Nama besar PGAN Kediri tidak bisa dilepaskan dari peran dan fungsi pesantren-pesantren yang ada di sekitarnya. Hubungan keduanya saling mengisi dan saling melengkapi. Keduanya saling diuntungkan, dan oleh karenanya meski tidak dalam kadar "mesti" tetapi kehadiran keduanya menjadi bersifat saling membutuhkan.
Kedua institusi ini bergerak di lini yang sama, yaitu membangun insan-insan yang shalih, bertaqwa, dan cerdas. Meski pakem dan kurikulum yang dikembangkan berbeda, tetapi keduanya mengerucut kepada tujuan dan maksud yang sama. Insan shalih, bertaqwa, dan cerdas.
PGAN Kediri sebagai institusi yang menyiapkan tenaga pendidik di bidang agama Islam dalam kegiatannya memfokuskan kepada pembentukan calon tenaga pendidik yang matang dalam 3 hal: matang secara kognitif (keilmuan dan pengetahuan), matang secara psikomotorik (keahlian dan ketrampilan), dan matang secara afektif (sikap dan perilaku). Singkat kata PGAN Kediri menyiapkan calon tenaga pendidikan yang matang dalam hal keilmuan, metodologi, dan perilaku (akhlak). Dalam konteks ini, oleh karena lembaga ini merupakan salah satu pendidikan formal yang terikat dengan tata aturan pemerintah, termasuk di dalamnya menyangkut kurikulum bahan ajar, tentu materi yang diberikan juga diperluas tidak semata materi keagamaan. Banyak materi-materi lain yang relevan untuk mempertajam pencapaian tujuan sebagaimana disebut di atas, misalnya teori pendidikan (pedagogi), ilmu perkembangan jiwa (psikologi), dan lain-lain. Sehingga dengan paduan ilmu-ilmu yang diberikan diharapkan dapat membentuk suatu kematangan yang utuh antara ilmu substansi (pendidikan agama), ilmu alat (metodologi), dan ilmu perilaku (akhlak).
Sementara itu, pondok pesantren di sisi lain juga memiliki tujuan yang kurang lebih sama, yaitu membentuk insan-insan yang matang secara keagamaan yang ditunjang melalui kematangan 3 hal juga, yaitu matang secara kognitif, matang secara psikomotorik, dan matang secara afektif. Hanya di pesantren ini, fokus utama materi ajar adalah ilmu-ilmu keagamaan saja, kalau toh ada ilmu-ilmu lain, tentu diarahkan untuk lebih memperkuat pemahaman terhadap ilmu substansi. Ilmu-ilmu tersebut antara lain, ilmu nahwu/sharaf, bahasa arab, dll. Sementara keilmuan di bidang keagamaan diarahkan kepada sekurang-kurangnya 3 hal: ilmu ketauhidan (aqidah), ilmu ubudiyyah dan muamalah (syari'ah), dan ilmu moral/perilaku sebagaimana digambarkan dalam konsep "ihsan" (akhlak). Bagian yang terakhir ini merupakan ilmu yang memadukan antara sisi ketauhidan dan sisi syari'ah, sehingga hasilnya adalah bentuk kualitas sikap batin dan perilaku seseorang dalam memandang, menyikapi, dan merespon segala sesuatu yang dihadapinya.
Terkait dengan sinergi PGAN dan Pesantren seperti dilansir dalam judul di atas, terdapat titik singgung dimana ditemukan fakta bahwa umumnya dan kebanyakan dari siswa PGAN Kediri disamping sekolah secara formal juga "nyantri" di beberapa pesantren yang tersebar di sekitar PGAN. Sekedar untuk disebut, ada Pesantren Assa'idiyyah di Jamsaren, ada Pesantren Al-Husna di Burengan, ada Pesantren Al-Huda di Kowak, juga beberapa pesantren lainnya yang tersebar wilayah sekitar PGAN Kediri, misalnya di Sumber Ndoko, dll. Keterlibatan siswa-siswi di beberapa pesantren inilah yang pada akhirnya turut berkontribusi secara signifikan terhadap kultur dan 'aura' yang dirasakan di PGAN ini. Apalagi di PGAN Kediri pola pembagian kelas juga menganut pendekatan pemisahan antara pelajar putri dan pelajar putra di kelas yang berbeda, sehingga hal tersebut semakin menambah kuatnya aroma sinergi antara Pesantren dan PGAN Kediri sendiri.
Pendapat di atas memang masih dapat diperdebatkan, karena memang belum merupakan hasil sebuah riset yang empiris, tetapi baru pendapat yang lahir dari reka-reka atas fakta yang ada. Untuk mengetahui kebenarannya memang perlu studi dan riset tersendiri dengan melibatkan variabel-variabel yang ada.
Benang merah dari tulisan ini adalah betapa pesantren di seputar PGAN Kediri memiliki kontribusi yang tidak kecil terhadap prestasi PGAN Kediri dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas. Wallahu A'lamu Bish-showab (Thohir Afandi, 18/4/2008)
Friday, April 18, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment