii) Untuk mendukung pelaksanaan dari sisi finansial, disepakati masing-masing kelas diharapkan dapat mengumpulkan dan menyetorkan dana Rp 2.200.000,-, sehingga dari total 9 kelas, diharapkan dapat terkumpul sekurang-kurangnya Rp 19.800.000,-; (iv) metode pengumpulan dana diserahkan kepada wakil masing-masing kelas dan selanjutnya disetorkan kepada bendahara panitia.
Direncanakan pada bulan Juli 2009 akan dilaksanakan pertemuan putaran kedua, dengan memanfaatkan musim libur sekolah agar panitia khususnya koordinator yang ada di wilayah lain seperti Jogja, Malang, Surabaya, atau Jakarta dapat turut hadir. Pada pertemuan putaran kedua ini diharapkan sudah dapat dilakukan evaluasi awal terutama menyangkut hasil penghimpunan data alumni berikut alamatnya, juga menyangkut aspek fund raising (pengumpulan dana) sebagaimana disepakati pada pertemuan I sebagaimana tersebut di atas.
Selanjutnya segenap panitia mohon doa restu khususnya dari segenap alumni agar rencana penyelenggaraan Reuni I ini dapat terwujud dengan baik dan sukses.
(Jakarta, 12 Januari 2009)
Pada hari Minggu, 11 Januari 2009 bertempat di Pondok Pesantren AL-HUDA, Kowak, Kediri, dilangsungkan Pertemuan I Panitia Reuni yang dihadiri oleh kurang lebih 30 orang panitia khususnya yang berdomisili di daerah Kediri dan sekitarnya.
Beberapa poin dari hasil pertemuan tersebut adalah sebagai berikut: (i) Waktu pelaksanaan Reuni disepakati hari keempat Idul Fitri 1430 H, diperkirakan akan jatuh pada hari Kamis, 24 September 2009; (ii) Tempat pelaksanaan Reuni diusahakan akan menggunakan Aula MAN 3 Kediri; (iii) Untuk mendukung pelaksanaan dari sisi finansial, disepakati masing-masing kelas diharapkan dapat mengumpulkan dan menyetorkan dana Rp 2.200.000,-, sehingga dari total 9 kelas, diharapkan dapat terkumpul sekurang-kurangnya Rp 19.800.000,-; (iv) metode pengumpulan dana diserahkan kepada wakil masing-masing kelas dan selanjutnya disetorkan kepada bendahara panitia.
Direncanakan pada bulan Juli 2009 akan dilaksanakan pertemuan putaran kedua, dengan memanfaatkan musim libur sekolah agar panitia khususnya koordinator yang ada di wilayah lain seperti Jogja, Malang, Surabaya, atau Jakarta dapat turut hadir. Pada pertemuan putaran kedua ini diharapkan sudah dapat dilakukan evaluasi awal terutama menyangkut hasil penghimpunan data alumni berikut alamatnya, juga menyangkut aspek fund raising (pengumpulan dana) sebagaimana disepakati pada pertemuan I sebagaimana tersebut di atas.
Selanjutnya segenap panitia mohon doa restu khususnya dari segenap alumni agar rencana penyelenggaraan Reuni I ini dapat terwujud dengan baik dan sukses.
(Jakarta, 12 Januari 2009)
Kolega Kita: Abdul Muiz Rouf
Masih ingat dengan Buku Memori '88/'89 kita? Kalau ingat, tentu salah satu yang menjadi daya tarik yang mudah mengingatkan kita adalah gambar yang ada pada sampul buku memori tersebut. Tahu kah anda siapa seniman di balik gambar yang artistik tersebut. Bila anda tahu dan ingat seniman dimaksud, orangnya tidak lain dan tidak bukan adalah ABDUL MUIZ ROUF.
Bila kurang puas dengan teka-teki di atas, perlu ditambah pertanyaannya, masih ingatkah dari kelas mana kolega kita yang satu ini. III/1, III/2, atau III yang lainnya. Tentu dan mestinya tidak terlalu sulit untuk mengingat identitas kolega yang satu ini. Keberadaannya selama di PGAN Kediri hampir selalu muncul dalam setiap kepanitiaan maupun dalam berbagai event yang diselenggarakan di PGAN Kediri kala itu. Tentu hal tersebut karena talenta dan bakat seni yang dimilikinya. Nggak percaya? coba cek arsip-arsip kepanitiaan kegiatan kesiswaan saat itu, dan lihat baik-baik di Seksi Dekorasi. So pasti nama beliau ini yang paling kerap muncul dan menjadi komandan di sektor ini.
Bagi yang menyerah tidak berhasil mengingat dari kelas mana dia berasal, baiklah sekarang kartu di buka: beliau ini adalah alumni kelas III/3, sekelas dengan pak Akil Abdul Aziz yang sempat dimuat pada kolom kolega kita beberapa waktu yang lalu.
Ingin tahu keadaan dan domisilinya saat ini?. Dalam suatu pertemuan singkat yang tidak terduga di Pasar Rumput Jakarta, persisnya di rumah Siti Nur Habibah (juga alumni PGAN Kediri, ingat dari kelas mana?) penulis dalam bincang-bincangnya diam-diam mencatat untuk maksud agar dapat dimuat dalam rubrik kolega kita ini. Saat kolega kita ini belajar di PGAN Kediri, yang bersangkutan pada saat yang sama juga 'nyambi' menjadi santri di Ponpes AL-ISHLAH, Bandar Kidul (milik Gus Qowimuddin, juga alumni PGAN Kediri, silahkan diingat-ingat juga yang satu ini). Ini tidak lepas dari background dia yang memang terlahir di Cirebon di lingkungan yang juga pesantren. Makanya beberapa dari kita yang tahu hal tersebut seringkali juga memberikan gelar panggilan 'Gus Muiz' karena background yang demikian.
Kabarnya saat ini?. Beliau sekarang memilih jalur wiraswasta dengan mainstream pada bidang pendidikan. Jauh hari selepas PGAN Kediri, beliau melanjutkan pendidikan S-1 (Jur. Pendidikan Matematika) di Universitas Pelita Bangsa, Medan, dan melanjutkan ke jenjang S-2 (Bidang Psikologi Pendidikan) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dengan bekal itu, saat ini beliau menjadi dosen di beberapa sekolah / perguruan tinggi di Cirebon.
Dari satu orang istri yang bernama NURLAILAH, beliau sekarang telah dikaruniai dua orang anak yang manis-manis dan pinter, masing-masing FIFQI INAYAH (10 th) dan JIHAN AYU FURAIDAH (3 th). Untuk berkorespondensi dengan beliau, surat dapat dialamatkan di Jl. Aspen Selatan, Ds. Bodesari, Kec. Plumbon, Cirebon 45155, Jawa Barat, atau melalui email di muizabdel@yahoo.co.id.
(Jakarta, 12 Januari 2009)
Bila kurang puas dengan teka-teki di atas, perlu ditambah pertanyaannya, masih ingatkah dari kelas mana kolega kita yang satu ini. III/1, III/2, atau III yang lainnya. Tentu dan mestinya tidak terlalu sulit untuk mengingat identitas kolega yang satu ini. Keberadaannya selama di PGAN Kediri hampir selalu muncul dalam setiap kepanitiaan maupun dalam berbagai event yang diselenggarakan di PGAN Kediri kala itu. Tentu hal tersebut karena talenta dan bakat seni yang dimilikinya. Nggak percaya? coba cek arsip-arsip kepanitiaan kegiatan kesiswaan saat itu, dan lihat baik-baik di Seksi Dekorasi. So pasti nama beliau ini yang paling kerap muncul dan menjadi komandan di sektor ini.
Bagi yang menyerah tidak berhasil mengingat dari kelas mana dia berasal, baiklah sekarang kartu di buka: beliau ini adalah alumni kelas III/3, sekelas dengan pak Akil Abdul Aziz yang sempat dimuat pada kolom kolega kita beberapa waktu yang lalu.
Ingin tahu keadaan dan domisilinya saat ini?. Dalam suatu pertemuan singkat yang tidak terduga di Pasar Rumput Jakarta, persisnya di rumah Siti Nur Habibah (juga alumni PGAN Kediri, ingat dari kelas mana?) penulis dalam bincang-bincangnya diam-diam mencatat untuk maksud agar dapat dimuat dalam rubrik kolega kita ini. Saat kolega kita ini belajar di PGAN Kediri, yang bersangkutan pada saat yang sama juga 'nyambi' menjadi santri di Ponpes AL-ISHLAH, Bandar Kidul (milik Gus Qowimuddin, juga alumni PGAN Kediri, silahkan diingat-ingat juga yang satu ini). Ini tidak lepas dari background dia yang memang terlahir di Cirebon di lingkungan yang juga pesantren. Makanya beberapa dari kita yang tahu hal tersebut seringkali juga memberikan gelar panggilan 'Gus Muiz' karena background yang demikian.
Kabarnya saat ini?. Beliau sekarang memilih jalur wiraswasta dengan mainstream pada bidang pendidikan. Jauh hari selepas PGAN Kediri, beliau melanjutkan pendidikan S-1 (Jur. Pendidikan Matematika) di Universitas Pelita Bangsa, Medan, dan melanjutkan ke jenjang S-2 (Bidang Psikologi Pendidikan) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dengan bekal itu, saat ini beliau menjadi dosen di beberapa sekolah / perguruan tinggi di Cirebon.
Dari satu orang istri yang bernama NURLAILAH, beliau sekarang telah dikaruniai dua orang anak yang manis-manis dan pinter, masing-masing FIFQI INAYAH (10 th) dan JIHAN AYU FURAIDAH (3 th). Untuk berkorespondensi dengan beliau, surat dapat dialamatkan di Jl. Aspen Selatan, Ds. Bodesari, Kec. Plumbon, Cirebon 45155, Jawa Barat, atau melalui email di muizabdel@yahoo.co.id.
(Jakarta, 12 Januari 2009)
Subscribe to:
Comments (Atom)