Dalam pesan dan arahan singkatnya, Bpk. Sudja’i Habib mengawali dengan menyampaikan ucapan selamat kepada segenap siswa/siswi PGAN Kediri yang telah menyelesaikan studi selama periode 1986-1989. Kelulusan siswa/siswi ini sekaligus beliau nilai sebagai bentuk telah selesainya pula tugas formal seluruh dewan pengasuh serta karyawan/karyawati PGAN Kediri dalam melaksanakan tugas mendidik, mengajar, serta membimbing siswa/siswi PGAN Kediri hingga batas akhir secara formal masa studi di PGAN Kediri.
Beliau mengingatkan bahwa meski secara formal pendidikan keguruan telah diselesaikan dan sekaligus telah memenuhi syarat untuk menerima akreditasi sebagai calon guru agama, bukan berarti tanggung jawab secara keilmuan telah selesai pula, justru setelah tamat ini tuntutan untuk mempertanggungjawabkan ilmu yang telah diperoleh menjadi semakin meningkat, baik dalam konteks mempertanggungjawabkannya kepada orang tua maupun kepada masyarakat.
Hal penting lain yang beliau pesankan adalah pentingnya menjaga dan memelihara tali silaturrahmi yang telah ada, baik silaturrahmi antara sesama siswa/siswi, maupun silaturrahmi antara siswa/siswi dan guru serta segenap karyawan/karyawati PGAN Kediri. Terkait dengan itu, beliau menggarisbawahi bahwa kebiasaan menerbitkan Buku Memori oleh siswa/siswi yang baru saja lulus kelas III merupakan langkah yang sangat baik dan akan memberikan manfaat yang sangat besar kelak di kemudian hari. Perjalanan belajar selama 3 tahun tentu akan meninggalkan kesan yang mendalam dan keindahan tersendiri manakala di kemudian hari dapat diingat-ingat kembali. Bahkan tidak jarang hal-hal yang dulunya dijalani dengan perasaan biasa-biasa saja akan terasa indah atau bahkan ‘lucu’ bila diingat pada kesempatan yang sudah jauh berbeda.
Beliau mengungkapkan bahwa ada 3 kecenderungan langkah yang diambil oleh alumni PGAN sebagaimana yang sudah-sudah, yaitu: (i) terjun langsung ke masyarakat menjadi tenaga pendidik non-formal; (ii) mengabdikan diri menjadi tenaga pendidik formal; dan (iii) melanjutkan studi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Terhadap ketiga kecenderungan di atas, dalam pandangan beliau ketiganya sama-sama merupakan pilihan yang baik, yang penting masing-masing dapat benar-benar berupaya menjadi insan yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa,dengan tetap menjunjung tinggi almamater PGAN sesuai peran dan posisi masing-masing. Untuk mendukung mencapai sukses di ketiga pilihan tersebut, beliau berpesan hendaknya masing-masing membekali diri dengan sikap mental yang baik, meliputi sikap cekatan, penuh inisiatif, ulet, dan militan dalam menggapai cita-cita. Beliau mengingatkan pula bahwa pada dasarnya ilmu yang bermanfaat itu tidak ditentukan oleh banyaknya maupun tingginya ilmu yang dikuasai, tetapi sejauh mana ilmu-ilmu yang diperoleh itu dapat bermanfaat bagi dirinya dan lingkungan masyarakat sekitarnya.
Terakhir, beliau menutup pesan dan kesannya dengan menyampaikan kalimat do’a kiranya para alumni PGAN Kediri, kelak dapat menjadi insan muslim yang intelek dan insan intelek yang muslim yang diridloi Allah SWT, amin ya robbal alamin.
(Kediri, 11 Maret 1989, Drs. M. Sudja'i Habib)
Friday, February 29, 2008
Thursday, February 28, 2008
Teman-Teman: Kabarmu Kini
Adalah kerinduan tersendiri untuk mengetahui keadaan dan keberadaan teman-teman yang sudah lama berpisah. Oleh karenanya tentu menjadi kebahagiaan pula bila kita dapat mengetahui kabar dan keberadaan masing-masing. Tentu perubahan sudah banyak terjadi diantara teman-teman dulu. Kalau dibayangkan saat itu kita sama-sama bersekolah di PGA dengan niatan sama menjadi guru agama di SD, tentu bayangan ini mungkin sudah jauh tidak relevan. Dalam perkembangannya sudah banyak yang berubah haluan, atau sebenarnya tetap dalam jalur dan koridor keguruan, tetapi dalam level dan maqom yang berbeda (baca: lebih tinggi), misalnya jadi dosen, jadi guru besar, jadi ustadz, jadi kyai, dll.. Nah.. yang berubah jalur misalnya ada yang jadi pengusaha, kontraktor (seperti mas Sobir), jadi kuli pemerintah (seperti mas Thohir), atau jadi juragan besar. Itu semua adalah hal yang mungkin dan sangat bisa terjadi.
Berangkat dari pemikiran tersebut, di bawah ini akan ditulis seputar keadaan terkini yang berhasil terekam dari kawan dan teman alumni yang saat ini sudah menyebar di mana-mana. Oleh karena sumber informasi yang sangat terbatas, mohon teman-teman yang membaca media ini dan tahu informasi yang lebih lengkap tentang kawan dan teman kita, mohon bantuannya untuk dapat menyampaikan ke kami (Thohir Afandi) via email thohir.afandi@gmail.com untuk selanjutnya kami gunakan untuk meng-update data dan informasi terakhir mengenai teman-teman.
Abdul Ghofur. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fak. Tarbiyah Jur. Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Menikah dengan sang pujaan hati yang asli Jogjakarta dan telah dikaruniai (kalau tidak salah) dua anak. Pekerjaan saat ini menjadi Wakil Kepala Sekolah MAN I Bantul Jogjakarta.
Ahmad Syafi'in. Teman asal Gresik ini tahun 1989 melanjutkan belajar di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Menikah dengan putri Madura dan telah dikaruniai 3 orang anak yang manis dan pinter-pinter. Saat ini beliau berprofesi sebagai ustadz dan kyai di salah satu lembaga pendidikan Islam di Surabaya.
Basori Alwi. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fak. Tarbiyah, Jur. Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Menikah dengan putri Jogjakarta dan telah dikaruniai anak. Saat ini bekerja sebagai Kepala KUA Jogjakarta (Sleman?).
Jauhar Hatta. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fak. Tarbiyah, Jur. Pendidikan Bahasa Arab, IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Pada tahun (1994?) melanjutkan studi ke jenjang S-2 di IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat Jakarta Selatan, dan saat ini sedang menyelesaikan tahap akhir studi pada jenjang S-3 di lembaga pendidikan yang sama (mudah-mudahan saat ini sudah selesai). Pekerjaan saat ini adalah sebagai tenaga dosen di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta.
M. Ali Ridlo. Tahun 1989 melanjutkan studi di Jakarta, tepatnya di salah satu perguruan tinggi Islam di bawah naungan kedutaan besar Arab Saudi. Status sudah menikah dengan putri seorang ulama di Jakarta Pusat yang asli Jawa Timur dan telah lama tinggal di Jakarta. Aktifitas keseharian saat ini adalah sebagai pengasuh (baca: ustadz dan kyai) di pesantren dan yayasan Al-Hasanah, Senen Jakarta Pusat.
M. Sobir. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fakultas Syari'ah, Jur. Perbandingan Madzhab, IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Di kota ini pula yang bersangkutan dipertemukan dengan sang idaman hati dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki (sekarang sudah jejaka). Pekerjaan saat ini sebagai pengusaha kontraktor merangkap sebagai aktifis politik (politikus) di Jogjakarta.
Muslimin. Tahun 1989 melanjutkan studi di Fak. Tarbiyah, Jur. Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Sunan Ampel, Jember. Status sudah menikah dengan sang pujaan hati dan telah dikaruniai anak yang manis-manis. Saat ini bekerja sebagai pendidik di daerah Kediri.
Qomaruddin. Setelah lulus PGAN 1989, yang bersangkutan merintis usaha di Kediri, dan kini usahanya telah berkembang pesat hingga yang bersangkutan menjadi juragan bisnis di bidang perawatan otomotif. Status sudah menikah (?) dan tinggal di Ngadiluwih Kediri.
Suprihadi. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fak. Tarbiyah, Jur. Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Sunan Ampel Malang. Menikah dengan sang pujaan hati asal kota Lumajang dan telah dikarunia anak yang manis. Saat ini bekerja sebagai pendidik di daerah Kediri dan berdomisili di Wates Kediri.
Thohir Afandi. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jur. Pendidikan Bhs. Inggris, Universitas Jember. Tahun 1997 memperoleh kesempatan belajar gratis pada jenjang Master's Degree di Illinois Institute of Technology, Chicago, USA. Menikah dengan putri Jember, dan telah dikaruniai 2 anak. Saat ini bekerja di Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas di Jakarta.
Untuk sementara, informasi yang diperoleh masih terbatas dan baru mencakup 10 (sepuluh) orang seperti tersebut di atas. Tentu informasi yang ditulis di atas bisa saja tidak/belum lengkap atau mungkin kurang akurat mengingat sumber informasi yang sangat beragam dan beritanya sebagian belum terkonfirmasi kepada masing-masing yang bersangkutan. Masukan dan saran, serta tambahan informasi bagi yang belum tercantum sangat diharapkan. Mohon segala informasi dapat dikirim via email kepada thohir.afandi@gmail.com
Diharapkan berita "Kabarmu Kini" dapat terus di-update sesuai kabar dan informasi yang berhasil dikumpulkan. Banyak terima kasih atas bantuannya. (Thohir Afandi, Jakarta)
Berangkat dari pemikiran tersebut, di bawah ini akan ditulis seputar keadaan terkini yang berhasil terekam dari kawan dan teman alumni yang saat ini sudah menyebar di mana-mana. Oleh karena sumber informasi yang sangat terbatas, mohon teman-teman yang membaca media ini dan tahu informasi yang lebih lengkap tentang kawan dan teman kita, mohon bantuannya untuk dapat menyampaikan ke kami (Thohir Afandi) via email thohir.afandi@gmail.com untuk selanjutnya kami gunakan untuk meng-update data dan informasi terakhir mengenai teman-teman.
Abdul Ghofur. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fak. Tarbiyah Jur. Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Menikah dengan sang pujaan hati yang asli Jogjakarta dan telah dikaruniai (kalau tidak salah) dua anak. Pekerjaan saat ini menjadi Wakil Kepala Sekolah MAN I Bantul Jogjakarta.
Ahmad Syafi'in. Teman asal Gresik ini tahun 1989 melanjutkan belajar di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Menikah dengan putri Madura dan telah dikaruniai 3 orang anak yang manis dan pinter-pinter. Saat ini beliau berprofesi sebagai ustadz dan kyai di salah satu lembaga pendidikan Islam di Surabaya.
Basori Alwi. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fak. Tarbiyah, Jur. Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Menikah dengan putri Jogjakarta dan telah dikaruniai anak. Saat ini bekerja sebagai Kepala KUA Jogjakarta (Sleman?).
Jauhar Hatta. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fak. Tarbiyah, Jur. Pendidikan Bahasa Arab, IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Pada tahun (1994?) melanjutkan studi ke jenjang S-2 di IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat Jakarta Selatan, dan saat ini sedang menyelesaikan tahap akhir studi pada jenjang S-3 di lembaga pendidikan yang sama (mudah-mudahan saat ini sudah selesai). Pekerjaan saat ini adalah sebagai tenaga dosen di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta.
M. Ali Ridlo. Tahun 1989 melanjutkan studi di Jakarta, tepatnya di salah satu perguruan tinggi Islam di bawah naungan kedutaan besar Arab Saudi. Status sudah menikah dengan putri seorang ulama di Jakarta Pusat yang asli Jawa Timur dan telah lama tinggal di Jakarta. Aktifitas keseharian saat ini adalah sebagai pengasuh (baca: ustadz dan kyai) di pesantren dan yayasan Al-Hasanah, Senen Jakarta Pusat.
M. Sobir. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fakultas Syari'ah, Jur. Perbandingan Madzhab, IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Di kota ini pula yang bersangkutan dipertemukan dengan sang idaman hati dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki (sekarang sudah jejaka). Pekerjaan saat ini sebagai pengusaha kontraktor merangkap sebagai aktifis politik (politikus) di Jogjakarta.
Muslimin. Tahun 1989 melanjutkan studi di Fak. Tarbiyah, Jur. Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Sunan Ampel, Jember. Status sudah menikah dengan sang pujaan hati dan telah dikaruniai anak yang manis-manis. Saat ini bekerja sebagai pendidik di daerah Kediri.
Qomaruddin. Setelah lulus PGAN 1989, yang bersangkutan merintis usaha di Kediri, dan kini usahanya telah berkembang pesat hingga yang bersangkutan menjadi juragan bisnis di bidang perawatan otomotif. Status sudah menikah (?) dan tinggal di Ngadiluwih Kediri.
Suprihadi. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fak. Tarbiyah, Jur. Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Sunan Ampel Malang. Menikah dengan sang pujaan hati asal kota Lumajang dan telah dikarunia anak yang manis. Saat ini bekerja sebagai pendidik di daerah Kediri dan berdomisili di Wates Kediri.
Thohir Afandi. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jur. Pendidikan Bhs. Inggris, Universitas Jember. Tahun 1997 memperoleh kesempatan belajar gratis pada jenjang Master's Degree di Illinois Institute of Technology, Chicago, USA. Menikah dengan putri Jember, dan telah dikaruniai 2 anak. Saat ini bekerja di Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas di Jakarta.
Untuk sementara, informasi yang diperoleh masih terbatas dan baru mencakup 10 (sepuluh) orang seperti tersebut di atas. Tentu informasi yang ditulis di atas bisa saja tidak/belum lengkap atau mungkin kurang akurat mengingat sumber informasi yang sangat beragam dan beritanya sebagian belum terkonfirmasi kepada masing-masing yang bersangkutan. Masukan dan saran, serta tambahan informasi bagi yang belum tercantum sangat diharapkan. Mohon segala informasi dapat dikirim via email kepada thohir.afandi@gmail.com
Diharapkan berita "Kabarmu Kini" dapat terus di-update sesuai kabar dan informasi yang berhasil dikumpulkan. Banyak terima kasih atas bantuannya. (Thohir Afandi, Jakarta)
Wednesday, February 27, 2008
Mak Mbrot, Ikon Warung Sederhana untuk Siswa PGAN Berkantong "Cekak"
Sungguh tak terpikir, apa yang mungkin terjadi seandainya saat itu tidak ada yang namanya Mak Mbrot dengan warung murahnya. Warung Mak Mbrot sudah sedemikian melegenda, lebih-lebih konsep warung yang ditawarkan begitu 'match' alias pas dengan situasi finansial kebanyakan siswa PGA saat itu, yang notabene berkategori pas-pasan. Kehadirannya benar-benar dianggap sebagai berkah bak hujan yang turun dalam suasana kemarau terik.
Menyangkut nama Mak Mbrot, sebenarnya merupakan sebutan yang kurang elok, bahkan ada kemungkinan yang bersangkutan akan marah bila tahu dan mendengar dipanggil demikian. Buktinya saat para pelanggan makan di sana, hampir tidak satupun yang berani memanggil dengan panggilan Mak Mbrot, tetapi cukup memanggilnya dengan panggilan Mak. Tapi apa boleh buat, justru dengan sebutan tersebut orang akan lebih mudah mengingat dan bahkan bisa menjadi terkiwir-kiwir karenanya.
Terlepas dari suka atau tidak suka dengan julukan dan panggilan tersebut, adalah layak untuk mengenang masa-masa menjadi pelanggan tetap Mak Mbrot. Salah satu kenangan yang paling mudah diingat adalah porsi makanan yang demikian 'yahui' banyak, sebuah porsi yang pas bagi perut-perut keturunan petani yang bekerja keras, sekaligus perut-perut sosok manusia yang masih dalam masa pertumbuhan, he... he.... Saat itu, mungkin kebanyakan kita tidak banyak berfikir tentang komposisi dan kualitas gizi yang kita makan, tetapi saat itu yang sering kita pentingkan adalah 'kenyang' dan 'kepuasan'. Belum lagi kalau ada kegiatan, biasanya panitia nge-plot pesen makan siangnya ya ke Mak Mbrot ini.
Ritual makan di Mak Mbrot saat itu memang terasa biasa saja, tetapi setelah lama sekali tidak berkunjung ke sana, sepertinya saat-saat itu menjadi momentum yang istimewa untuk dikenang. Keberadaannya bagai tak terpisahkan dengan kenangan manis selama belajar di PGAN Kediri. Bravo Mak Mbrot...!
Menyangkut nama Mak Mbrot, sebenarnya merupakan sebutan yang kurang elok, bahkan ada kemungkinan yang bersangkutan akan marah bila tahu dan mendengar dipanggil demikian. Buktinya saat para pelanggan makan di sana, hampir tidak satupun yang berani memanggil dengan panggilan Mak Mbrot, tetapi cukup memanggilnya dengan panggilan Mak. Tapi apa boleh buat, justru dengan sebutan tersebut orang akan lebih mudah mengingat dan bahkan bisa menjadi terkiwir-kiwir karenanya.
Terlepas dari suka atau tidak suka dengan julukan dan panggilan tersebut, adalah layak untuk mengenang masa-masa menjadi pelanggan tetap Mak Mbrot. Salah satu kenangan yang paling mudah diingat adalah porsi makanan yang demikian 'yahui' banyak, sebuah porsi yang pas bagi perut-perut keturunan petani yang bekerja keras, sekaligus perut-perut sosok manusia yang masih dalam masa pertumbuhan, he... he.... Saat itu, mungkin kebanyakan kita tidak banyak berfikir tentang komposisi dan kualitas gizi yang kita makan, tetapi saat itu yang sering kita pentingkan adalah 'kenyang' dan 'kepuasan'. Belum lagi kalau ada kegiatan, biasanya panitia nge-plot pesen makan siangnya ya ke Mak Mbrot ini.
Ritual makan di Mak Mbrot saat itu memang terasa biasa saja, tetapi setelah lama sekali tidak berkunjung ke sana, sepertinya saat-saat itu menjadi momentum yang istimewa untuk dikenang. Keberadaannya bagai tak terpisahkan dengan kenangan manis selama belajar di PGAN Kediri. Bravo Mak Mbrot...!
Daftar Nama Teman2 Alumni
Sekedar untuk mengingatkan nama-nama teman kita di kelas III-5, berikut ini saya list nama-nama yang berhasil saya ingat. Bila kurang tolong diingatkan. Sementara akan saya tuliskan nama-nama dan alamat asalnya saja, nanti diharapkan dapat disempurnakan dengan status akhir dan alamat terbaru masing-masing pada saat ini. Nama-nama dimaksud adalah sebagai berikut:
(1) Abdul Ghofur: Sumber Agung, Krecek, Pare, Kediri;
(2) Abdul Mutholib: Jambu, Tunge, Wates, Kediri;
(3) Achmad Jamil Choiri: Blabak Kota, Pesantren Kodya Kediri;
(4) Adib Tamimi: Dkh. Bondo, Jajar, Wates, Kediri;
(5) Ahmad Baedlowi: Juwet, Ngronggot, Nganjuk;
(6) Ahmad Syafi'in: Indra, Delik, Bungah, Gresik;
(7) Ambar Sugito (Alm.): Tambakrejo, Gurah, Kediri;
(8) Asmuni: Selosari, Prambon, Dagangan, Madiun;
(9) Ayub: Sanggrahan, Prambon, Nganjuk;
(10) Badrul Qomar: Adan-adan, Gurah, Kediri;
(11) Badrut Tamam: Rejomulya Kodya Kediri;
(12) Basori Alwi: Pule, Kandat, Kediri;
(13) Dardiri: Bandung, Prambon Nganjuk;
(14) Imam Bukhori: Jl. Mastrip 14A, Sukorame Kodya Kediri;
(15) Imam Khudori: Kampung Baru, Tanjung Anom, Nganjuk;
(16) Imam Maksum: Sumber Agung RT 54/09, Wates, Kediri;
(17) Imam Nawawi: Toyoresmi, Gampengrejo, Kediri;
(18) Imam Syafi'i: Pakisrejo, Srengat, Blitar,
(19) Jauhar Hatta: RT 01/03, Mojo Agung, Prambon, Nganjuk;
(20) Jaini Musthofa: Suko Anyar, Mojo, Kediri;
(21) Khoirul Anam: Betet, Ngronggot, Nganjuk;
(22) Khoiri MN: RT 17/05 Dayu, Nglegok, Blitar;
(23) Mahmud: Pulosari, Papar, Kediri;
(24) Maslam: Badas Pare Kediri;
(25) Maulin: Slumbung, Ngadiluwih, Kediri;
(26) Moh. Anwar Fauji: Sumber Cangkring, Gurah, Kediri;
(27) Moh. Anwar Zainuri: RT 21/08 Betet, Pesantren, Kediri;
(28) Moch. Ridlo'i: Gabru, Kepuhrejo, Gampengrejo, Kediri;
(29) Moch. Sobir Afiel: RT 08/03 Jatirejo,Grogol, Kediri;
(30) Moh. Sobirin: Gemaharjo, Watulimo, Trenggalek;
(31) Mohammad Syaerozi: RT 02/02 Badal Pandean, Ngadiluwih, Kediri;
(32) Mokhammad Ansori: RT 45/06 Tunge, Wates, Kediri;
(33) M. Ali Ridlo: RT 12/04, Tanjung Tani, Prambon, Nganjuk;
(34) M. Mujib: Kebon Dalem, Bareng, Jombang;
(35) M. Munawar: Sonoageng, Prambon, Nganjuk;
(36) M. Munir: Ngrembang, Rejo Agung, Ngoro, Jombang;
(37) Mukmin Fadholi: Kendal Rejo, Talun, Blitar;
(38) Muslimin: Blabak, Kandat, Kediri;
(39) Musta'an: Plemahan Kediri;
(40) Qomaruddin: Ngadiloyo, Ngadiluwih, Kediri;
(41) Saiqu Rosidin: RT 9 Blabak, Kandat, Kediri;
(42) Siswo Utomo: Paron, Gampeng Rejo, Kediri;
(43) Suprihadi: Jambu, Tunge, Wates, Kediri;
(44) Thohir Afandi: Jl. Sumber Agung, Tunglur, Pare, Kediri;
(45) Tolib: Minggirsari, Kanigoro, Blitar;
(46) Yahya: Kampung Baru, Tanjung Anom, Nganjuk;
(47) Zainal Abidin: Badal Pandean, Ngadiluwih, Kediri;
(48) Zainuddin: Badal Pandean, Ngadiluwih, Kediri.
Mudah-mudahan nama-nama tersebut senantiasa dalam ingatan kita, dan sewaktu-waktu mudah-mudahan kita dipertemukan kembali.
(1) Abdul Ghofur: Sumber Agung, Krecek, Pare, Kediri;
(2) Abdul Mutholib: Jambu, Tunge, Wates, Kediri;
(3) Achmad Jamil Choiri: Blabak Kota, Pesantren Kodya Kediri;
(4) Adib Tamimi: Dkh. Bondo, Jajar, Wates, Kediri;
(5) Ahmad Baedlowi: Juwet, Ngronggot, Nganjuk;
(6) Ahmad Syafi'in: Indra, Delik, Bungah, Gresik;
(7) Ambar Sugito (Alm.): Tambakrejo, Gurah, Kediri;
(8) Asmuni: Selosari, Prambon, Dagangan, Madiun;
(9) Ayub: Sanggrahan, Prambon, Nganjuk;
(10) Badrul Qomar: Adan-adan, Gurah, Kediri;
(11) Badrut Tamam: Rejomulya Kodya Kediri;
(12) Basori Alwi: Pule, Kandat, Kediri;
(13) Dardiri: Bandung, Prambon Nganjuk;
(14) Imam Bukhori: Jl. Mastrip 14A, Sukorame Kodya Kediri;
(15) Imam Khudori: Kampung Baru, Tanjung Anom, Nganjuk;
(16) Imam Maksum: Sumber Agung RT 54/09, Wates, Kediri;
(17) Imam Nawawi: Toyoresmi, Gampengrejo, Kediri;
(18) Imam Syafi'i: Pakisrejo, Srengat, Blitar,
(19) Jauhar Hatta: RT 01/03, Mojo Agung, Prambon, Nganjuk;
(20) Jaini Musthofa: Suko Anyar, Mojo, Kediri;
(21) Khoirul Anam: Betet, Ngronggot, Nganjuk;
(22) Khoiri MN: RT 17/05 Dayu, Nglegok, Blitar;
(23) Mahmud: Pulosari, Papar, Kediri;
(24) Maslam: Badas Pare Kediri;
(25) Maulin: Slumbung, Ngadiluwih, Kediri;
(26) Moh. Anwar Fauji: Sumber Cangkring, Gurah, Kediri;
(27) Moh. Anwar Zainuri: RT 21/08 Betet, Pesantren, Kediri;
(28) Moch. Ridlo'i: Gabru, Kepuhrejo, Gampengrejo, Kediri;
(29) Moch. Sobir Afiel: RT 08/03 Jatirejo,Grogol, Kediri;
(30) Moh. Sobirin: Gemaharjo, Watulimo, Trenggalek;
(31) Mohammad Syaerozi: RT 02/02 Badal Pandean, Ngadiluwih, Kediri;
(32) Mokhammad Ansori: RT 45/06 Tunge, Wates, Kediri;
(33) M. Ali Ridlo: RT 12/04, Tanjung Tani, Prambon, Nganjuk;
(34) M. Mujib: Kebon Dalem, Bareng, Jombang;
(35) M. Munawar: Sonoageng, Prambon, Nganjuk;
(36) M. Munir: Ngrembang, Rejo Agung, Ngoro, Jombang;
(37) Mukmin Fadholi: Kendal Rejo, Talun, Blitar;
(38) Muslimin: Blabak, Kandat, Kediri;
(39) Musta'an: Plemahan Kediri;
(40) Qomaruddin: Ngadiloyo, Ngadiluwih, Kediri;
(41) Saiqu Rosidin: RT 9 Blabak, Kandat, Kediri;
(42) Siswo Utomo: Paron, Gampeng Rejo, Kediri;
(43) Suprihadi: Jambu, Tunge, Wates, Kediri;
(44) Thohir Afandi: Jl. Sumber Agung, Tunglur, Pare, Kediri;
(45) Tolib: Minggirsari, Kanigoro, Blitar;
(46) Yahya: Kampung Baru, Tanjung Anom, Nganjuk;
(47) Zainal Abidin: Badal Pandean, Ngadiluwih, Kediri;
(48) Zainuddin: Badal Pandean, Ngadiluwih, Kediri.
Mudah-mudahan nama-nama tersebut senantiasa dalam ingatan kita, dan sewaktu-waktu mudah-mudahan kita dipertemukan kembali.
Awal Keinginan Reuni III-5 PGAN Kediri (Lulusan 1989)
Dalam ritual mudik pada lebaran 1428 H yang lalu, secara tidak sengaja tersambung komunikasi diantara beberapa teman alumni PGAN Kediri. Awalnya, mas Shobir yang sekarang jadi pengusaha di Yogyakarta menemukan nomor hp saya (Thohir Afandi). Komunikasi berlanjut dan akhirnya disepakati dilakukan 'meeting' kecil-kecilan di masjid PGAN Kediri saat lebaran Idul Fitri 1428 H (2007) yang lalu itu.
Apesnya, dalam proses komunikasi persiapan 'meeting' yang kecil tersebut diperoleh kabar bahwa tidak banyak yang bisa hadir, apalagi mas Suprihadi yang di Plosoklaten yang diharapkan jadi komandan untuk teman-teman yang di Kediri ternyata juga ada agenda ritual mudik ke rumah mertua di Lumajang. Praktis dengan situasi tersebut, 'janjian' untuk bertemu menjadi agak kocar-kacir. Beberapa yang sempat 'nyambung' adalah mas Abdul Ghofur (Yogyakarta), mas Ali Ridlo (Jakarta), mas Basori Alwi (Yogyakarta). Namun itu semua menjadi kacau karena janjian tidak solid.
Dalam perkembangannya, meski secara diam-diam ternyata juga berhasil terhubungi mas Muslimin (Kediri), mas Abdul Mutholib (Wates), mas Qomaruddin (Kras), dan lain-lain. Namun oleh karena janjian yang kurang solid tersebut, saya termasuk yang menjadi kurang taat waktu dan saya putuskan untuk datang di PGAN pada jam sholat dhuhur dari rencana semula pukul 9.00 pagi. Praktis dengan kondisi tersebut akhirnya yang telanjur sudah menunggu menjadi nggak sabar dan pulang. Wuih.... saya merasa bersalah banget, tapi apa boleh buat karena informasinya maju mundur sehingga keterikatan dengan janji bertemu juga menjadi longgar.
Saat saya datang di PGAN Kediri (di masjid) situasi seperti baru selesai orang menjalankan sholat dhuhur. Saya segera menyusul sholat, dilanjutkan dengan tengok sana-sini, melihat sudut-sudut masjid yang sudah 19 tahun ditinggalkan. Banyak sekali memory indah selama menjadi bagian dari ta'mir terbayang jelas dalam pikiran. Tak mau larut dalam imajinasi masa lalu yang berlebihan, segera saya putuskan untuk meluncur sowan ke ndalem Al-mukarrom, Al-ustadz Al-Akbar, Bpk. Drs. M. Sudja'i Habib di Ngronggo. Alhamdulillah, beliau sedang longgar dan berkenan menerima sowan kami.
Saking lamanya tidak bertemu beliau (Bpk. Sudja'i Habib), pembicaraan menjadi hangat dan panjang lebar. Beliau menemui dengan gaya lamanya, bersarung dan berbaju rapi, berkopyah, dan tetap memancarkan sosok beliau yang 'berilmu' dan 'berwibawa'. Saya dan istri menyampaikan salam ta'dzim kepada beliau.
Dari pembicaraan yang panjang lebar, termasuk yang saya ceritakan kepada beliau adanya keinginan teman-teman untuk bersama-sama sowan tetapi gagal karena janjian yang kurang solid, beliau mengungkapkan keinginannya yang sangat kuat untuk dapat bertemu dan ber-reuni dengan teman-teman. Pada saat bersamaan, mas Basori Alwi menghubungi saya selagi saya bercengkerama dengan beliau, sayang mas Basori posisi sudah telanjur di Pule Kandat sehingga tidak bisa bergabung sowan ke beliau. Singkat cerita, dari sowan tersebut beliau berpesan agar teman-teman dapat berhimpun untuk serius memikirkan rencana reuni pada tahun berikutnya, dan beliau ingin ikut hadir di tengah-tengah reuni tersebut.
Tanpa terasa ternyata ritual 'sowan' ke pak Dja'i (begitu kami dulu memanggil beliau) sudah berlangsung 3 jam, hingga akhirnya saya berpamitan. Dalam perjalanan pulang ke Pare, alhamdulillah ternyata mas Shobir menghubungi ke hp saya, akhirnya pertemuan kecil berhasil terlaksana sore harinya di masjid PGAN Kediri. Mas Shobir dengan istri dan jejaka anak semata wayang-nya, sementara saya ditemani istri, 2 anak, dan 1 keponakan. Nah.. dari pertemuan kecil ini akhirnya saya disambungkan dengan mas Qomaruddin dll., dan berlanjut dengan angan-angan dan rencana menyelenggarakan reuni sederhana pada tahun berikutnya.
Website ini menjadi salah satu media untuk mewujudkan keinginan tersebut, sambil terus dihimpun informasi keberadaan teman-teman yang sudah menyebar di mana-mana, termasuk mas Maulin yang telah menjadi ulama di Kalimantan, mas Ali Ridlo yang menjadi ustadz di Jakarta, mas Jauhar yang menjadi akademisi di IAIN Yogyakarta, dst.
Mudah-mudahan keinginan untuk reuni ini dapat terwujud, sehingga jalinan tali silaturrahmi yang telah ada dapat terpelihara dengan baik, amin.
Salam kangen
Thohir Afandi
Kementerian Negara PPN/Bappenas
Apesnya, dalam proses komunikasi persiapan 'meeting' yang kecil tersebut diperoleh kabar bahwa tidak banyak yang bisa hadir, apalagi mas Suprihadi yang di Plosoklaten yang diharapkan jadi komandan untuk teman-teman yang di Kediri ternyata juga ada agenda ritual mudik ke rumah mertua di Lumajang. Praktis dengan situasi tersebut, 'janjian' untuk bertemu menjadi agak kocar-kacir. Beberapa yang sempat 'nyambung' adalah mas Abdul Ghofur (Yogyakarta), mas Ali Ridlo (Jakarta), mas Basori Alwi (Yogyakarta). Namun itu semua menjadi kacau karena janjian tidak solid.
Dalam perkembangannya, meski secara diam-diam ternyata juga berhasil terhubungi mas Muslimin (Kediri), mas Abdul Mutholib (Wates), mas Qomaruddin (Kras), dan lain-lain. Namun oleh karena janjian yang kurang solid tersebut, saya termasuk yang menjadi kurang taat waktu dan saya putuskan untuk datang di PGAN pada jam sholat dhuhur dari rencana semula pukul 9.00 pagi. Praktis dengan kondisi tersebut akhirnya yang telanjur sudah menunggu menjadi nggak sabar dan pulang. Wuih.... saya merasa bersalah banget, tapi apa boleh buat karena informasinya maju mundur sehingga keterikatan dengan janji bertemu juga menjadi longgar.
Saat saya datang di PGAN Kediri (di masjid) situasi seperti baru selesai orang menjalankan sholat dhuhur. Saya segera menyusul sholat, dilanjutkan dengan tengok sana-sini, melihat sudut-sudut masjid yang sudah 19 tahun ditinggalkan. Banyak sekali memory indah selama menjadi bagian dari ta'mir terbayang jelas dalam pikiran. Tak mau larut dalam imajinasi masa lalu yang berlebihan, segera saya putuskan untuk meluncur sowan ke ndalem Al-mukarrom, Al-ustadz Al-Akbar, Bpk. Drs. M. Sudja'i Habib di Ngronggo. Alhamdulillah, beliau sedang longgar dan berkenan menerima sowan kami.
Saking lamanya tidak bertemu beliau (Bpk. Sudja'i Habib), pembicaraan menjadi hangat dan panjang lebar. Beliau menemui dengan gaya lamanya, bersarung dan berbaju rapi, berkopyah, dan tetap memancarkan sosok beliau yang 'berilmu' dan 'berwibawa'. Saya dan istri menyampaikan salam ta'dzim kepada beliau.
Dari pembicaraan yang panjang lebar, termasuk yang saya ceritakan kepada beliau adanya keinginan teman-teman untuk bersama-sama sowan tetapi gagal karena janjian yang kurang solid, beliau mengungkapkan keinginannya yang sangat kuat untuk dapat bertemu dan ber-reuni dengan teman-teman. Pada saat bersamaan, mas Basori Alwi menghubungi saya selagi saya bercengkerama dengan beliau, sayang mas Basori posisi sudah telanjur di Pule Kandat sehingga tidak bisa bergabung sowan ke beliau. Singkat cerita, dari sowan tersebut beliau berpesan agar teman-teman dapat berhimpun untuk serius memikirkan rencana reuni pada tahun berikutnya, dan beliau ingin ikut hadir di tengah-tengah reuni tersebut.
Tanpa terasa ternyata ritual 'sowan' ke pak Dja'i (begitu kami dulu memanggil beliau) sudah berlangsung 3 jam, hingga akhirnya saya berpamitan. Dalam perjalanan pulang ke Pare, alhamdulillah ternyata mas Shobir menghubungi ke hp saya, akhirnya pertemuan kecil berhasil terlaksana sore harinya di masjid PGAN Kediri. Mas Shobir dengan istri dan jejaka anak semata wayang-nya, sementara saya ditemani istri, 2 anak, dan 1 keponakan. Nah.. dari pertemuan kecil ini akhirnya saya disambungkan dengan mas Qomaruddin dll., dan berlanjut dengan angan-angan dan rencana menyelenggarakan reuni sederhana pada tahun berikutnya.
Website ini menjadi salah satu media untuk mewujudkan keinginan tersebut, sambil terus dihimpun informasi keberadaan teman-teman yang sudah menyebar di mana-mana, termasuk mas Maulin yang telah menjadi ulama di Kalimantan, mas Ali Ridlo yang menjadi ustadz di Jakarta, mas Jauhar yang menjadi akademisi di IAIN Yogyakarta, dst.
Mudah-mudahan keinginan untuk reuni ini dapat terwujud, sehingga jalinan tali silaturrahmi yang telah ada dapat terpelihara dengan baik, amin.
Salam kangen
Thohir Afandi
Kementerian Negara PPN/Bappenas
Merajut Kembali Jaringan Lama yang Nyaris Hilang
Pada saat posting ini saya tulis, kira-kira sudah 19 (sembilan belas) tahun yang lalu kami-kami ini berpisah dengan teman-teman sekelas di PGAN Kediri. Kami lulus dari PGAN Kediri pada tahun 1989 dan saat itu kami tergabung dalam kelompok Kelas III-5.
Banyak sekali kenangan manis yang tidak mungkin dengan mudah terlupakan. Keakraban dan 'keluguan' bersama menjadi salah satu yang paling menarik untuk diingat dan dikenang. Meski sekolah kami di kota Kediri, tetapi jujur saja sebagian besar dari kami justru datang dari kampung-kampung yang tersebar di sekitar kota Kediri, misalnya dari Trenggalek (halo mas Sobirin), ada yang dari Blitar (halo mas Tholib, mas Imam Syafi'i dkk), ada yang dari Nganjuk (halo mas Jauhar, mas Ali Ridlo, mas Yahya, dan banyak lagi...), ada yang dari Jombang (halo mas Mujib dan mas Munir), ada yang dari Tulung Agung (siapa ya...), ada yang dari Wates (mas Suprihadi, mas Maulin, mas Abd. Mutholib, mas Imam Maksun, mas Anshori, dll.) ada yang dari Grogol (halo mas Shobir, pengusaha sukses di Yogyakarta), ada yang dari Gurah (halo mas Ridlo'i, dan almaghfurullah mas Ambar Sugito), ada yang dari Gresik (halo mas Ahmad Syafi'in), ada yang dari Keras (halo mas Zaenal Abidin, mas Qomaruddin, dkk.) ada yang dari Papar (halo mas Jamil Khoiri), ada yang dari Sukorame (halo mas Imam Bukhori).... dan masih banyak lagi yang belum saya sebut satu persatu.
Ketika mengingat masa-masa di PGA, hal yang terbayang adalah sosok murid yang rapi, baju abu2 putih berdasi dengan pin kebanggaan PGAN menempel di dada kiri, sebagian berkopyah bak santri Lirboyo, ada yang necis dasi-nya cuma dililitkan saja dan sering dikalungkan ke pundak (halo mas Jamil) dan lain-lain. Hal lain yang tidak bisa dilupakan pula adalah suasana yang 'cair' dalam komunikasi dan guyonan diantara teman-teman, apalagi kalau di kelas sudah ada salah satu teman yang mengantuk, ada saja yang menjadikannya sebagai 'victim of joke', misalnya: "waduh.. bis sudah berangkat nih, penumpang kepalanya sudah mulai goyang-goyang" he.. he.... pasti respon yang lain: gerrr......!
Sudah barang tentu hal yang mudah diingat tidak terbatas dan hanya yang lucu-lucu saja, tetapi kedisiplinan dan kewibawaan PGAN saat itu menjadi pengingat tersendiri. Sosok yang tidak bisa dilepaskan dari label disiplin dan wibawa ini adalah sosok sang Pemimpin Sekolah, yaitu Al-mukarrom, Al-ustadz Al-Akbar, Romo KH. Drs. M. Sudja'i Habib, M.Si. Beliau adalah sosok panutan yang luar biasa, baik dalam hal keilmuan, kedisiplinan, keluhuran akhlak, kewibawaan, dan lain-lain. Hingga sekarang, perilaku beliau tetap melekat sebagai pedoman dan suri tauladan bagi kebanyakan para murid di PGAN kala itu.
Singkat kata, bicara tentang PGAN Kediri ibarat mengingat sesuatu yang luar biasa dan tidak ada habisnya untuk diceritakan. Oleh karenanya, blog ini saya buat untuk menampung kesan dan memory teman-teman tentang PGAN Kediri, sekaligus sebagai media untuk merajut kembali tali silaturrahmi yang sudah kira-kira 19an tahun tak terhubung. Termasuk di dalamnya adalah untuk meng-update keadaan terakhir dan domisili masing-masing.
Bila teman-teman ingin menulis dan ingin tulisannya dimasukkan dalam blog ini, silahkan menulis dan di faks ke saya, Thohir Afandi, di (021) 3193-4779, atau dikirim via email ke thohir.afandi@gmail.com
Mudah-mudahan media ini dapat bermanfaat untuk kita bersama, amin.
Salam kangen untuk semua,
Thohir Afandi
Kementerian Negara PPN/Bappenas
Banyak sekali kenangan manis yang tidak mungkin dengan mudah terlupakan. Keakraban dan 'keluguan' bersama menjadi salah satu yang paling menarik untuk diingat dan dikenang. Meski sekolah kami di kota Kediri, tetapi jujur saja sebagian besar dari kami justru datang dari kampung-kampung yang tersebar di sekitar kota Kediri, misalnya dari Trenggalek (halo mas Sobirin), ada yang dari Blitar (halo mas Tholib, mas Imam Syafi'i dkk), ada yang dari Nganjuk (halo mas Jauhar, mas Ali Ridlo, mas Yahya, dan banyak lagi...), ada yang dari Jombang (halo mas Mujib dan mas Munir), ada yang dari Tulung Agung (siapa ya...), ada yang dari Wates (mas Suprihadi, mas Maulin, mas Abd. Mutholib, mas Imam Maksun, mas Anshori, dll.) ada yang dari Grogol (halo mas Shobir, pengusaha sukses di Yogyakarta), ada yang dari Gurah (halo mas Ridlo'i, dan almaghfurullah mas Ambar Sugito), ada yang dari Gresik (halo mas Ahmad Syafi'in), ada yang dari Keras (halo mas Zaenal Abidin, mas Qomaruddin, dkk.) ada yang dari Papar (halo mas Jamil Khoiri), ada yang dari Sukorame (halo mas Imam Bukhori).... dan masih banyak lagi yang belum saya sebut satu persatu.
Ketika mengingat masa-masa di PGA, hal yang terbayang adalah sosok murid yang rapi, baju abu2 putih berdasi dengan pin kebanggaan PGAN menempel di dada kiri, sebagian berkopyah bak santri Lirboyo, ada yang necis dasi-nya cuma dililitkan saja dan sering dikalungkan ke pundak (halo mas Jamil) dan lain-lain. Hal lain yang tidak bisa dilupakan pula adalah suasana yang 'cair' dalam komunikasi dan guyonan diantara teman-teman, apalagi kalau di kelas sudah ada salah satu teman yang mengantuk, ada saja yang menjadikannya sebagai 'victim of joke', misalnya: "waduh.. bis sudah berangkat nih, penumpang kepalanya sudah mulai goyang-goyang" he.. he.... pasti respon yang lain: gerrr......!
Sudah barang tentu hal yang mudah diingat tidak terbatas dan hanya yang lucu-lucu saja, tetapi kedisiplinan dan kewibawaan PGAN saat itu menjadi pengingat tersendiri. Sosok yang tidak bisa dilepaskan dari label disiplin dan wibawa ini adalah sosok sang Pemimpin Sekolah, yaitu Al-mukarrom, Al-ustadz Al-Akbar, Romo KH. Drs. M. Sudja'i Habib, M.Si. Beliau adalah sosok panutan yang luar biasa, baik dalam hal keilmuan, kedisiplinan, keluhuran akhlak, kewibawaan, dan lain-lain. Hingga sekarang, perilaku beliau tetap melekat sebagai pedoman dan suri tauladan bagi kebanyakan para murid di PGAN kala itu.
Singkat kata, bicara tentang PGAN Kediri ibarat mengingat sesuatu yang luar biasa dan tidak ada habisnya untuk diceritakan. Oleh karenanya, blog ini saya buat untuk menampung kesan dan memory teman-teman tentang PGAN Kediri, sekaligus sebagai media untuk merajut kembali tali silaturrahmi yang sudah kira-kira 19an tahun tak terhubung. Termasuk di dalamnya adalah untuk meng-update keadaan terakhir dan domisili masing-masing.
Bila teman-teman ingin menulis dan ingin tulisannya dimasukkan dalam blog ini, silahkan menulis dan di faks ke saya, Thohir Afandi, di (021) 3193-4779, atau dikirim via email ke thohir.afandi@gmail.com
Mudah-mudahan media ini dapat bermanfaat untuk kita bersama, amin.
Salam kangen untuk semua,
Thohir Afandi
Kementerian Negara PPN/Bappenas
Subscribe to:
Comments (Atom)