Wednesday, March 12, 2008

Kolega Kita: H. Mohammad Aqil Abdul Azis

Seringkali selama pergaulan kita di bangku PGAN Kediri, sekat-sekat antar kelas yang satu dengan yang lain sangat dirasakan dalam pergaulan keseharian. Ada kecenderungan bahwa kelompok pergaulan saat itu lebih mudah terbentuk diantara teman sekelas saja, dibanding pergaulan luas yang lintas kelas. Kalau toh ada, mungkin jumlahnya tidak seberapa. Kolom “Kolega Kita” ini dimaksudkan untuk mengisi celah tersebut dengan tujuan untuk melihat dan mengenang teman kita dari kelas lain sekaligus untuk memperkaya referensi pertemanan sesama rekan alumni.

Pada kesempatan ini, kolom “Kolega Kita” diisi dengan kabar sosok teman yang mungkin bagi sebagian kita tidak asing lagi, karena selama di PGAN Kediri yang bersangkutan termasuk kelompok aktifis sekolah dengan menjadi pegiat OSIS maupun Pramuka. Dia adalah H. Mohammad Aqil Abdul Azis. Adakah diantara kita tahu dari kelas mana dia berasal. Bagi yang tahu tentu tidak sulit menjawab, tetapi bagi yang tidak tahu atau sekurang-kurangnya “belum ingat”, dapat diinformasikan bahwa yang bersangkutan adalah teman kita dari kelas III-3. Kelas tersebut relatif mudah diingat karena ke-khas-annya sebagai kelas dengan komposisi yang kurang berimbang dimana siswi sebagai mayoritas dan siswa menjadi kelompok minoritas. Sementara kelas-kelas lain umumnya adalah kelas yang single-sexed class, alias kelas dengan sistem pemisahan antara kelas siswi dan kelas siswa. Kalau tidak salah dari 48 siswa/siswi hanya tercatat 5 atau enam siswa saja. Andai saja saat itu sudah ada kelompok pemusik “Sheila on Seven”, mungkin kita akan menjuluki teman cowok minoritas tersebut dengan kelompok “Pejantan Tangguh” dari PGA, he.. he… just a joke..!

Segera setelah kelulusannya dari PGAN Kediri pada tahun 1989, Sdr. H. Mohammad Akil Abdul Azis ini menjadi satu-satunya alumni yang berani memutuskan untuk meneruskan belajar di pulau seberang, tepatnya di IAIN Imam Bonjol, di Padang. Awal ceritanya, saat itu ada salah seorang alumni PGAN Kediri yang telah menjadi tenaga dosen di IAIN Padang tersebut yang berkunjung ke Kediri dan berkenan mampir ke PGAN Kediri untuk berbagi informasi tentang IAIN Padang. Bila tidak salah, saat itu sebenarnya ada 3 orang yang tertarik untuk belajar di Padang, yaitu Sdr. Mohammad Akil Abdul Azis, Jauhar Hatta, dan saya (Thohir Afandi). Namun setelah ditimbang-timbang akhirnya tinggal mas Akil saja yang mantap dan memutuskan untuk melanjutkan studi di IAIN Padang.

Setelah lama tidak ada kabar, sungguh merupakan keajaiban tersendiri. Saat itu teman kita, H. Moh. Ali Ridlo sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci, di sela-sela ibadah yang dilakukan tampak olehnya sosok yang dirasakan tidak asing meski agak ragu untuk menyapa. Ternyata sosok tersebut betul Sdr. H. Mohammad Akil Abdul Azis seperti yang diduga. Dari pertemuan tersebut maka jalinan tali silaturrahmi mulai tersambung kembali, termasuk dengan saya dan mungkin teman-teman yang lain. Bila tidak salah, mas Ali Ridlo juga membagikan nomor hp beliau ke teman-teman yang lain.

Dari sambungan cerita yang diperoleh, beliau ini ternyata memilih jalur hidup sebagai ulama sekaligus pengusaha di Provinsi Padang. Rintisan usaha dilakukan setelah beliau menyelesaikan kuliah di IAIN Padang. Lambat tapi pasti usaha di bidang trading yang digeluti akhirnya berkembang dengan baik, hingga saat ini akhirnya menjadikan kota Solok sebagai basis bisnis yang digeluti. Salah satu wujud sukses dari bisnis yang digeluti ini adalah keberangkatan beliau ke tanah suci beberapa waktu yang lalu untuk menunaikan ibadah haji. Hal yang sangat membanggakan adalah disela-sela kesibukannya menjalankan roda bisnis, beliau juga rajin menjadi pengasuh pengajian dan menjadi khotib di beberapa masjid di kota Solok.

Beliau menikah dengan putri Minang asal kota Solok, Padang, dan telah dikaruniai anak yang pinter-pinter. Selamat dan sukses selalu pak Akil... (Thohir Afandi, 11 Maret 2008)

No comments: