Monday, March 24, 2008

Menggagas Peluang Ekonomi dari Jaringan Alumni

Di tengah gencarnya upaya Pemerintah melaksanakan kegiatan-kegiatan pengentasan kemiskinan, tidak sedikit upaya sejenis telah dilakukan oleh banyak pihak, baik dalam konteks individu maupun kelompok. Dari segi individu, banyak sekali kita temukan pribadi-pribadi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama yang berbuah pada 'usaha' untuk turut memberdayakan kelompok yang lemah. Ini antara lain diwujudkan melalui upaya peminjaman modal sekaligus pembelajaran usaha kepada pihak yang tidak mampu. Atau upaya pemberdayaan melalui pembukaan lapangan kerja seperti melibatkan kaum yang lemah dalam berbagai kegiatan usaha ekonomi yang dimiliki. Betapapun kecil dan sederhananya upaya 'pemberdayaan' yang dilakukan, tetap besar manfaat dan dampaknya bagi pembangunan dan pengembangan kesejahteraan bersama. Sedangkan dari segi kelompok, lebih banyak lagi yang dapat kita saksikan langkah dan upaya yang dilakukan untuk tujuan yang sama. Sebut saja, misalnya, munculnya lembaga-lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial dan kemasyarakatan yang belakangan tumbuh pesat. Termasuk di dalamnya lembaga yang lahir untuk memanfaatkan peluang ekonomi kerakyatan yang nyata, misalnya, lembaga professional pengelola ZIS (zakat, infaq, dan sedekah). Lembaga-lembaga ini dengan segala usaha dan ikhtiarnya telah menunjukkan gejala yang menggemberikan bagi upaya pengentasan kemiskinan sekaligus meningkatkan kesejahteraan kaum yang lemah.

Salah satu peluang ekonomi sekaligus modal yang tidak kecil artinya bagi pengembangan ekonomi adalah kekuatan jaringan. Tentu jaringan yang dimaksud dalam konteks ini adalah jaringan yang solid, yang memiliki pemahaman dan persepsi yang sama dalam hal tertentu sehingga usaha menggunakan jaringan untuk tujuan tertentu dimaknai sama dan secara konsisten masing-masing anggota jaringan dapat menyikapi secara sama dan dalam level kedisiplinan yang sama pula. Dalam konteks tersebut, patut diperhitungkan kekuatan jaringan yang telah lama terbentuk, terutama jaringan yang memiliki keterikatan kultur dan karakter yang sama, sekaligus perasaan 'kebersamaan' yang tinggi. Salah satu yang mungkin perlu dilirik adalah kekuatan jaringan alumni. Meski jaringan ini masih cenderung dianggap rapuh, tetapi dengan upaya yang terus menerus tidak mustahil dapat dibangun kekuatan jaringan alumni yang solid seperti digambarkan di awal paragraph ini. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperkuat jaringan tersebut, antara lain adalah: meningkatkan frekuensi komunikasi antar anggota jaringan, baik dalam arti komunikasi secara bersama maupun komunikasi secara individual diantara sesama jaringan alumni; membangun simpul-simpul jaringan alumni menurut area geografis, sehingga dengan simpul-simpul itu komunikasi dapat dilakukan lebih mudah dan penyebaran informasi antar anggota dapat dilakukan dengan cara yang lebih cepat; menyelenggarakan kegiatan-kegiatan informal yang sebanyak mungkin melibatkan anggota jaringan yang ada, misalnya kegiatan reuni, kegiatan family gathering, dan lain-lain. Tentu yang ini tidak dapat dilakukan dalam frekuensi yang berlebihan juga untuk menghindari dampak yang justru kontra produktif.

Sekali jaringan alumni terbangun secara solid, maka akan mudah memanfaatkan dan menggunakan jaringan tersebut untuk tujuan kemakmuran seperti disinggung di awal tulisan. Salah satu model (tetapi bukan satu-satunya model) yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan jaringan sebagai mata rantai pemasaran (marketing) produk tertentu yang disepakati melalui aturan tertulis yang disusun bersama dengan orientasi keuntungan secara adil untuk semua. Mungkin agak sulit membayangkan seperti apa "makhluk" yang disebut ini, tetapi akan mudah apabila proses itu telah dilewati. Salah satu pengalaman menarik penulis yang kebetulan adalah salah satu pengurus RT adalah pengalaman memanfaatkan warga RT untuk menjadi sumber kemakmuran bersama. Prinsipnya sederhana: menjadikan kebutuhan hidup anggota sebagai sumber kemakmuran bagi anggota itu sendiri. Yang dilakukan adalah kurang lebih sebagaimana prinsip-prinsip koperasi, yaitu menghimpun modal dari anggota, me-manage modal anggota, memenuhi kebutuhan anggota, dan membagi keuntungan usaha untuk anggota. Dengan prinsip itu kepada setiap anggota dihimbau untuk selalu menggunakan produk kelompok untuk memenuhi kebutuhan hidup dari pada mengambil/membeli dari toko atau dari pasar. Dengan begitu, setiap sen rupiah yang dibelanjakan akan menghasilkan laba rupiah yang kelak akan dibagi dan dikembalikan lagi kepada masing-masing anggota. Ini baru dan hanya bersifat contoh, tentu banyak lagi kreatifitas lain yang dapat diciptakan untuk suatu kelompok (jaringan) yang sudah solid.

Dalam konteks jaringan alumni, ide ini menjadi semakin strategis dengan mempertimbangkan status alumni saat ini yang sudah menyebar di berbagai daerah dengan bidang usaha dan karir yang juga beragam. Variasi geografis sekaligus keragaman jenis usaha/karir yang ditekuni merupakan modal besar yang bila dapat dikelola dengan baik dapat menjadi sinergi yang strategis. Pola hubungan mutualistis dapat diciptakan dengan pandangan masing-masing dapat saling melengkapi dan mengisi kebutuhan sesama alumni.

Nah, untuk mewujudkan itu semua, pertanyaan terpenting pertama adalah mampukan kita menjadikan jaringan alumni ini menjadi jaringan yang solid. Apabila pertanyaan tersebut dapat kita jawab dengan "ya", maka pertanyaan berikutnya adalah cukupkah kemauan kita untuk menjadikan jaringan ini sebagai modal ekonomi bersama tanpa ada maksud mengeksploitasi antara satu dengan lainnya kecuali dan hanya untuk kepentingan bersama semata. Kemauan ini menjadi faktor terpenting oleh karena dengan kemauan ini semua bisa diciptakan dan diusahakan, termasuk kemauan yang melahirkan kemampuan.

Ini semua hanya dan baru suatu ide/pemikiran, yang perlu direnungkan oleh kita bersama dan untuk merangsang kreatifitas berfikir lainnya. Ingat, tidak sedikit kemajuan suatu kelompok bermula dari ide sederhana tetapi ditekuni dan secara serius dikembangkan. Demikian dan semoga bermanfaat. (Thohir Afandi, Maret 2008)

No comments: