Thursday, March 27, 2008

Sosok Pak Sudja'i Habib di Mata Para Alumni

Ada pepatah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa para pendahulunya. Sekilas pepatah tersebut terasa klise dan oldy, tetapi apabila direnungkan secara sungguh-sungguh dan mendalam, banyak sekali bisikan hikmah yang dapat dipetik untuk menjadi pedoman bersama. Salah satu dari pemahaman atas pepatah tersebut adalah diingatkannya kita tentang mata ranti kehidupan. Bahwa kehidupan ini adalah mata rantai yang saling berkait dan saling mempengaruhi antara satu titik kehidupan dengan titik kehidupan lainnya. Kejadian hari ini adalah akibat kejadian hari kemarin. Prestasi hari ini adalah kumpulan dari kepingan-kepingan pengalaman dan hasil interaksi kita dengan lingkungan kita di waktu-waktu sebelumnya. Oleh karenanya, menjadi salah besar dan termasuk kelompok orang-orang yang “sombong” apabila seseorang mengatakan bahwa prestasi yang diraih hari ini adalah murni akibat usaha dan karyanya sendiri dan steril dari pertauan dengan masa lalunya.

Dalam pemahaman seperti diuraikan di atas, tulisan ini mencoba untuk mengajak teman-teman yang saat ini sudah menyebar di berbagai daerah dengan berbagai profesi yang beragam, mulai dari profesi sebagai pendidik, pengusaha, birokrat, wiraswasta, sampai menjadi politisi, untuk mencoba mengenang kembali sosok dan figur yang begitu berarti dari PGAN Kediri, yaitu Bpk. Drs. M. Sudja’i Habib, MM. Beliau adalah mantan Kepala PGAN Kediri periode 1980-an hingga 1990-an. Tidak bisa dipungkiri, sosok beliau ini adalah sosok yang sangat menonjol, tidak saja dalam hal kepemimpinannya di PGAN Kediri, tetapi juga dalam hal pengaruhnya yang sangat besar kala itu (hingga sekarang) di wilayah kota Kediri khususnya. Pribadi yang santun, dengan penguasaan keilmuan agama yang sangat dalam dan didukung oleh kemampuan menyampaikan pemikiran yang sangat baik menjadikan beliau sebagai “ikon” sosok dan tokoh pembangunan di bidang pendidikan dan agama di kota Kediri. Tentu tidak mudah pula memisahkan peran dan campur tangan beliau dengan apa yang telah dicapai oleh para mantan anak didiknya saat ini. Peran beliau dirasakan begitu besar bagi sebagian besar mantan anak-anak didiknya, sehingga dalam berbagai kesempatan, selalu saja topik yang mengemuka adalah topik mengupas kembali kenangan tentang sosok beliau.

Pada tulisan ini akan dirilis rangkaian kesan-kesan tentang sosok beliau yang berhasil dihimpun dari beberapa alumni PGAN Kediri tahun 1989, khususnya kelas III/5. Misalnya, di mata M. Sobir (politisi dan pengusaha, Yogyakarta), pak Dja’i (panggilan akrab untuk beliau) adalah sosok orang besar meski kecil dalam penampakan (baca: postur tubuh). Dalam pandangannya, beliau ini adalah orang besar dalam banyak hal, antara lain besar dalam penguasaan ilmu, besar dalam pemikiran, besar dalam semangat, besar dalam pengaruh, besar dalam disiplin, besar dalam perhatian, besar dalam konteks keagamaan, besar dalam kepribadian, dan bahkan menjadi sangat besar dalam kesan yang ditinggalkannya di mata para mantan anak didiknya. Memang, rasanya tidak berlebihan apabila beliau digambarkan seperti demikian. Kiprah beliau di banyak hal dirasakan sangat menonjol, sehingga tidak ada kata lain kecuali yang memang “orang besar” seperti dikatakan oleh M. Sobir ini.

Sementara itu, Qomaruddin (wiraswasta, Kediri) melihat sosok pak Dja’i sebagai pribadi yang tidak banyak bicara, selektif dalam mengeluarkan kata, tetapi setiap pembicaraan atau kata yang beliau keluarkan selalu menjadi perhatian banyak pihak, dan bahkan memiliki dampak besar bagi perilaku orang-orang di sekelilingnya. Mungkin Qomaruddin ini hendak mengatakan bahwa singkatnya beliau ini adalah sosok yang pribadi yang berwibawa yang selalu berpengaruh bagi lingkungan sekitarnya. Hal ini juga di-amini oleh M. Ali Ridlo (pengasuh pesantren, Jakarta Pusat) bahwa sosok pak Dja'i memang menggambarkan sosok manusia berwibawa, bahkan secara ekstrim dikatakan bahwa meskipun dari segi postur pak Dja'i itu orangnya kecil, tetapi aura wibawanya tak terbendung dan disegani oleh banyak kalangan.

Kesan senada tentang pak Dja’i juga dikemukakan oleh Basori Alwi (Kepala KUA, di Yogyakarta), bahwa dalam kesan beliau pak Dja’i ini adalah sosok pimpinan dan pendidik yang berwibawa, baik di mata anak-anak didik maupun di mata para dewan guru. Kewibawaannya dapat dirasakan baik di kala berhadapan langsung dengan beliau maupun saat tidak berhadapan langsung, juga kewibawaan yang ditunjukkan melalui sikap maupun ucapan. Ekstrimnya, menurut Basori Alwi, sikapnya saja sudah dapat merubah perilaku orang, apalagi ucapannya.

Berbeda dengan kesan-kesan yang digambarkan di atas, kesan mendalam tentang pak Dja’i tetapi dalam perspektif yang berbeda juga ada pada H. Jauhar Hatta (dosen IAIN Yogyakarta, tinggal di Banjarnegara), bahwa dalam pandangan beliau pak Dja’i ini disebut sebagai rojulun ‘aalimun, rojulun shaalihun, dan rojulun syujjaa’, yang dengan atribut-atribut itu menjadikan beliau sukses mendidik dan mengkader generasi muda Islam serta mampu mewarnai sisi religiusitas Pemkot Kediri berikut masyarakatnya. Dalam konteks ini, tentu masih segar dalam ingatan segenap alumni di era beliau, dan sekedar untuk me-refresh catatan kita bersama, bahwa pada era beliau (pak Dja’i) masjid PGAN Kediri dalam setiap bulan Ramadhan selalu memperoleh predikat sebagai masjid yang mampu menyedot animo jama’ah paling besar di antara masjid-masjid yang ada di kota Kediri, meski kita tahu bahwa ukuran masjid PGAN Kediri kala itu tidak sebanding dengan misalnya masjid Jami’ Kota Kediri yang ada di Alun-alun kota. Tetapi fakta memang demikian, bahkan saat itu jama’ah banyak sekali mengalir dari wilayah yang jauh dari PGAN, misalnya dari Baluwerti, Dandangan, dll.

Apa yang digambarkan di atas baru merupakan kesan dari sebagian kecil alumni yang berhasil dihimpun. Tentu masih banyak lagi kesan-kesan lain yang tidak kalah “seru”-nya dalam menggambarkan sosok beliau sebagai pendidik dan pemimpin yang sukses. Komentar dan kesan dari segenap alumni tetap ditunggu dan akan di-upload di tulisan ini. Terima kasih pak Dja’i, ketekunan dan ketelatenan Bapak benar-benar kami rasakan dampak dan manfaatnya saat ini. (Thohir Afandi, 27 Maret 2008)

Monday, March 24, 2008

Menggagas Peluang Ekonomi dari Jaringan Alumni

Di tengah gencarnya upaya Pemerintah melaksanakan kegiatan-kegiatan pengentasan kemiskinan, tidak sedikit upaya sejenis telah dilakukan oleh banyak pihak, baik dalam konteks individu maupun kelompok. Dari segi individu, banyak sekali kita temukan pribadi-pribadi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama yang berbuah pada 'usaha' untuk turut memberdayakan kelompok yang lemah. Ini antara lain diwujudkan melalui upaya peminjaman modal sekaligus pembelajaran usaha kepada pihak yang tidak mampu. Atau upaya pemberdayaan melalui pembukaan lapangan kerja seperti melibatkan kaum yang lemah dalam berbagai kegiatan usaha ekonomi yang dimiliki. Betapapun kecil dan sederhananya upaya 'pemberdayaan' yang dilakukan, tetap besar manfaat dan dampaknya bagi pembangunan dan pengembangan kesejahteraan bersama. Sedangkan dari segi kelompok, lebih banyak lagi yang dapat kita saksikan langkah dan upaya yang dilakukan untuk tujuan yang sama. Sebut saja, misalnya, munculnya lembaga-lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial dan kemasyarakatan yang belakangan tumbuh pesat. Termasuk di dalamnya lembaga yang lahir untuk memanfaatkan peluang ekonomi kerakyatan yang nyata, misalnya, lembaga professional pengelola ZIS (zakat, infaq, dan sedekah). Lembaga-lembaga ini dengan segala usaha dan ikhtiarnya telah menunjukkan gejala yang menggemberikan bagi upaya pengentasan kemiskinan sekaligus meningkatkan kesejahteraan kaum yang lemah.

Salah satu peluang ekonomi sekaligus modal yang tidak kecil artinya bagi pengembangan ekonomi adalah kekuatan jaringan. Tentu jaringan yang dimaksud dalam konteks ini adalah jaringan yang solid, yang memiliki pemahaman dan persepsi yang sama dalam hal tertentu sehingga usaha menggunakan jaringan untuk tujuan tertentu dimaknai sama dan secara konsisten masing-masing anggota jaringan dapat menyikapi secara sama dan dalam level kedisiplinan yang sama pula. Dalam konteks tersebut, patut diperhitungkan kekuatan jaringan yang telah lama terbentuk, terutama jaringan yang memiliki keterikatan kultur dan karakter yang sama, sekaligus perasaan 'kebersamaan' yang tinggi. Salah satu yang mungkin perlu dilirik adalah kekuatan jaringan alumni. Meski jaringan ini masih cenderung dianggap rapuh, tetapi dengan upaya yang terus menerus tidak mustahil dapat dibangun kekuatan jaringan alumni yang solid seperti digambarkan di awal paragraph ini. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperkuat jaringan tersebut, antara lain adalah: meningkatkan frekuensi komunikasi antar anggota jaringan, baik dalam arti komunikasi secara bersama maupun komunikasi secara individual diantara sesama jaringan alumni; membangun simpul-simpul jaringan alumni menurut area geografis, sehingga dengan simpul-simpul itu komunikasi dapat dilakukan lebih mudah dan penyebaran informasi antar anggota dapat dilakukan dengan cara yang lebih cepat; menyelenggarakan kegiatan-kegiatan informal yang sebanyak mungkin melibatkan anggota jaringan yang ada, misalnya kegiatan reuni, kegiatan family gathering, dan lain-lain. Tentu yang ini tidak dapat dilakukan dalam frekuensi yang berlebihan juga untuk menghindari dampak yang justru kontra produktif.

Sekali jaringan alumni terbangun secara solid, maka akan mudah memanfaatkan dan menggunakan jaringan tersebut untuk tujuan kemakmuran seperti disinggung di awal tulisan. Salah satu model (tetapi bukan satu-satunya model) yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan jaringan sebagai mata rantai pemasaran (marketing) produk tertentu yang disepakati melalui aturan tertulis yang disusun bersama dengan orientasi keuntungan secara adil untuk semua. Mungkin agak sulit membayangkan seperti apa "makhluk" yang disebut ini, tetapi akan mudah apabila proses itu telah dilewati. Salah satu pengalaman menarik penulis yang kebetulan adalah salah satu pengurus RT adalah pengalaman memanfaatkan warga RT untuk menjadi sumber kemakmuran bersama. Prinsipnya sederhana: menjadikan kebutuhan hidup anggota sebagai sumber kemakmuran bagi anggota itu sendiri. Yang dilakukan adalah kurang lebih sebagaimana prinsip-prinsip koperasi, yaitu menghimpun modal dari anggota, me-manage modal anggota, memenuhi kebutuhan anggota, dan membagi keuntungan usaha untuk anggota. Dengan prinsip itu kepada setiap anggota dihimbau untuk selalu menggunakan produk kelompok untuk memenuhi kebutuhan hidup dari pada mengambil/membeli dari toko atau dari pasar. Dengan begitu, setiap sen rupiah yang dibelanjakan akan menghasilkan laba rupiah yang kelak akan dibagi dan dikembalikan lagi kepada masing-masing anggota. Ini baru dan hanya bersifat contoh, tentu banyak lagi kreatifitas lain yang dapat diciptakan untuk suatu kelompok (jaringan) yang sudah solid.

Dalam konteks jaringan alumni, ide ini menjadi semakin strategis dengan mempertimbangkan status alumni saat ini yang sudah menyebar di berbagai daerah dengan bidang usaha dan karir yang juga beragam. Variasi geografis sekaligus keragaman jenis usaha/karir yang ditekuni merupakan modal besar yang bila dapat dikelola dengan baik dapat menjadi sinergi yang strategis. Pola hubungan mutualistis dapat diciptakan dengan pandangan masing-masing dapat saling melengkapi dan mengisi kebutuhan sesama alumni.

Nah, untuk mewujudkan itu semua, pertanyaan terpenting pertama adalah mampukan kita menjadikan jaringan alumni ini menjadi jaringan yang solid. Apabila pertanyaan tersebut dapat kita jawab dengan "ya", maka pertanyaan berikutnya adalah cukupkah kemauan kita untuk menjadikan jaringan ini sebagai modal ekonomi bersama tanpa ada maksud mengeksploitasi antara satu dengan lainnya kecuali dan hanya untuk kepentingan bersama semata. Kemauan ini menjadi faktor terpenting oleh karena dengan kemauan ini semua bisa diciptakan dan diusahakan, termasuk kemauan yang melahirkan kemampuan.

Ini semua hanya dan baru suatu ide/pemikiran, yang perlu direnungkan oleh kita bersama dan untuk merangsang kreatifitas berfikir lainnya. Ingat, tidak sedikit kemajuan suatu kelompok bermula dari ide sederhana tetapi ditekuni dan secara serius dikembangkan. Demikian dan semoga bermanfaat. (Thohir Afandi, Maret 2008)

Wednesday, March 12, 2008

Kolega Kita: H. Mohammad Aqil Abdul Azis

Seringkali selama pergaulan kita di bangku PGAN Kediri, sekat-sekat antar kelas yang satu dengan yang lain sangat dirasakan dalam pergaulan keseharian. Ada kecenderungan bahwa kelompok pergaulan saat itu lebih mudah terbentuk diantara teman sekelas saja, dibanding pergaulan luas yang lintas kelas. Kalau toh ada, mungkin jumlahnya tidak seberapa. Kolom “Kolega Kita” ini dimaksudkan untuk mengisi celah tersebut dengan tujuan untuk melihat dan mengenang teman kita dari kelas lain sekaligus untuk memperkaya referensi pertemanan sesama rekan alumni.

Pada kesempatan ini, kolom “Kolega Kita” diisi dengan kabar sosok teman yang mungkin bagi sebagian kita tidak asing lagi, karena selama di PGAN Kediri yang bersangkutan termasuk kelompok aktifis sekolah dengan menjadi pegiat OSIS maupun Pramuka. Dia adalah H. Mohammad Aqil Abdul Azis. Adakah diantara kita tahu dari kelas mana dia berasal. Bagi yang tahu tentu tidak sulit menjawab, tetapi bagi yang tidak tahu atau sekurang-kurangnya “belum ingat”, dapat diinformasikan bahwa yang bersangkutan adalah teman kita dari kelas III-3. Kelas tersebut relatif mudah diingat karena ke-khas-annya sebagai kelas dengan komposisi yang kurang berimbang dimana siswi sebagai mayoritas dan siswa menjadi kelompok minoritas. Sementara kelas-kelas lain umumnya adalah kelas yang single-sexed class, alias kelas dengan sistem pemisahan antara kelas siswi dan kelas siswa. Kalau tidak salah dari 48 siswa/siswi hanya tercatat 5 atau enam siswa saja. Andai saja saat itu sudah ada kelompok pemusik “Sheila on Seven”, mungkin kita akan menjuluki teman cowok minoritas tersebut dengan kelompok “Pejantan Tangguh” dari PGA, he.. he… just a joke..!

Segera setelah kelulusannya dari PGAN Kediri pada tahun 1989, Sdr. H. Mohammad Akil Abdul Azis ini menjadi satu-satunya alumni yang berani memutuskan untuk meneruskan belajar di pulau seberang, tepatnya di IAIN Imam Bonjol, di Padang. Awal ceritanya, saat itu ada salah seorang alumni PGAN Kediri yang telah menjadi tenaga dosen di IAIN Padang tersebut yang berkunjung ke Kediri dan berkenan mampir ke PGAN Kediri untuk berbagi informasi tentang IAIN Padang. Bila tidak salah, saat itu sebenarnya ada 3 orang yang tertarik untuk belajar di Padang, yaitu Sdr. Mohammad Akil Abdul Azis, Jauhar Hatta, dan saya (Thohir Afandi). Namun setelah ditimbang-timbang akhirnya tinggal mas Akil saja yang mantap dan memutuskan untuk melanjutkan studi di IAIN Padang.

Setelah lama tidak ada kabar, sungguh merupakan keajaiban tersendiri. Saat itu teman kita, H. Moh. Ali Ridlo sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci, di sela-sela ibadah yang dilakukan tampak olehnya sosok yang dirasakan tidak asing meski agak ragu untuk menyapa. Ternyata sosok tersebut betul Sdr. H. Mohammad Akil Abdul Azis seperti yang diduga. Dari pertemuan tersebut maka jalinan tali silaturrahmi mulai tersambung kembali, termasuk dengan saya dan mungkin teman-teman yang lain. Bila tidak salah, mas Ali Ridlo juga membagikan nomor hp beliau ke teman-teman yang lain.

Dari sambungan cerita yang diperoleh, beliau ini ternyata memilih jalur hidup sebagai ulama sekaligus pengusaha di Provinsi Padang. Rintisan usaha dilakukan setelah beliau menyelesaikan kuliah di IAIN Padang. Lambat tapi pasti usaha di bidang trading yang digeluti akhirnya berkembang dengan baik, hingga saat ini akhirnya menjadikan kota Solok sebagai basis bisnis yang digeluti. Salah satu wujud sukses dari bisnis yang digeluti ini adalah keberangkatan beliau ke tanah suci beberapa waktu yang lalu untuk menunaikan ibadah haji. Hal yang sangat membanggakan adalah disela-sela kesibukannya menjalankan roda bisnis, beliau juga rajin menjadi pengasuh pengajian dan menjadi khotib di beberapa masjid di kota Solok.

Beliau menikah dengan putri Minang asal kota Solok, Padang, dan telah dikaruniai anak yang pinter-pinter. Selamat dan sukses selalu pak Akil... (Thohir Afandi, 11 Maret 2008)

Tuesday, March 11, 2008

PGAN Kediri: Hari-Hari Setelah Kau Tiada

Kecintaan kita yang tumbuh secara diam-diam dan di luar kesadaran kita terhadap almamater PGAN Kediri, ternyata sungguh luar biasa. Banyak bukti dan fakta yang menunjukkan gejala tersebut, meski tidak kasat mata tetapi jelas dapat dirasa. Salah satu diantara bukti dan fakta dimaksud adalah tumbuhnya rasa ‘gelo’ kata orang Jawa atas telah dihapuskannya PGAN beberapa tahun setelah kelulusan kita. Perasaan ‘gelo’ tersebut bahkah terasa sebagai bentuk ungkapan rasa kehilangan yang teramat sangat mendalam. Ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang selama ini dibanggakan dan menjadi kebanggaan. Bahkan tidak terbatas sebagai kebanggaan saja, tetapi justru menjadi bagian dari penggalan “sejarah” hidup yang begitu besar dampaknya terhadap pembentukan masa depan dan perilaku para alumninya.

Mungkin tidak berlebihan, apabila rasa kehilangan seperti digambarkan di atas di-analogikan sebagai bentuk rasa ‘kehilangan’-nya dua sejoli yang sedang memadu kasih. Atau lebih buruk lagi, sebagaimana rasa kehilangannya dua insan yang sudah sekian lama bersama, yang satu sama lainnya sudah saling memberi warna dalam kehidupannya, tetapi tiba-tiba hilang salah satunya. Tentu tiba-tiba dunia serasa tidak lengkap, bahkan bumi dirasakan tidak bundar lagi. Sungguh luar biasa memang. Atau jangan-jangan perasaan ini hanya ungkapan yang terlalu dilebih-lebihkan dari seorang yang cenderung ‘melankoli’ dan suka asyik dengan masa lalunya. Tapi itulah “rasa”, sebuah ungkapan batin dan perasaan yang mesti di-share dan dibagi kepada sesamanya.

Sungguh perasaan seperti yang digambarkan di atas seringkali bergelayut manakala kita sedang berkunjung ke kota yang kita cintai, Kediri. Ada perasaan, di sini dulu kita belajar, tetapi di sini pula nama itu telah tiada. Sebutan dan nama yang telah berubah dengan serta merta telah mencabut sebagian dari rasa keterikatan kita dengan kawah candradimuka PGAN yang dulu menjadi tempat belajar kita. Oh.. sedih sekali, rindu sekali, kangeeen banget. Untukmu PGAN-ku. (Thohir Afandi, 10 Maret 2008).

Tuesday, March 04, 2008

PGAN Kediri: Sosok Sekolah Negeri Beraroma Pesantren

Jauh setelah melangkah meninggalkan kenangan manis belajar di PGAN Kediri, seringkali memori bawah sadar muncul begitu saja. Rasanya tidak mudah melupakan masa-masa itu, dan memang tidak perlu dilupakan, bahkan tidak boleh dilupakan. Banyak sekali kejadian lama yang saat itu terasa biasa saja, tetapi justru terasa luar biasa manakala kejadian itu telah jauh meninggalkan kita. Mungkin dalam pendekatan dan pemahaman yang seperti itu maka 'penyesalan' tidak pernah mendahului kejadian, atau setidak-tidaknya penyesalan datang bersamaan dengan kejadian, hampir tidak pernah terjadi. Penyesalan sebagai bentuk telah hadirnya suatu kesadaran yang utuh atas suatu kejadian selalu datang belakangan, terutama setelah pikiran dan suasana batin dalam keadaan tenang, netral, dan tidak dipengruhi suasana subjektif akibat keterlibatan emosi, pikiran, dan bahkan "kepentingan" terhadap kejadian yang sedang terjadi.

Pokok pikiran di atas akan menjadi landasan berpijak dalam menguraikan kenangan manis yang luar biasa selama di PGAN Kediri antara 1986-1989. Dalam pendekatan dan pemikiran di atas, memang saat-saat menjalani aktifitas belajar di sana (pada saat itu) terasa biasa saja, bahkan dalam batas tertentu seringkali terasa berat dan membosankan. Itu wajar dan bisa dimengerti oleh karena mind-set saat itu adalah mind-set sebagai pelaku yang dalam melihat kejadian tersebut menggunakan perspektif yang terbatas. Hal tersebut akan lain sama sekali apabila perspektif yang digunakan adalah perspektif yang lebih luas dan netral seperti perspektif saat ini ketika kita sudah 19 tahun meninggalkan kejadian yang dinilai/dievaluasi/dikenang. Apapun yang terjadi saat itu terasa begitu mempesona, ada keinginan yang luar biasa untuk ber-tamanni (bukan ber-tarojji): "andai saja saya bisa kembali ke saat itu, tentu banyak sekali yang bisa saya lakukan, tentu tidak sedikitpun waktu saya sia-siakan....!, waktu itu terasa begitu strategis dan berharga".

Hal yang sama juga berlaku atas 'kejadian' berupa masa-masa belajar di PGAN Kediri. Ada banyak hal yang saat itu mungkin dipersepsikan sebagai sesuatu yang berat dan penuh aturan. Sehingga melaksanakan dan menjalaninya juga dirasakan sebagai beban yang tidak ringan. Sebagaimana banyak diketahui, saat itu Pimpinan PGAN utamanya Bpk. Drs. Sudja'i Habib, merupakan sosok yang menerapkan disiplin sangat tinggi tidak saja bagi para siswa yang belajar tetapi juga kepada segenap civitas akademika PGAN, diterapkan standard kedisiplinan yang sama. Penulis termasuk salah satu siswa yang pernah merasakan dampak dari standard kedisiplinan tersebut. Akibat terlambat hadir untuk mengikuti upacara, penulis bersama beberapa siswa yang lain terpaksa harus lesehan menikmati hangatnya aspal depan masjid PGAN, sambil menerima 'ceramah' kedisiplinan. Siapa saja pasti punya persepsi sama saat itu, yaitu berat dan penuh kecemasan. Tetapi tentu saat ini siapa saja akan memiliki persepsi lain, terutama setalah melihat hasilnya. Ternyata kedisiplinan yang tinggi tersebut besar dampaknya bagi sukses perjalanan selanjutnya dari segenap alumni PGAN Kediri. Kedisiplinan menjadi salah satu nilai yang selalu dipegang dalam berhadapan dengan masyarakat, dunia kerja, dan pihak-pihak yang lain. Kedisiplinan tentu tidak hanya terbatas pada sikap perilaku lahiriyah saja, tetapi juga disiplin dalam arti sikap moral yang mencerminkan pribadi berintegritas tinggi. Kalau itu semua diingat-ingat kembali, diyakini bahwa persepsi yang semula menganggap pendidikan dan aturan serba berat dan membebani itu justru berubah dan menganggap bahwa hal tersebut malah menjadi kebutuhan yang memang dan mesti diterapkan.

Lalu apa hubungan yang ditulis di atas dengan judul yang tercantum. Sebenarnya yang ditulis di atas sekedar sebagai pengantar untuk mendiskripsikan bagaimana pendekatan manajemen diterapkan di PGAN Kediri saat itu. Dalam hal PGAN dirasakan sebagai institusi pendidikan negeri tetapi beraroma pesantren itu adalah bagian dari persepsi yang timbul setelah sekian lama kejadian menjalani pendidikan dilalui. Persepsi aroma pesantren tidak dilihat dari sisi substansi kurikulum maupun pendekatan dalam PBM (proses belajar mengajar), tetapi lebih kepada sisi dampak yang ditimbulkan dari pola manajemen sekolah yang menimbulkan perilaku siswa yang demikian santun, tawadlu', dan penuh dengan akhlakul karimah. Coba sebentar kita tarik ingatan dan memori kita ke 19 tahun yang lalu, bagaimana kebanyakan kita dan teman-teman lain berperilaku, satu sama lain berinteraksi begitu santun, berkarakter, dan begitu hormat terhadap sesamanya. Sesama siswa putra memanggil dengan sebutan "pak", sedangkan sementara sesama siswi putri memanggil dengan sebutan "bu". Entah hal tersebut memang di-design demikian, atau karena sifat alami sebagai bentuk kultur bagi para calon guru sehingga tumbuh keinginan untuk saling memanggil "pak" atau "bu" sejak dini. Paling tidak dengan panggilan itu, secara psikologis berdampak kepada nuansa batin untuk selalu bertindak dan bersikap 'teduh' kebapakan dan keibuan, selayaknya menempatkan diri sebagai calon guru yang mesti menjadi suri tauladan.

Hal-hal tersebut di atas sungguh merupakan pemandangan yang jarang atau sulit ditemui di institusi pendidikan formal (baca: negeri), tetapi lebih sering dan mudah ditemui di lembaga-lembaga pendidikan semacam pesantren. Oleh karenanya, dalam tulisan ini secara singkat penulis hanya ingin berbagi "persepsi" tentang PGAN Kediri, yang menurut kacamata penulis dilihat dari dampak perilaku civitas akademika-nya mirip dengan yang mudah ditemui di pesantren. Tentu persepsi-persepsi lain juga banyak, dan tidak mesti seragam. Alangkah indahnya bila teman-teman bisa berbagi persepsinya tentang PGAN tercinta kita, sehingga kita dapat memperkaya diri dengan berbagai sudut pandang dalam melihat institusi pendidikan tercinta kita. Wallahu a'lamu bis-showab.

Monday, March 03, 2008

Al-Jahlu Daa', Wal 'Ilmu Yasyfii

Membaca judul yang tertulis di atas, dapat diyakini setiap alumni Kelas III-5 bakal menerawang jauh membayangkan sosok guru yang ganteng, gagah, berwibawa, dan suka mengajak bercanda. Beliau adalah Al-Ustadz Bpk. Djazuli Djazim. Beliau adalah guru yang berasal dari Ujung Pangkah Gresik, dan lama belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Meski banyak kelebihan yang beliau tunjukkan selama mengajar kelas III-5, misalnya keilmuan dan penguasaannya terhadap bahasa arab baik teori maupun praktek yang tinggi, tetapi hal yang lebih istimewa yang tidak mudah dilupakan adalah untaian syair arab yang pernah beliau ajarkan kepada kelas saat itu. Tidak lain dan tidak bukan, syair tersebut adalah yang judulnya seperti tertera dalam judul tulisan ini, yaitu Al-Jahlu Daa' wal-'Ilmu Yasyfii. Dari bunyi judulnya, syair ini memberikan nasehat betapa kebodohan itu adalah penyakit dan ilmu adalah obatnya.

Meski syair dibuat sederhana, tetapi terasa indah dan nikmat untuk terus didendangkan. Dalam tulisan ini disamping dimaksudkan untuk mengingatkan sosok guru yang sangat berkesan tersebut, juga untuk mengingatkan teman-teman tentang isi syair bila sudah rindu untuk menyanyikan syair dimaksud. Berikut adalah bunyi syair tersebut:

Al-jahlu daa', wal-'ilmu yasyfii
Wa huwa Ni'mal Muqtana
Idz-Bihi Narqo ilaa Aujis-Sa'aadah wal Hana...

Tidak yakin memang, apakah tulisan syair tersebut sudah lengkap atau belum, tetapi paling tidak penggalan utama bunyi syair dimaksud seperti yang biasa dinyanyikan ya seperti itu. Bagi yang ingat sepenuhnya, tolong dilengkapi dan diingatkan saya ya. Terima kasih.

Salam ta'dzim untuk al-ustadz Bpk. Djazuli Djazim.

Berita Reuni Kelas Lain (Kelas III-2)

Di tengah keinginan dan rencana kelas III-5 menyelenggarakan Reuni Kelas yang sejauh ini masih dalam tahap mobilisasi dan identifikasi jaringan yang ada, ternyata berita gembira datang dari kelas lain yaitu Kelas III-2. Kelas III-2 ini jauh lebih maju dalam hal persiapan menuju Reuni Kelas.

Berita kesiapan penyelenggaraan Reuni Kelas III-2 ini diperoleh dari salah seorang anggota kelas yang cukup aktif, yaitu Sdr. Jumadi. Dalam berita yang disampaikan per telepon kepada kami, kelas III-2 ini dari segi komunikasi sudah mencapai 100% anggota kelas yang sudah tersebar di berbagai daerah. Satu per satu anggota kelas didata menggunakan metode gethok-tular hingga akhirnya sudah terdata 100% keberadaan masing-masing alumni kelas tersebut di berbagai daerah dan wilayah.

Persiapan Reuni Kelas III-2 telah dilakukan beberapa kali dan telah diputuskan bahwa Reuni akan diselenggarakan pada bulan Juli 2008 ini. Reuni akan diselenggarakan di Prambon - Nganjuk. Dalam Reuni awal ini, juga dimaksudkan sebagai langkah awal untuk menggagas penyelenggaraan Reuni dalam skala yang lebih besar, misalnya Reuni untuk seluruh kelas alumni lulusan tahun 1989, yang berarti mencakup kelas III-1 hingga kelas III-9. Untuk menuju ke arah gagasan tersebut, direncanakan dalam Reuni Kelas III-2 ini masing-masing kelas akan diundang 2 orang perwakilan kelas, yang diharapkan dengan kehadiran 2 orang wakil dari tiap-tiap kelas ini dapat dibahas dan dimatangkan tentang gagasan menyelenggarakan Reuni dalam skala yang lebih besar.

Bertindak selaku panitia dalam Reuni Kelas III-2 ini antara lain Sdr. Jumadi, Sdr. Imam Subandi Karimuddin, Sdr. Jamroni, dll.

Sekiranya diperlukan informasi lebih lanjut seputar penyelenggaraan Reuni Kelas III-2 ini, dapat dihubungi Sdr. Jumadi di 0813.5999.6157. Good luck... pak Jumadi dkk.