Sungguh tak terpikir, apa yang mungkin terjadi seandainya saat itu tidak ada yang namanya Mak Mbrot dengan warung murahnya. Warung Mak Mbrot sudah sedemikian melegenda, lebih-lebih konsep warung yang ditawarkan begitu 'match' alias pas dengan situasi finansial kebanyakan siswa PGA saat itu, yang notabene berkategori pas-pasan. Kehadirannya benar-benar dianggap sebagai berkah bak hujan yang turun dalam suasana kemarau terik.
Menyangkut nama Mak Mbrot, sebenarnya merupakan sebutan yang kurang elok, bahkan ada kemungkinan yang bersangkutan akan marah bila tahu dan mendengar dipanggil demikian. Buktinya saat para pelanggan makan di sana, hampir tidak satupun yang berani memanggil dengan panggilan Mak Mbrot, tetapi cukup memanggilnya dengan panggilan Mak. Tapi apa boleh buat, justru dengan sebutan tersebut orang akan lebih mudah mengingat dan bahkan bisa menjadi terkiwir-kiwir karenanya.
Terlepas dari suka atau tidak suka dengan julukan dan panggilan tersebut, adalah layak untuk mengenang masa-masa menjadi pelanggan tetap Mak Mbrot. Salah satu kenangan yang paling mudah diingat adalah porsi makanan yang demikian 'yahui' banyak, sebuah porsi yang pas bagi perut-perut keturunan petani yang bekerja keras, sekaligus perut-perut sosok manusia yang masih dalam masa pertumbuhan, he... he.... Saat itu, mungkin kebanyakan kita tidak banyak berfikir tentang komposisi dan kualitas gizi yang kita makan, tetapi saat itu yang sering kita pentingkan adalah 'kenyang' dan 'kepuasan'. Belum lagi kalau ada kegiatan, biasanya panitia nge-plot pesen makan siangnya ya ke Mak Mbrot ini.
Ritual makan di Mak Mbrot saat itu memang terasa biasa saja, tetapi setelah lama sekali tidak berkunjung ke sana, sepertinya saat-saat itu menjadi momentum yang istimewa untuk dikenang. Keberadaannya bagai tak terpisahkan dengan kenangan manis selama belajar di PGAN Kediri. Bravo Mak Mbrot...!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment