Kata bijak seperti pada judul di atas terasa sederhana, tetapi memiliki pesan dan makna yang sangat dalam. Pertama, kita diingatkan bahwa hidup ini tidak berulang. Hidup ini ibarat one-way ticket alias perjalanan satu arah dan tidak bisa kembali. Hidup ini bukan kejadian yang bisa di-rewind ke belakang. Waktu yang kita miliki hari ini tidak terulang besok hari. Hari ini adalah hari ini, demikian juga esok adalah esok yang bukan pengulangan atas hari ini. Singkat kata, hidup ini adalah kesempatan yang hanya sekali.
Penggunaan persamaan bahwa hidup ini ibarat perjalanan dengan one-way ticket tidak sepenuhnya benar. Benar hanya dalam konteks arahnya satu, tetapi tidak sama dalam hal karena perjalanan pada umumnya jelas jarak dan waktu tempuhnya. Sehingga dengan kejelasan jarak maupun waktu segala kebutuhan dapat disiapkan tepat waktu. Sementara itu dalam hidup ini tidak bisa diketahui seberapa jauh jarak yang akan kita tempuh, dan berapa lama jarak tersebut akan kita lalui. Jarak dan waktu hidup adalah semata rahasia Tuhan. Hadzaa min amri rabbi. Oleh karenanya, misteri ketidakjelasan jarak dan waktu tempuh "hidup" ini perlu diantisipasi dengan baik, agar penyiapan bekal bila sudah sampai pada halte tujuan nanti dapat terpenuhi dengan baik.
Makna kedua dari judul di atas adalah nasehat agar kita menjadi pribadi yang bermakna, yang berarti, dan yang bermanfaat. Tentu makna ini dilandasi oleh filosofi one-way ticket tadi. Oleh karena kehidupan ini adalah perjalanan yang tidak bisa diulang, tentu alangkah meruginya apabila hidup yang sekali itu tidak berarti. Definisi "berarti" dalam konteks ini adalah kehidupan yang memberi dampak positif baik bagi dirinya sendiri maupun bagi lingkungan sekitarnya. Pengertian positif tersebut juga tidak terbatas pada konteks duniawi saja, tetapi juga dari sisi spiritual keagamaan. Sesuai keyakinan keimanan kita, bahwa kehidupan yang sekali ini adalah awal dari hidup panjang yang lebih kekal di kemudian hari. Tetapi tetap tidak dalam makna kehidupan yang mengulang, tetapi kehidupan untuk memetik buah manis dari karya dan prestasi kehidupan yang sekali. Sejalan dengan makna ini, ada sabda nabi kita yang berbunyi "khairukum anfa'uhum lin-nass", sebuah sabda yang sangat menghendaki agar manusia ini berlomba-lomba menjadi insan yang paling berjasa dalam arti paling bermanfaat bagi sesamanya. Janganlah hidup yang sekali ini malah menempatkan kita sebagai beban bagi sesama. Demikian, sekedar bahan renungan untuk kita semua. Wallahu A'lamu Bish-Showaab. (Thohir Afandi, 17/4/2008)
Thursday, April 17, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment