Ada pepatah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa para pendahulunya. Sekilas pepatah tersebut terasa klise dan oldy, tetapi apabila direnungkan secara sungguh-sungguh dan mendalam, banyak sekali bisikan hikmah yang dapat dipetik untuk menjadi pedoman bersama. Salah satu dari pemahaman atas pepatah tersebut adalah diingatkannya kita tentang mata ranti kehidupan. Bahwa kehidupan ini adalah mata rantai yang saling berkait dan saling mempengaruhi antara satu titik kehidupan dengan titik kehidupan lainnya. Kejadian hari ini adalah akibat kejadian hari kemarin. Prestasi hari ini adalah kumpulan dari kepingan-kepingan pengalaman dan hasil interaksi kita dengan lingkungan kita di waktu-waktu sebelumnya. Oleh karenanya, menjadi salah besar dan termasuk kelompok orang-orang yang “sombong” apabila seseorang mengatakan bahwa prestasi yang diraih hari ini adalah murni akibat usaha dan karyanya sendiri dan steril dari pertauan dengan masa lalunya.
Dalam pemahaman seperti diuraikan di atas, tulisan ini mencoba untuk mengajak teman-teman yang saat ini sudah menyebar di berbagai daerah dengan berbagai profesi yang beragam, mulai dari profesi sebagai pendidik, pengusaha, birokrat, wiraswasta, sampai menjadi politisi, untuk mencoba mengenang kembali sosok dan figur yang begitu berarti dari PGAN Kediri, yaitu Bpk. Drs. M. Sudja’i Habib, MM. Beliau adalah mantan Kepala PGAN Kediri periode 1980-an hingga 1990-an. Tidak bisa dipungkiri, sosok beliau ini adalah sosok yang sangat menonjol, tidak saja dalam hal kepemimpinannya di PGAN Kediri, tetapi juga dalam hal pengaruhnya yang sangat besar kala itu (hingga sekarang) di wilayah kota Kediri khususnya. Pribadi yang santun, dengan penguasaan keilmuan agama yang sangat dalam dan didukung oleh kemampuan menyampaikan pemikiran yang sangat baik menjadikan beliau sebagai “ikon” sosok dan tokoh pembangunan di bidang pendidikan dan agama di kota Kediri. Tentu tidak mudah pula memisahkan peran dan campur tangan beliau dengan apa yang telah dicapai oleh para mantan anak didiknya saat ini. Peran beliau dirasakan begitu besar bagi sebagian besar mantan anak-anak didiknya, sehingga dalam berbagai kesempatan, selalu saja topik yang mengemuka adalah topik mengupas kembali kenangan tentang sosok beliau.
Pada tulisan ini akan dirilis rangkaian kesan-kesan tentang sosok beliau yang berhasil dihimpun dari beberapa alumni PGAN Kediri tahun 1989, khususnya kelas III/5. Misalnya, di mata M. Sobir (politisi dan pengusaha, Yogyakarta), pak Dja’i (panggilan akrab untuk beliau) adalah sosok orang besar meski kecil dalam penampakan (baca: postur tubuh). Dalam pandangannya, beliau ini adalah orang besar dalam banyak hal, antara lain besar dalam penguasaan ilmu, besar dalam pemikiran, besar dalam semangat, besar dalam pengaruh, besar dalam disiplin, besar dalam perhatian, besar dalam konteks keagamaan, besar dalam kepribadian, dan bahkan menjadi sangat besar dalam kesan yang ditinggalkannya di mata para mantan anak didiknya. Memang, rasanya tidak berlebihan apabila beliau digambarkan seperti demikian. Kiprah beliau di banyak hal dirasakan sangat menonjol, sehingga tidak ada kata lain kecuali yang memang “orang besar” seperti dikatakan oleh M. Sobir ini.
Sementara itu, Qomaruddin (wiraswasta, Kediri) melihat sosok pak Dja’i sebagai pribadi yang tidak banyak bicara, selektif dalam mengeluarkan kata, tetapi setiap pembicaraan atau kata yang beliau keluarkan selalu menjadi perhatian banyak pihak, dan bahkan memiliki dampak besar bagi perilaku orang-orang di sekelilingnya. Mungkin Qomaruddin ini hendak mengatakan bahwa singkatnya beliau ini adalah sosok yang pribadi yang berwibawa yang selalu berpengaruh bagi lingkungan sekitarnya. Hal ini juga di-amini oleh M. Ali Ridlo (pengasuh pesantren, Jakarta Pusat) bahwa sosok pak Dja'i memang menggambarkan sosok manusia berwibawa, bahkan secara ekstrim dikatakan bahwa meskipun dari segi postur pak Dja'i itu orangnya kecil, tetapi aura wibawanya tak terbendung dan disegani oleh banyak kalangan.
Kesan senada tentang pak Dja’i juga dikemukakan oleh Basori Alwi (Kepala KUA, di Yogyakarta), bahwa dalam kesan beliau pak Dja’i ini adalah sosok pimpinan dan pendidik yang berwibawa, baik di mata anak-anak didik maupun di mata para dewan guru. Kewibawaannya dapat dirasakan baik di kala berhadapan langsung dengan beliau maupun saat tidak berhadapan langsung, juga kewibawaan yang ditunjukkan melalui sikap maupun ucapan. Ekstrimnya, menurut Basori Alwi, sikapnya saja sudah dapat merubah perilaku orang, apalagi ucapannya.
Berbeda dengan kesan-kesan yang digambarkan di atas, kesan mendalam tentang pak Dja’i tetapi dalam perspektif yang berbeda juga ada pada H. Jauhar Hatta (dosen IAIN Yogyakarta, tinggal di Banjarnegara), bahwa dalam pandangan beliau pak Dja’i ini disebut sebagai rojulun ‘aalimun, rojulun shaalihun, dan rojulun syujjaa’, yang dengan atribut-atribut itu menjadikan beliau sukses mendidik dan mengkader generasi muda Islam serta mampu mewarnai sisi religiusitas Pemkot Kediri berikut masyarakatnya. Dalam konteks ini, tentu masih segar dalam ingatan segenap alumni di era beliau, dan sekedar untuk me-refresh catatan kita bersama, bahwa pada era beliau (pak Dja’i) masjid PGAN Kediri dalam setiap bulan Ramadhan selalu memperoleh predikat sebagai masjid yang mampu menyedot animo jama’ah paling besar di antara masjid-masjid yang ada di kota Kediri, meski kita tahu bahwa ukuran masjid PGAN Kediri kala itu tidak sebanding dengan misalnya masjid Jami’ Kota Kediri yang ada di Alun-alun kota. Tetapi fakta memang demikian, bahkan saat itu jama’ah banyak sekali mengalir dari wilayah yang jauh dari PGAN, misalnya dari Baluwerti, Dandangan, dll.
Apa yang digambarkan di atas baru merupakan kesan dari sebagian kecil alumni yang berhasil dihimpun. Tentu masih banyak lagi kesan-kesan lain yang tidak kalah “seru”-nya dalam menggambarkan sosok beliau sebagai pendidik dan pemimpin yang sukses. Komentar dan kesan dari segenap alumni tetap ditunggu dan akan di-upload di tulisan ini. Terima kasih pak Dja’i, ketekunan dan ketelatenan Bapak benar-benar kami rasakan dampak dan manfaatnya saat ini. (Thohir Afandi, 27 Maret 2008)
Thursday, March 27, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comment:
Melihat catatan dan tulisan ini rasanya seperti kembali ke 19 tahun yang lalu, saat masih bersama dengan beliau di PGAN Kediri. (dari Alumni PGAN Kediri juga)
Post a Comment