Tuesday, March 04, 2008

PGAN Kediri: Sosok Sekolah Negeri Beraroma Pesantren

Jauh setelah melangkah meninggalkan kenangan manis belajar di PGAN Kediri, seringkali memori bawah sadar muncul begitu saja. Rasanya tidak mudah melupakan masa-masa itu, dan memang tidak perlu dilupakan, bahkan tidak boleh dilupakan. Banyak sekali kejadian lama yang saat itu terasa biasa saja, tetapi justru terasa luar biasa manakala kejadian itu telah jauh meninggalkan kita. Mungkin dalam pendekatan dan pemahaman yang seperti itu maka 'penyesalan' tidak pernah mendahului kejadian, atau setidak-tidaknya penyesalan datang bersamaan dengan kejadian, hampir tidak pernah terjadi. Penyesalan sebagai bentuk telah hadirnya suatu kesadaran yang utuh atas suatu kejadian selalu datang belakangan, terutama setelah pikiran dan suasana batin dalam keadaan tenang, netral, dan tidak dipengruhi suasana subjektif akibat keterlibatan emosi, pikiran, dan bahkan "kepentingan" terhadap kejadian yang sedang terjadi.

Pokok pikiran di atas akan menjadi landasan berpijak dalam menguraikan kenangan manis yang luar biasa selama di PGAN Kediri antara 1986-1989. Dalam pendekatan dan pemikiran di atas, memang saat-saat menjalani aktifitas belajar di sana (pada saat itu) terasa biasa saja, bahkan dalam batas tertentu seringkali terasa berat dan membosankan. Itu wajar dan bisa dimengerti oleh karena mind-set saat itu adalah mind-set sebagai pelaku yang dalam melihat kejadian tersebut menggunakan perspektif yang terbatas. Hal tersebut akan lain sama sekali apabila perspektif yang digunakan adalah perspektif yang lebih luas dan netral seperti perspektif saat ini ketika kita sudah 19 tahun meninggalkan kejadian yang dinilai/dievaluasi/dikenang. Apapun yang terjadi saat itu terasa begitu mempesona, ada keinginan yang luar biasa untuk ber-tamanni (bukan ber-tarojji): "andai saja saya bisa kembali ke saat itu, tentu banyak sekali yang bisa saya lakukan, tentu tidak sedikitpun waktu saya sia-siakan....!, waktu itu terasa begitu strategis dan berharga".

Hal yang sama juga berlaku atas 'kejadian' berupa masa-masa belajar di PGAN Kediri. Ada banyak hal yang saat itu mungkin dipersepsikan sebagai sesuatu yang berat dan penuh aturan. Sehingga melaksanakan dan menjalaninya juga dirasakan sebagai beban yang tidak ringan. Sebagaimana banyak diketahui, saat itu Pimpinan PGAN utamanya Bpk. Drs. Sudja'i Habib, merupakan sosok yang menerapkan disiplin sangat tinggi tidak saja bagi para siswa yang belajar tetapi juga kepada segenap civitas akademika PGAN, diterapkan standard kedisiplinan yang sama. Penulis termasuk salah satu siswa yang pernah merasakan dampak dari standard kedisiplinan tersebut. Akibat terlambat hadir untuk mengikuti upacara, penulis bersama beberapa siswa yang lain terpaksa harus lesehan menikmati hangatnya aspal depan masjid PGAN, sambil menerima 'ceramah' kedisiplinan. Siapa saja pasti punya persepsi sama saat itu, yaitu berat dan penuh kecemasan. Tetapi tentu saat ini siapa saja akan memiliki persepsi lain, terutama setalah melihat hasilnya. Ternyata kedisiplinan yang tinggi tersebut besar dampaknya bagi sukses perjalanan selanjutnya dari segenap alumni PGAN Kediri. Kedisiplinan menjadi salah satu nilai yang selalu dipegang dalam berhadapan dengan masyarakat, dunia kerja, dan pihak-pihak yang lain. Kedisiplinan tentu tidak hanya terbatas pada sikap perilaku lahiriyah saja, tetapi juga disiplin dalam arti sikap moral yang mencerminkan pribadi berintegritas tinggi. Kalau itu semua diingat-ingat kembali, diyakini bahwa persepsi yang semula menganggap pendidikan dan aturan serba berat dan membebani itu justru berubah dan menganggap bahwa hal tersebut malah menjadi kebutuhan yang memang dan mesti diterapkan.

Lalu apa hubungan yang ditulis di atas dengan judul yang tercantum. Sebenarnya yang ditulis di atas sekedar sebagai pengantar untuk mendiskripsikan bagaimana pendekatan manajemen diterapkan di PGAN Kediri saat itu. Dalam hal PGAN dirasakan sebagai institusi pendidikan negeri tetapi beraroma pesantren itu adalah bagian dari persepsi yang timbul setelah sekian lama kejadian menjalani pendidikan dilalui. Persepsi aroma pesantren tidak dilihat dari sisi substansi kurikulum maupun pendekatan dalam PBM (proses belajar mengajar), tetapi lebih kepada sisi dampak yang ditimbulkan dari pola manajemen sekolah yang menimbulkan perilaku siswa yang demikian santun, tawadlu', dan penuh dengan akhlakul karimah. Coba sebentar kita tarik ingatan dan memori kita ke 19 tahun yang lalu, bagaimana kebanyakan kita dan teman-teman lain berperilaku, satu sama lain berinteraksi begitu santun, berkarakter, dan begitu hormat terhadap sesamanya. Sesama siswa putra memanggil dengan sebutan "pak", sedangkan sementara sesama siswi putri memanggil dengan sebutan "bu". Entah hal tersebut memang di-design demikian, atau karena sifat alami sebagai bentuk kultur bagi para calon guru sehingga tumbuh keinginan untuk saling memanggil "pak" atau "bu" sejak dini. Paling tidak dengan panggilan itu, secara psikologis berdampak kepada nuansa batin untuk selalu bertindak dan bersikap 'teduh' kebapakan dan keibuan, selayaknya menempatkan diri sebagai calon guru yang mesti menjadi suri tauladan.

Hal-hal tersebut di atas sungguh merupakan pemandangan yang jarang atau sulit ditemui di institusi pendidikan formal (baca: negeri), tetapi lebih sering dan mudah ditemui di lembaga-lembaga pendidikan semacam pesantren. Oleh karenanya, dalam tulisan ini secara singkat penulis hanya ingin berbagi "persepsi" tentang PGAN Kediri, yang menurut kacamata penulis dilihat dari dampak perilaku civitas akademika-nya mirip dengan yang mudah ditemui di pesantren. Tentu persepsi-persepsi lain juga banyak, dan tidak mesti seragam. Alangkah indahnya bila teman-teman bisa berbagi persepsinya tentang PGAN tercinta kita, sehingga kita dapat memperkaya diri dengan berbagai sudut pandang dalam melihat institusi pendidikan tercinta kita. Wallahu a'lamu bis-showab.

No comments: