Friday, October 31, 2008

Sekilas Pertemuan di Kala Lebaran 2008

Seperti disebutkan dalam posting sebelumnya, bahwa dalam skala terbatas akan dilaksanakan temu silaturrahmi (Reuni) teman-teman alumni PGAN Kediri lulusan tahun 1989 pada tanggal 5 Oktober 2008 lalu. Pada posting ini, akan dilaporkan gambaran sekilas dari pertemuan tersebut.

Rencana silaturrahmi ini sejak dari awal memang dimaksudkan sebagai pertemuan permulaan dalam rangka mempersiapkan forum silaturrahmi yang lebih besar. Ide dan gagasan muncul setelah beberapa teman sesama alumni berhasil menyambung lagi, tetapi dalam skala yang masih terbatas. Gagasan ini menjadi semakin dirasakan mendesak untuk diwujudkan setelah mendengar masukan dari pihak-pihak yang belakangan berhasil terhubung. Lebih-lebih pada Idul Fitri 1428 H (2007) lalu, salah satu alumni yaitu saya sendiri, berkesempatan sowan ke kediaman Almukarrom Bpk. M. Sudja'i Habib. Beliau mengungkapkan kerinduannya yang sangat dalam untuk dapat bertemu dengan para mantan anak didiknya yang saat ini sudah banyak melalang buana di berbagai kota besar di Indonesia.

Singkat kata setelah dilakukan sounding dengan teman-teman, baik yang ada di Jogjakarta, Jakarta, Surabaya, Kediri, Tulung Agung, Pare, Cirebon, dll., disepakati perlunya segera dilakukan pertemuan kecil untuk mulai merintis keinginan/gagasan tersebut di atas. Dan pertemuan itu akhirnya diwujudkan pada tanggal 5 Oktober 2008, bertepatan dengan hari kelima Idul Fitri 1429 H.

Pertemuan semula direncanakan dilaksanakan di masjid PGAN Kediri (masjid At-Taqwa sih, wong sekarang sudah jadi masjid MAN 3 Kediri). Namun sebelum teman-teman datang, ternyata sudah ada adik-adik dari alumni MAN 3 Kediri yang lebih dulu memenuhi ruang masjid untuk tujuan yang sama. Oleh karena itu, dengan cepat teman-teman berkoordinasi dengan pihak MAN 3 untuk meminta ijin menggunakan salah satu ruang kelas untuk keperluan pertemuan tersebut.

Oleh karena pertemuan kecil ini merupakan pertemuan pertama, pemandangan yang terlihat ya lazimnya pertemuan antar sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Setiap ada yang baru datang, wajah keheranan dan penasaran seringkali nampak, disusul teriakan luapan kerinduan seorang sahabat. Eh.. gila kamu gemuk banget, itu salah satu ungkapan yang sesekali terdengar. Eh.. tambah gagah aja kamu, dimana rek kamu sekarang, waduh... berapa anakmu sekarang, dimana tinggal, kerja apa kamu, eh gila... ini yang jadi bos, .... (pokonya seru dan seru....).

Dalam pertemuan awal ini hampir setiap kelas (9 kelas) dari lulusan tahun 1989 ada yang mewakili, mulai dari kelas III/1 hingga kelas III/9. Data lengkap yang hadir akan disusulkan kemudian.

Pertemuan menyepakati pembentukan panitia yang akan mempersiapkan pertemuan berikutnya. Struktur terdiri dari Ketua, Sekretaris, Bendahara, beberapa Seksi, dan Koordinator Masing-masing Wilayah. Informasi kelengkapan kepanitiaan akan di-posting-kan kemudian, karena notulensi lengkap masih belum diterima. Diharapkan pada awal tahun 2009 dapat dilakukan pertemuan putara kedua untuk membahas kemajuan "perburuan" jaringan baru teman-teman alumni yang belum sempat terhubungi. Tidak mudah memang, karena hampir semua alumni sudah tidak beralamat sebagaimana alamat asal saat kelulusan tahun 1989. Oleh karenanya dengan membentuk koordinator di tiap-tiap kota diharapkan dapat menjaring secara lebih efektif terhadap teman-teman sesama alumni yang belum berhasil dihubungi.

Demikian sekilas info. Kebutuhan informasi dapat ditanyakan kepada Sdr. Jumadi, Pare (0813.5999.6157), Sdri. Latifah, Kediri (Pesantren Al-Huda Kowak), Sdr. M. Sobir, Yogyakarta (0818.0272.0166), Sdr. Ali Ridlo, Jakarta (0812.950.4542), dll. (Posted, 31 Oktober 2008)

Bersambungnya Kembali Tali Komunikasi

Kemarin sore, tepatnya hari Kamis, 30 Oktober 2008, saya memperoleh anugerah yang sangat istimewa. Bermula dari ketidaksengajaan dari sambung-kontak dengan salah seorang guru MAN 3 Kediri, Ibu Zidni Rahmawati, yang secara kebetulan berkenalan via media internet, akhirnya komunikasi salah satunya berujung kepada 'tersambungnya' kembali komunikasi dengan sosok yang saya sangat hormati, yaitu pak Djazuli Djazim. Saya berterima kasih secara khusus kepada bu Zidni Rahmawati.

Dalam kenangan yang masih rapi saya simpan, sosok beliau ini adalah sosok seorang guru yang memiliki kekhasan dalam berinteraksi dengan para siswanya. Kekhasan beliau terlihat antara lain dari gaya bicara yang terbuka dan cenderung 'ceplas ceplos' bila bermaksud menyindir anak didiknya kalau ada yang menurut beliau perlu diluruskan. Gaya yang demikian menjadikan siswa merasa dekat dan tidak canggung dalam berinteraksi dengan beliau, yang pada gilirannya justru dapat melahirkan sikap hormat dan tawadlu' kepada beliau. Hal demikian menurut saya sedikit tidak lazim, tidak lazim dalam arti sedikit guru yang menjadikan gaya keterbukaan dan kedekatan sebagai strategi membangun 'respect' antara keduanya. Tidak jarang kita temui bahwa guru cenderung menjaga jarak dan berperilaku sebagai sosok yang ingin terlihat serba dan paling tahu dalam banyak hal. Tetapi yang ini tidak demikian, semua hal ditempatkan dalam hubungan kesetaraan, seringkali terkesan siswa ditempatkan sebagai mitra dalam proses pembelajaran.

Mungkin kebetulan saja, bahwa gaya demikian matching dengan sosok gaya guru yang saya impikan, sehingga kesan yang tertinggal dalam ingatan terasa begitu mendalam. Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa gaya seorang guru tidak harus sama, dan tentu masing-masing juga memiliki bawaan dan pengalaman yang tentu berbeda. Sehingga dengan demikian gaya yang ditampilkan juga tentu berbeda. Hanya saja, tidak jarang dapat kita temui sosok guru yang terkesan memaksakan suatu gaya, entah apakah dimaksudkan sebagai cara membangun kewibawaan, atau apa, tapi justru dengan gaya itu malah luntur kewibawaannya. Tengok saja gaya atau pendekatan yang sedikit atau banyak ‘jaim’, atau gaya yang sok berwibawa, justru malah sering menjadikan yang bersangkutan "kurang" berwibawa dan malah dijauhi anak didiknya. Itu berbeda dengan gaya yang saya ceritakan di bagian awal.

Memang sih, kalau pembicaraan diarahkan kepada soal kewibawaan, menurut shohibul hikayat ada beberapa sumber kewibawaan. Ada kewibawaan karena keilmuan dan perilakunya, ada kewibawaan karena karakter pembawaannya, ada kewibawaan karena kekuasaannya, ada pula kewibawaan karena kemampuan "manipulatif" behavioral-nya. Masing-masing memiliki keuntungan dan kekurangannya sendiri. Tapi kalau bisa, raihlah kewibawaan yang bersumber dari penguasaan ilmu dan keluhuran berperilaku. Sungguh elok sekali yang demikian. Eh kok jadi nglantur ke sana sini ya.

Ok, kembali soal kenangan sosok beliau ini, keberhasilan kontak kembali dengan beliau terasa begitu istimewa oleh karena sudah hampir 20 tahun saya tidak bertemu beliau. Dalam situasi demikian, maka bisa bicara dengan beliau terasa luar biasa. Beberapa hal yang langsung teringat tentang beliau ini antara lain adalah, bagaimana beliau mendidik kala itu, bagaimana beliau bercengkerama dengan para siswanya termasuk saya, bagaimana beliau piawai mendorong siswa untuk aktif berbahasa arab. Masih saya ingat dengan baik saat beliau memanggil satu persatu siswanya untuk kedepan, diajak bicara bahasa arab, sebisanya, semampunya, pokoknya bahasa arab. Itu semua sungguh merupakan pengalaman dan kenangan yang sulit dilupakan. Belum lagi kalam nasyid yang pernah beliau ajarkan kala itu: “Al-jahlu daa’, wal ‘ilmu yasyfii” langsung terngiang di telinga. Seakan perputaran dunia dari 1989 baru terjadi sedetik yang lalu. Subhanallah…!

Baiklah, semoga kontak pertama ini dapat berlanjut dengan silaturrahmi yang langgeng, dalam konteks beliau sebagai guru dan saya sebagai murid. Amin...! (Thohir Afandi, 31 Oktober 2008)

Friday, September 26, 2008

Kumpul-kumpul Lulusan Tahun 1989

Diumumkan dengan hormat kepada teman-teman sesama alumni PGAN Kediri, khususnya lulusan tahun 1989, bahwa akan diselenggarakan acara 'Kumpul-kumpul Alumni 1989' pada:

Minggu, 5 Oktober 2008
Pukul 09.30 WIB s.d. Selesai
di Masjid PGAN Kediri

Acara ini diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan bersama tentang perlunya media silaturrahmi secara berkala diantara teman-teman sesama alumni khususnya di angkatan yang sama. Salah satu pemikiran yang mengemuka adalah perlunya dibuat acara bersama misalnya setiap 5 tahun sekali dalam bentuk acara santai bersama keluarga, semacam ALUMNI GATHERING. Keterangan lebih lanjut, dapat dihubungi nama-nama sebagai berikut:

Jakarta: M. Ali Ridlo 0812-950-4542
Yogyakarta: M. Shobir 0818-0272-0166
Kediri: Jumadi 0813-5999-6157

Diharapkan kehadiran teman-teman dapat membawa serta keluarga masing-masing (anak dan istri/suami) untuk menambah semarak temu alumni atau REUNI ini. Banyak terima kasih atas perhatiannya.

Friday, April 18, 2008

Sinergi PGAN Kediri dan Pesantren-pesantren di Sekitarnya

Nama besar PGAN Kediri tidak bisa dilepaskan dari peran dan fungsi pesantren-pesantren yang ada di sekitarnya. Hubungan keduanya saling mengisi dan saling melengkapi. Keduanya saling diuntungkan, dan oleh karenanya meski tidak dalam kadar "mesti" tetapi kehadiran keduanya menjadi bersifat saling membutuhkan.

Kedua institusi ini bergerak di lini yang sama, yaitu membangun insan-insan yang shalih, bertaqwa, dan cerdas. Meski pakem dan kurikulum yang dikembangkan berbeda, tetapi keduanya mengerucut kepada tujuan dan maksud yang sama. Insan shalih, bertaqwa, dan cerdas.

PGAN Kediri sebagai institusi yang menyiapkan tenaga pendidik di bidang agama Islam dalam kegiatannya memfokuskan kepada pembentukan calon tenaga pendidik yang matang dalam 3 hal: matang secara kognitif (keilmuan dan pengetahuan), matang secara psikomotorik (keahlian dan ketrampilan), dan matang secara afektif (sikap dan perilaku). Singkat kata PGAN Kediri menyiapkan calon tenaga pendidikan yang matang dalam hal keilmuan, metodologi, dan perilaku (akhlak). Dalam konteks ini, oleh karena lembaga ini merupakan salah satu pendidikan formal yang terikat dengan tata aturan pemerintah, termasuk di dalamnya menyangkut kurikulum bahan ajar, tentu materi yang diberikan juga diperluas tidak semata materi keagamaan. Banyak materi-materi lain yang relevan untuk mempertajam pencapaian tujuan sebagaimana disebut di atas, misalnya teori pendidikan (pedagogi), ilmu perkembangan jiwa (psikologi), dan lain-lain. Sehingga dengan paduan ilmu-ilmu yang diberikan diharapkan dapat membentuk suatu kematangan yang utuh antara ilmu substansi (pendidikan agama), ilmu alat (metodologi), dan ilmu perilaku (akhlak).

Sementara itu, pondok pesantren di sisi lain juga memiliki tujuan yang kurang lebih sama, yaitu membentuk insan-insan yang matang secara keagamaan yang ditunjang melalui kematangan 3 hal juga, yaitu matang secara kognitif, matang secara psikomotorik, dan matang secara afektif. Hanya di pesantren ini, fokus utama materi ajar adalah ilmu-ilmu keagamaan saja, kalau toh ada ilmu-ilmu lain, tentu diarahkan untuk lebih memperkuat pemahaman terhadap ilmu substansi. Ilmu-ilmu tersebut antara lain, ilmu nahwu/sharaf, bahasa arab, dll. Sementara keilmuan di bidang keagamaan diarahkan kepada sekurang-kurangnya 3 hal: ilmu ketauhidan (aqidah), ilmu ubudiyyah dan muamalah (syari'ah), dan ilmu moral/perilaku sebagaimana digambarkan dalam konsep "ihsan" (akhlak). Bagian yang terakhir ini merupakan ilmu yang memadukan antara sisi ketauhidan dan sisi syari'ah, sehingga hasilnya adalah bentuk kualitas sikap batin dan perilaku seseorang dalam memandang, menyikapi, dan merespon segala sesuatu yang dihadapinya.

Terkait dengan sinergi PGAN dan Pesantren seperti dilansir dalam judul di atas, terdapat titik singgung dimana ditemukan fakta bahwa umumnya dan kebanyakan dari siswa PGAN Kediri disamping sekolah secara formal juga "nyantri" di beberapa pesantren yang tersebar di sekitar PGAN. Sekedar untuk disebut, ada Pesantren Assa'idiyyah di Jamsaren, ada Pesantren Al-Husna di Burengan, ada Pesantren Al-Huda di Kowak, juga beberapa pesantren lainnya yang tersebar wilayah sekitar PGAN Kediri, misalnya di Sumber Ndoko, dll. Keterlibatan siswa-siswi di beberapa pesantren inilah yang pada akhirnya turut berkontribusi secara signifikan terhadap kultur dan 'aura' yang dirasakan di PGAN ini. Apalagi di PGAN Kediri pola pembagian kelas juga menganut pendekatan pemisahan antara pelajar putri dan pelajar putra di kelas yang berbeda, sehingga hal tersebut semakin menambah kuatnya aroma sinergi antara Pesantren dan PGAN Kediri sendiri.

Pendapat di atas memang masih dapat diperdebatkan, karena memang belum merupakan hasil sebuah riset yang empiris, tetapi baru pendapat yang lahir dari reka-reka atas fakta yang ada. Untuk mengetahui kebenarannya memang perlu studi dan riset tersendiri dengan melibatkan variabel-variabel yang ada.

Benang merah dari tulisan ini adalah betapa pesantren di seputar PGAN Kediri memiliki kontribusi yang tidak kecil terhadap prestasi PGAN Kediri dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas. Wallahu A'lamu Bish-showab (Thohir Afandi, 18/4/2008)

Thursday, April 17, 2008

Hidup Sekali, Hiduplah Yang Berarti

Kata bijak seperti pada judul di atas terasa sederhana, tetapi memiliki pesan dan makna yang sangat dalam. Pertama, kita diingatkan bahwa hidup ini tidak berulang. Hidup ini ibarat one-way ticket alias perjalanan satu arah dan tidak bisa kembali. Hidup ini bukan kejadian yang bisa di-rewind ke belakang. Waktu yang kita miliki hari ini tidak terulang besok hari. Hari ini adalah hari ini, demikian juga esok adalah esok yang bukan pengulangan atas hari ini. Singkat kata, hidup ini adalah kesempatan yang hanya sekali.

Penggunaan persamaan bahwa hidup ini ibarat perjalanan dengan one-way ticket tidak sepenuhnya benar. Benar hanya dalam konteks arahnya satu, tetapi tidak sama dalam hal karena perjalanan pada umumnya jelas jarak dan waktu tempuhnya. Sehingga dengan kejelasan jarak maupun waktu segala kebutuhan dapat disiapkan tepat waktu. Sementara itu dalam hidup ini tidak bisa diketahui seberapa jauh jarak yang akan kita tempuh, dan berapa lama jarak tersebut akan kita lalui. Jarak dan waktu hidup adalah semata rahasia Tuhan. Hadzaa min amri rabbi. Oleh karenanya, misteri ketidakjelasan jarak dan waktu tempuh "hidup" ini perlu diantisipasi dengan baik, agar penyiapan bekal bila sudah sampai pada halte tujuan nanti dapat terpenuhi dengan baik.

Makna kedua dari judul di atas adalah nasehat agar kita menjadi pribadi yang bermakna, yang berarti, dan yang bermanfaat. Tentu makna ini dilandasi oleh filosofi one-way ticket tadi. Oleh karena kehidupan ini adalah perjalanan yang tidak bisa diulang, tentu alangkah meruginya apabila hidup yang sekali itu tidak berarti. Definisi "berarti" dalam konteks ini adalah kehidupan yang memberi dampak positif baik bagi dirinya sendiri maupun bagi lingkungan sekitarnya. Pengertian positif tersebut juga tidak terbatas pada konteks duniawi saja, tetapi juga dari sisi spiritual keagamaan. Sesuai keyakinan keimanan kita, bahwa kehidupan yang sekali ini adalah awal dari hidup panjang yang lebih kekal di kemudian hari. Tetapi tetap tidak dalam makna kehidupan yang mengulang, tetapi kehidupan untuk memetik buah manis dari karya dan prestasi kehidupan yang sekali. Sejalan dengan makna ini, ada sabda nabi kita yang berbunyi "khairukum anfa'uhum lin-nass", sebuah sabda yang sangat menghendaki agar manusia ini berlomba-lomba menjadi insan yang paling berjasa dalam arti paling bermanfaat bagi sesamanya. Janganlah hidup yang sekali ini malah menempatkan kita sebagai beban bagi sesama. Demikian, sekedar bahan renungan untuk kita semua. Wallahu A'lamu Bish-Showaab. (Thohir Afandi, 17/4/2008)

Thursday, March 27, 2008

Sosok Pak Sudja'i Habib di Mata Para Alumni

Ada pepatah mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa para pendahulunya. Sekilas pepatah tersebut terasa klise dan oldy, tetapi apabila direnungkan secara sungguh-sungguh dan mendalam, banyak sekali bisikan hikmah yang dapat dipetik untuk menjadi pedoman bersama. Salah satu dari pemahaman atas pepatah tersebut adalah diingatkannya kita tentang mata ranti kehidupan. Bahwa kehidupan ini adalah mata rantai yang saling berkait dan saling mempengaruhi antara satu titik kehidupan dengan titik kehidupan lainnya. Kejadian hari ini adalah akibat kejadian hari kemarin. Prestasi hari ini adalah kumpulan dari kepingan-kepingan pengalaman dan hasil interaksi kita dengan lingkungan kita di waktu-waktu sebelumnya. Oleh karenanya, menjadi salah besar dan termasuk kelompok orang-orang yang “sombong” apabila seseorang mengatakan bahwa prestasi yang diraih hari ini adalah murni akibat usaha dan karyanya sendiri dan steril dari pertauan dengan masa lalunya.

Dalam pemahaman seperti diuraikan di atas, tulisan ini mencoba untuk mengajak teman-teman yang saat ini sudah menyebar di berbagai daerah dengan berbagai profesi yang beragam, mulai dari profesi sebagai pendidik, pengusaha, birokrat, wiraswasta, sampai menjadi politisi, untuk mencoba mengenang kembali sosok dan figur yang begitu berarti dari PGAN Kediri, yaitu Bpk. Drs. M. Sudja’i Habib, MM. Beliau adalah mantan Kepala PGAN Kediri periode 1980-an hingga 1990-an. Tidak bisa dipungkiri, sosok beliau ini adalah sosok yang sangat menonjol, tidak saja dalam hal kepemimpinannya di PGAN Kediri, tetapi juga dalam hal pengaruhnya yang sangat besar kala itu (hingga sekarang) di wilayah kota Kediri khususnya. Pribadi yang santun, dengan penguasaan keilmuan agama yang sangat dalam dan didukung oleh kemampuan menyampaikan pemikiran yang sangat baik menjadikan beliau sebagai “ikon” sosok dan tokoh pembangunan di bidang pendidikan dan agama di kota Kediri. Tentu tidak mudah pula memisahkan peran dan campur tangan beliau dengan apa yang telah dicapai oleh para mantan anak didiknya saat ini. Peran beliau dirasakan begitu besar bagi sebagian besar mantan anak-anak didiknya, sehingga dalam berbagai kesempatan, selalu saja topik yang mengemuka adalah topik mengupas kembali kenangan tentang sosok beliau.

Pada tulisan ini akan dirilis rangkaian kesan-kesan tentang sosok beliau yang berhasil dihimpun dari beberapa alumni PGAN Kediri tahun 1989, khususnya kelas III/5. Misalnya, di mata M. Sobir (politisi dan pengusaha, Yogyakarta), pak Dja’i (panggilan akrab untuk beliau) adalah sosok orang besar meski kecil dalam penampakan (baca: postur tubuh). Dalam pandangannya, beliau ini adalah orang besar dalam banyak hal, antara lain besar dalam penguasaan ilmu, besar dalam pemikiran, besar dalam semangat, besar dalam pengaruh, besar dalam disiplin, besar dalam perhatian, besar dalam konteks keagamaan, besar dalam kepribadian, dan bahkan menjadi sangat besar dalam kesan yang ditinggalkannya di mata para mantan anak didiknya. Memang, rasanya tidak berlebihan apabila beliau digambarkan seperti demikian. Kiprah beliau di banyak hal dirasakan sangat menonjol, sehingga tidak ada kata lain kecuali yang memang “orang besar” seperti dikatakan oleh M. Sobir ini.

Sementara itu, Qomaruddin (wiraswasta, Kediri) melihat sosok pak Dja’i sebagai pribadi yang tidak banyak bicara, selektif dalam mengeluarkan kata, tetapi setiap pembicaraan atau kata yang beliau keluarkan selalu menjadi perhatian banyak pihak, dan bahkan memiliki dampak besar bagi perilaku orang-orang di sekelilingnya. Mungkin Qomaruddin ini hendak mengatakan bahwa singkatnya beliau ini adalah sosok yang pribadi yang berwibawa yang selalu berpengaruh bagi lingkungan sekitarnya. Hal ini juga di-amini oleh M. Ali Ridlo (pengasuh pesantren, Jakarta Pusat) bahwa sosok pak Dja'i memang menggambarkan sosok manusia berwibawa, bahkan secara ekstrim dikatakan bahwa meskipun dari segi postur pak Dja'i itu orangnya kecil, tetapi aura wibawanya tak terbendung dan disegani oleh banyak kalangan.

Kesan senada tentang pak Dja’i juga dikemukakan oleh Basori Alwi (Kepala KUA, di Yogyakarta), bahwa dalam kesan beliau pak Dja’i ini adalah sosok pimpinan dan pendidik yang berwibawa, baik di mata anak-anak didik maupun di mata para dewan guru. Kewibawaannya dapat dirasakan baik di kala berhadapan langsung dengan beliau maupun saat tidak berhadapan langsung, juga kewibawaan yang ditunjukkan melalui sikap maupun ucapan. Ekstrimnya, menurut Basori Alwi, sikapnya saja sudah dapat merubah perilaku orang, apalagi ucapannya.

Berbeda dengan kesan-kesan yang digambarkan di atas, kesan mendalam tentang pak Dja’i tetapi dalam perspektif yang berbeda juga ada pada H. Jauhar Hatta (dosen IAIN Yogyakarta, tinggal di Banjarnegara), bahwa dalam pandangan beliau pak Dja’i ini disebut sebagai rojulun ‘aalimun, rojulun shaalihun, dan rojulun syujjaa’, yang dengan atribut-atribut itu menjadikan beliau sukses mendidik dan mengkader generasi muda Islam serta mampu mewarnai sisi religiusitas Pemkot Kediri berikut masyarakatnya. Dalam konteks ini, tentu masih segar dalam ingatan segenap alumni di era beliau, dan sekedar untuk me-refresh catatan kita bersama, bahwa pada era beliau (pak Dja’i) masjid PGAN Kediri dalam setiap bulan Ramadhan selalu memperoleh predikat sebagai masjid yang mampu menyedot animo jama’ah paling besar di antara masjid-masjid yang ada di kota Kediri, meski kita tahu bahwa ukuran masjid PGAN Kediri kala itu tidak sebanding dengan misalnya masjid Jami’ Kota Kediri yang ada di Alun-alun kota. Tetapi fakta memang demikian, bahkan saat itu jama’ah banyak sekali mengalir dari wilayah yang jauh dari PGAN, misalnya dari Baluwerti, Dandangan, dll.

Apa yang digambarkan di atas baru merupakan kesan dari sebagian kecil alumni yang berhasil dihimpun. Tentu masih banyak lagi kesan-kesan lain yang tidak kalah “seru”-nya dalam menggambarkan sosok beliau sebagai pendidik dan pemimpin yang sukses. Komentar dan kesan dari segenap alumni tetap ditunggu dan akan di-upload di tulisan ini. Terima kasih pak Dja’i, ketekunan dan ketelatenan Bapak benar-benar kami rasakan dampak dan manfaatnya saat ini. (Thohir Afandi, 27 Maret 2008)

Monday, March 24, 2008

Menggagas Peluang Ekonomi dari Jaringan Alumni

Di tengah gencarnya upaya Pemerintah melaksanakan kegiatan-kegiatan pengentasan kemiskinan, tidak sedikit upaya sejenis telah dilakukan oleh banyak pihak, baik dalam konteks individu maupun kelompok. Dari segi individu, banyak sekali kita temukan pribadi-pribadi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama yang berbuah pada 'usaha' untuk turut memberdayakan kelompok yang lemah. Ini antara lain diwujudkan melalui upaya peminjaman modal sekaligus pembelajaran usaha kepada pihak yang tidak mampu. Atau upaya pemberdayaan melalui pembukaan lapangan kerja seperti melibatkan kaum yang lemah dalam berbagai kegiatan usaha ekonomi yang dimiliki. Betapapun kecil dan sederhananya upaya 'pemberdayaan' yang dilakukan, tetap besar manfaat dan dampaknya bagi pembangunan dan pengembangan kesejahteraan bersama. Sedangkan dari segi kelompok, lebih banyak lagi yang dapat kita saksikan langkah dan upaya yang dilakukan untuk tujuan yang sama. Sebut saja, misalnya, munculnya lembaga-lembaga non-profit yang bergerak di bidang sosial dan kemasyarakatan yang belakangan tumbuh pesat. Termasuk di dalamnya lembaga yang lahir untuk memanfaatkan peluang ekonomi kerakyatan yang nyata, misalnya, lembaga professional pengelola ZIS (zakat, infaq, dan sedekah). Lembaga-lembaga ini dengan segala usaha dan ikhtiarnya telah menunjukkan gejala yang menggemberikan bagi upaya pengentasan kemiskinan sekaligus meningkatkan kesejahteraan kaum yang lemah.

Salah satu peluang ekonomi sekaligus modal yang tidak kecil artinya bagi pengembangan ekonomi adalah kekuatan jaringan. Tentu jaringan yang dimaksud dalam konteks ini adalah jaringan yang solid, yang memiliki pemahaman dan persepsi yang sama dalam hal tertentu sehingga usaha menggunakan jaringan untuk tujuan tertentu dimaknai sama dan secara konsisten masing-masing anggota jaringan dapat menyikapi secara sama dan dalam level kedisiplinan yang sama pula. Dalam konteks tersebut, patut diperhitungkan kekuatan jaringan yang telah lama terbentuk, terutama jaringan yang memiliki keterikatan kultur dan karakter yang sama, sekaligus perasaan 'kebersamaan' yang tinggi. Salah satu yang mungkin perlu dilirik adalah kekuatan jaringan alumni. Meski jaringan ini masih cenderung dianggap rapuh, tetapi dengan upaya yang terus menerus tidak mustahil dapat dibangun kekuatan jaringan alumni yang solid seperti digambarkan di awal paragraph ini. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperkuat jaringan tersebut, antara lain adalah: meningkatkan frekuensi komunikasi antar anggota jaringan, baik dalam arti komunikasi secara bersama maupun komunikasi secara individual diantara sesama jaringan alumni; membangun simpul-simpul jaringan alumni menurut area geografis, sehingga dengan simpul-simpul itu komunikasi dapat dilakukan lebih mudah dan penyebaran informasi antar anggota dapat dilakukan dengan cara yang lebih cepat; menyelenggarakan kegiatan-kegiatan informal yang sebanyak mungkin melibatkan anggota jaringan yang ada, misalnya kegiatan reuni, kegiatan family gathering, dan lain-lain. Tentu yang ini tidak dapat dilakukan dalam frekuensi yang berlebihan juga untuk menghindari dampak yang justru kontra produktif.

Sekali jaringan alumni terbangun secara solid, maka akan mudah memanfaatkan dan menggunakan jaringan tersebut untuk tujuan kemakmuran seperti disinggung di awal tulisan. Salah satu model (tetapi bukan satu-satunya model) yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan jaringan sebagai mata rantai pemasaran (marketing) produk tertentu yang disepakati melalui aturan tertulis yang disusun bersama dengan orientasi keuntungan secara adil untuk semua. Mungkin agak sulit membayangkan seperti apa "makhluk" yang disebut ini, tetapi akan mudah apabila proses itu telah dilewati. Salah satu pengalaman menarik penulis yang kebetulan adalah salah satu pengurus RT adalah pengalaman memanfaatkan warga RT untuk menjadi sumber kemakmuran bersama. Prinsipnya sederhana: menjadikan kebutuhan hidup anggota sebagai sumber kemakmuran bagi anggota itu sendiri. Yang dilakukan adalah kurang lebih sebagaimana prinsip-prinsip koperasi, yaitu menghimpun modal dari anggota, me-manage modal anggota, memenuhi kebutuhan anggota, dan membagi keuntungan usaha untuk anggota. Dengan prinsip itu kepada setiap anggota dihimbau untuk selalu menggunakan produk kelompok untuk memenuhi kebutuhan hidup dari pada mengambil/membeli dari toko atau dari pasar. Dengan begitu, setiap sen rupiah yang dibelanjakan akan menghasilkan laba rupiah yang kelak akan dibagi dan dikembalikan lagi kepada masing-masing anggota. Ini baru dan hanya bersifat contoh, tentu banyak lagi kreatifitas lain yang dapat diciptakan untuk suatu kelompok (jaringan) yang sudah solid.

Dalam konteks jaringan alumni, ide ini menjadi semakin strategis dengan mempertimbangkan status alumni saat ini yang sudah menyebar di berbagai daerah dengan bidang usaha dan karir yang juga beragam. Variasi geografis sekaligus keragaman jenis usaha/karir yang ditekuni merupakan modal besar yang bila dapat dikelola dengan baik dapat menjadi sinergi yang strategis. Pola hubungan mutualistis dapat diciptakan dengan pandangan masing-masing dapat saling melengkapi dan mengisi kebutuhan sesama alumni.

Nah, untuk mewujudkan itu semua, pertanyaan terpenting pertama adalah mampukan kita menjadikan jaringan alumni ini menjadi jaringan yang solid. Apabila pertanyaan tersebut dapat kita jawab dengan "ya", maka pertanyaan berikutnya adalah cukupkah kemauan kita untuk menjadikan jaringan ini sebagai modal ekonomi bersama tanpa ada maksud mengeksploitasi antara satu dengan lainnya kecuali dan hanya untuk kepentingan bersama semata. Kemauan ini menjadi faktor terpenting oleh karena dengan kemauan ini semua bisa diciptakan dan diusahakan, termasuk kemauan yang melahirkan kemampuan.

Ini semua hanya dan baru suatu ide/pemikiran, yang perlu direnungkan oleh kita bersama dan untuk merangsang kreatifitas berfikir lainnya. Ingat, tidak sedikit kemajuan suatu kelompok bermula dari ide sederhana tetapi ditekuni dan secara serius dikembangkan. Demikian dan semoga bermanfaat. (Thohir Afandi, Maret 2008)

Wednesday, March 12, 2008

Kolega Kita: H. Mohammad Aqil Abdul Azis

Seringkali selama pergaulan kita di bangku PGAN Kediri, sekat-sekat antar kelas yang satu dengan yang lain sangat dirasakan dalam pergaulan keseharian. Ada kecenderungan bahwa kelompok pergaulan saat itu lebih mudah terbentuk diantara teman sekelas saja, dibanding pergaulan luas yang lintas kelas. Kalau toh ada, mungkin jumlahnya tidak seberapa. Kolom “Kolega Kita” ini dimaksudkan untuk mengisi celah tersebut dengan tujuan untuk melihat dan mengenang teman kita dari kelas lain sekaligus untuk memperkaya referensi pertemanan sesama rekan alumni.

Pada kesempatan ini, kolom “Kolega Kita” diisi dengan kabar sosok teman yang mungkin bagi sebagian kita tidak asing lagi, karena selama di PGAN Kediri yang bersangkutan termasuk kelompok aktifis sekolah dengan menjadi pegiat OSIS maupun Pramuka. Dia adalah H. Mohammad Aqil Abdul Azis. Adakah diantara kita tahu dari kelas mana dia berasal. Bagi yang tahu tentu tidak sulit menjawab, tetapi bagi yang tidak tahu atau sekurang-kurangnya “belum ingat”, dapat diinformasikan bahwa yang bersangkutan adalah teman kita dari kelas III-3. Kelas tersebut relatif mudah diingat karena ke-khas-annya sebagai kelas dengan komposisi yang kurang berimbang dimana siswi sebagai mayoritas dan siswa menjadi kelompok minoritas. Sementara kelas-kelas lain umumnya adalah kelas yang single-sexed class, alias kelas dengan sistem pemisahan antara kelas siswi dan kelas siswa. Kalau tidak salah dari 48 siswa/siswi hanya tercatat 5 atau enam siswa saja. Andai saja saat itu sudah ada kelompok pemusik “Sheila on Seven”, mungkin kita akan menjuluki teman cowok minoritas tersebut dengan kelompok “Pejantan Tangguh” dari PGA, he.. he… just a joke..!

Segera setelah kelulusannya dari PGAN Kediri pada tahun 1989, Sdr. H. Mohammad Akil Abdul Azis ini menjadi satu-satunya alumni yang berani memutuskan untuk meneruskan belajar di pulau seberang, tepatnya di IAIN Imam Bonjol, di Padang. Awal ceritanya, saat itu ada salah seorang alumni PGAN Kediri yang telah menjadi tenaga dosen di IAIN Padang tersebut yang berkunjung ke Kediri dan berkenan mampir ke PGAN Kediri untuk berbagi informasi tentang IAIN Padang. Bila tidak salah, saat itu sebenarnya ada 3 orang yang tertarik untuk belajar di Padang, yaitu Sdr. Mohammad Akil Abdul Azis, Jauhar Hatta, dan saya (Thohir Afandi). Namun setelah ditimbang-timbang akhirnya tinggal mas Akil saja yang mantap dan memutuskan untuk melanjutkan studi di IAIN Padang.

Setelah lama tidak ada kabar, sungguh merupakan keajaiban tersendiri. Saat itu teman kita, H. Moh. Ali Ridlo sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci, di sela-sela ibadah yang dilakukan tampak olehnya sosok yang dirasakan tidak asing meski agak ragu untuk menyapa. Ternyata sosok tersebut betul Sdr. H. Mohammad Akil Abdul Azis seperti yang diduga. Dari pertemuan tersebut maka jalinan tali silaturrahmi mulai tersambung kembali, termasuk dengan saya dan mungkin teman-teman yang lain. Bila tidak salah, mas Ali Ridlo juga membagikan nomor hp beliau ke teman-teman yang lain.

Dari sambungan cerita yang diperoleh, beliau ini ternyata memilih jalur hidup sebagai ulama sekaligus pengusaha di Provinsi Padang. Rintisan usaha dilakukan setelah beliau menyelesaikan kuliah di IAIN Padang. Lambat tapi pasti usaha di bidang trading yang digeluti akhirnya berkembang dengan baik, hingga saat ini akhirnya menjadikan kota Solok sebagai basis bisnis yang digeluti. Salah satu wujud sukses dari bisnis yang digeluti ini adalah keberangkatan beliau ke tanah suci beberapa waktu yang lalu untuk menunaikan ibadah haji. Hal yang sangat membanggakan adalah disela-sela kesibukannya menjalankan roda bisnis, beliau juga rajin menjadi pengasuh pengajian dan menjadi khotib di beberapa masjid di kota Solok.

Beliau menikah dengan putri Minang asal kota Solok, Padang, dan telah dikaruniai anak yang pinter-pinter. Selamat dan sukses selalu pak Akil... (Thohir Afandi, 11 Maret 2008)

Tuesday, March 11, 2008

PGAN Kediri: Hari-Hari Setelah Kau Tiada

Kecintaan kita yang tumbuh secara diam-diam dan di luar kesadaran kita terhadap almamater PGAN Kediri, ternyata sungguh luar biasa. Banyak bukti dan fakta yang menunjukkan gejala tersebut, meski tidak kasat mata tetapi jelas dapat dirasa. Salah satu diantara bukti dan fakta dimaksud adalah tumbuhnya rasa ‘gelo’ kata orang Jawa atas telah dihapuskannya PGAN beberapa tahun setelah kelulusan kita. Perasaan ‘gelo’ tersebut bahkah terasa sebagai bentuk ungkapan rasa kehilangan yang teramat sangat mendalam. Ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang selama ini dibanggakan dan menjadi kebanggaan. Bahkan tidak terbatas sebagai kebanggaan saja, tetapi justru menjadi bagian dari penggalan “sejarah” hidup yang begitu besar dampaknya terhadap pembentukan masa depan dan perilaku para alumninya.

Mungkin tidak berlebihan, apabila rasa kehilangan seperti digambarkan di atas di-analogikan sebagai bentuk rasa ‘kehilangan’-nya dua sejoli yang sedang memadu kasih. Atau lebih buruk lagi, sebagaimana rasa kehilangannya dua insan yang sudah sekian lama bersama, yang satu sama lainnya sudah saling memberi warna dalam kehidupannya, tetapi tiba-tiba hilang salah satunya. Tentu tiba-tiba dunia serasa tidak lengkap, bahkan bumi dirasakan tidak bundar lagi. Sungguh luar biasa memang. Atau jangan-jangan perasaan ini hanya ungkapan yang terlalu dilebih-lebihkan dari seorang yang cenderung ‘melankoli’ dan suka asyik dengan masa lalunya. Tapi itulah “rasa”, sebuah ungkapan batin dan perasaan yang mesti di-share dan dibagi kepada sesamanya.

Sungguh perasaan seperti yang digambarkan di atas seringkali bergelayut manakala kita sedang berkunjung ke kota yang kita cintai, Kediri. Ada perasaan, di sini dulu kita belajar, tetapi di sini pula nama itu telah tiada. Sebutan dan nama yang telah berubah dengan serta merta telah mencabut sebagian dari rasa keterikatan kita dengan kawah candradimuka PGAN yang dulu menjadi tempat belajar kita. Oh.. sedih sekali, rindu sekali, kangeeen banget. Untukmu PGAN-ku. (Thohir Afandi, 10 Maret 2008).

Tuesday, March 04, 2008

PGAN Kediri: Sosok Sekolah Negeri Beraroma Pesantren

Jauh setelah melangkah meninggalkan kenangan manis belajar di PGAN Kediri, seringkali memori bawah sadar muncul begitu saja. Rasanya tidak mudah melupakan masa-masa itu, dan memang tidak perlu dilupakan, bahkan tidak boleh dilupakan. Banyak sekali kejadian lama yang saat itu terasa biasa saja, tetapi justru terasa luar biasa manakala kejadian itu telah jauh meninggalkan kita. Mungkin dalam pendekatan dan pemahaman yang seperti itu maka 'penyesalan' tidak pernah mendahului kejadian, atau setidak-tidaknya penyesalan datang bersamaan dengan kejadian, hampir tidak pernah terjadi. Penyesalan sebagai bentuk telah hadirnya suatu kesadaran yang utuh atas suatu kejadian selalu datang belakangan, terutama setelah pikiran dan suasana batin dalam keadaan tenang, netral, dan tidak dipengruhi suasana subjektif akibat keterlibatan emosi, pikiran, dan bahkan "kepentingan" terhadap kejadian yang sedang terjadi.

Pokok pikiran di atas akan menjadi landasan berpijak dalam menguraikan kenangan manis yang luar biasa selama di PGAN Kediri antara 1986-1989. Dalam pendekatan dan pemikiran di atas, memang saat-saat menjalani aktifitas belajar di sana (pada saat itu) terasa biasa saja, bahkan dalam batas tertentu seringkali terasa berat dan membosankan. Itu wajar dan bisa dimengerti oleh karena mind-set saat itu adalah mind-set sebagai pelaku yang dalam melihat kejadian tersebut menggunakan perspektif yang terbatas. Hal tersebut akan lain sama sekali apabila perspektif yang digunakan adalah perspektif yang lebih luas dan netral seperti perspektif saat ini ketika kita sudah 19 tahun meninggalkan kejadian yang dinilai/dievaluasi/dikenang. Apapun yang terjadi saat itu terasa begitu mempesona, ada keinginan yang luar biasa untuk ber-tamanni (bukan ber-tarojji): "andai saja saya bisa kembali ke saat itu, tentu banyak sekali yang bisa saya lakukan, tentu tidak sedikitpun waktu saya sia-siakan....!, waktu itu terasa begitu strategis dan berharga".

Hal yang sama juga berlaku atas 'kejadian' berupa masa-masa belajar di PGAN Kediri. Ada banyak hal yang saat itu mungkin dipersepsikan sebagai sesuatu yang berat dan penuh aturan. Sehingga melaksanakan dan menjalaninya juga dirasakan sebagai beban yang tidak ringan. Sebagaimana banyak diketahui, saat itu Pimpinan PGAN utamanya Bpk. Drs. Sudja'i Habib, merupakan sosok yang menerapkan disiplin sangat tinggi tidak saja bagi para siswa yang belajar tetapi juga kepada segenap civitas akademika PGAN, diterapkan standard kedisiplinan yang sama. Penulis termasuk salah satu siswa yang pernah merasakan dampak dari standard kedisiplinan tersebut. Akibat terlambat hadir untuk mengikuti upacara, penulis bersama beberapa siswa yang lain terpaksa harus lesehan menikmati hangatnya aspal depan masjid PGAN, sambil menerima 'ceramah' kedisiplinan. Siapa saja pasti punya persepsi sama saat itu, yaitu berat dan penuh kecemasan. Tetapi tentu saat ini siapa saja akan memiliki persepsi lain, terutama setalah melihat hasilnya. Ternyata kedisiplinan yang tinggi tersebut besar dampaknya bagi sukses perjalanan selanjutnya dari segenap alumni PGAN Kediri. Kedisiplinan menjadi salah satu nilai yang selalu dipegang dalam berhadapan dengan masyarakat, dunia kerja, dan pihak-pihak yang lain. Kedisiplinan tentu tidak hanya terbatas pada sikap perilaku lahiriyah saja, tetapi juga disiplin dalam arti sikap moral yang mencerminkan pribadi berintegritas tinggi. Kalau itu semua diingat-ingat kembali, diyakini bahwa persepsi yang semula menganggap pendidikan dan aturan serba berat dan membebani itu justru berubah dan menganggap bahwa hal tersebut malah menjadi kebutuhan yang memang dan mesti diterapkan.

Lalu apa hubungan yang ditulis di atas dengan judul yang tercantum. Sebenarnya yang ditulis di atas sekedar sebagai pengantar untuk mendiskripsikan bagaimana pendekatan manajemen diterapkan di PGAN Kediri saat itu. Dalam hal PGAN dirasakan sebagai institusi pendidikan negeri tetapi beraroma pesantren itu adalah bagian dari persepsi yang timbul setelah sekian lama kejadian menjalani pendidikan dilalui. Persepsi aroma pesantren tidak dilihat dari sisi substansi kurikulum maupun pendekatan dalam PBM (proses belajar mengajar), tetapi lebih kepada sisi dampak yang ditimbulkan dari pola manajemen sekolah yang menimbulkan perilaku siswa yang demikian santun, tawadlu', dan penuh dengan akhlakul karimah. Coba sebentar kita tarik ingatan dan memori kita ke 19 tahun yang lalu, bagaimana kebanyakan kita dan teman-teman lain berperilaku, satu sama lain berinteraksi begitu santun, berkarakter, dan begitu hormat terhadap sesamanya. Sesama siswa putra memanggil dengan sebutan "pak", sedangkan sementara sesama siswi putri memanggil dengan sebutan "bu". Entah hal tersebut memang di-design demikian, atau karena sifat alami sebagai bentuk kultur bagi para calon guru sehingga tumbuh keinginan untuk saling memanggil "pak" atau "bu" sejak dini. Paling tidak dengan panggilan itu, secara psikologis berdampak kepada nuansa batin untuk selalu bertindak dan bersikap 'teduh' kebapakan dan keibuan, selayaknya menempatkan diri sebagai calon guru yang mesti menjadi suri tauladan.

Hal-hal tersebut di atas sungguh merupakan pemandangan yang jarang atau sulit ditemui di institusi pendidikan formal (baca: negeri), tetapi lebih sering dan mudah ditemui di lembaga-lembaga pendidikan semacam pesantren. Oleh karenanya, dalam tulisan ini secara singkat penulis hanya ingin berbagi "persepsi" tentang PGAN Kediri, yang menurut kacamata penulis dilihat dari dampak perilaku civitas akademika-nya mirip dengan yang mudah ditemui di pesantren. Tentu persepsi-persepsi lain juga banyak, dan tidak mesti seragam. Alangkah indahnya bila teman-teman bisa berbagi persepsinya tentang PGAN tercinta kita, sehingga kita dapat memperkaya diri dengan berbagai sudut pandang dalam melihat institusi pendidikan tercinta kita. Wallahu a'lamu bis-showab.

Monday, March 03, 2008

Al-Jahlu Daa', Wal 'Ilmu Yasyfii

Membaca judul yang tertulis di atas, dapat diyakini setiap alumni Kelas III-5 bakal menerawang jauh membayangkan sosok guru yang ganteng, gagah, berwibawa, dan suka mengajak bercanda. Beliau adalah Al-Ustadz Bpk. Djazuli Djazim. Beliau adalah guru yang berasal dari Ujung Pangkah Gresik, dan lama belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Meski banyak kelebihan yang beliau tunjukkan selama mengajar kelas III-5, misalnya keilmuan dan penguasaannya terhadap bahasa arab baik teori maupun praktek yang tinggi, tetapi hal yang lebih istimewa yang tidak mudah dilupakan adalah untaian syair arab yang pernah beliau ajarkan kepada kelas saat itu. Tidak lain dan tidak bukan, syair tersebut adalah yang judulnya seperti tertera dalam judul tulisan ini, yaitu Al-Jahlu Daa' wal-'Ilmu Yasyfii. Dari bunyi judulnya, syair ini memberikan nasehat betapa kebodohan itu adalah penyakit dan ilmu adalah obatnya.

Meski syair dibuat sederhana, tetapi terasa indah dan nikmat untuk terus didendangkan. Dalam tulisan ini disamping dimaksudkan untuk mengingatkan sosok guru yang sangat berkesan tersebut, juga untuk mengingatkan teman-teman tentang isi syair bila sudah rindu untuk menyanyikan syair dimaksud. Berikut adalah bunyi syair tersebut:

Al-jahlu daa', wal-'ilmu yasyfii
Wa huwa Ni'mal Muqtana
Idz-Bihi Narqo ilaa Aujis-Sa'aadah wal Hana...

Tidak yakin memang, apakah tulisan syair tersebut sudah lengkap atau belum, tetapi paling tidak penggalan utama bunyi syair dimaksud seperti yang biasa dinyanyikan ya seperti itu. Bagi yang ingat sepenuhnya, tolong dilengkapi dan diingatkan saya ya. Terima kasih.

Salam ta'dzim untuk al-ustadz Bpk. Djazuli Djazim.

Berita Reuni Kelas Lain (Kelas III-2)

Di tengah keinginan dan rencana kelas III-5 menyelenggarakan Reuni Kelas yang sejauh ini masih dalam tahap mobilisasi dan identifikasi jaringan yang ada, ternyata berita gembira datang dari kelas lain yaitu Kelas III-2. Kelas III-2 ini jauh lebih maju dalam hal persiapan menuju Reuni Kelas.

Berita kesiapan penyelenggaraan Reuni Kelas III-2 ini diperoleh dari salah seorang anggota kelas yang cukup aktif, yaitu Sdr. Jumadi. Dalam berita yang disampaikan per telepon kepada kami, kelas III-2 ini dari segi komunikasi sudah mencapai 100% anggota kelas yang sudah tersebar di berbagai daerah. Satu per satu anggota kelas didata menggunakan metode gethok-tular hingga akhirnya sudah terdata 100% keberadaan masing-masing alumni kelas tersebut di berbagai daerah dan wilayah.

Persiapan Reuni Kelas III-2 telah dilakukan beberapa kali dan telah diputuskan bahwa Reuni akan diselenggarakan pada bulan Juli 2008 ini. Reuni akan diselenggarakan di Prambon - Nganjuk. Dalam Reuni awal ini, juga dimaksudkan sebagai langkah awal untuk menggagas penyelenggaraan Reuni dalam skala yang lebih besar, misalnya Reuni untuk seluruh kelas alumni lulusan tahun 1989, yang berarti mencakup kelas III-1 hingga kelas III-9. Untuk menuju ke arah gagasan tersebut, direncanakan dalam Reuni Kelas III-2 ini masing-masing kelas akan diundang 2 orang perwakilan kelas, yang diharapkan dengan kehadiran 2 orang wakil dari tiap-tiap kelas ini dapat dibahas dan dimatangkan tentang gagasan menyelenggarakan Reuni dalam skala yang lebih besar.

Bertindak selaku panitia dalam Reuni Kelas III-2 ini antara lain Sdr. Jumadi, Sdr. Imam Subandi Karimuddin, Sdr. Jamroni, dll.

Sekiranya diperlukan informasi lebih lanjut seputar penyelenggaraan Reuni Kelas III-2 ini, dapat dihubungi Sdr. Jumadi di 0813.5999.6157. Good luck... pak Jumadi dkk.

Friday, February 29, 2008

Pesan dan Kesan Bpk. Drs. M. Sudja'i Habib (Disarikan dari Buku Memori 1989)

Dalam pesan dan arahan singkatnya, Bpk. Sudja’i Habib mengawali dengan menyampaikan ucapan selamat kepada segenap siswa/siswi PGAN Kediri yang telah menyelesaikan studi selama periode 1986-1989. Kelulusan siswa/siswi ini sekaligus beliau nilai sebagai bentuk telah selesainya pula tugas formal seluruh dewan pengasuh serta karyawan/karyawati PGAN Kediri dalam melaksanakan tugas mendidik, mengajar, serta membimbing siswa/siswi PGAN Kediri hingga batas akhir secara formal masa studi di PGAN Kediri.

Beliau mengingatkan bahwa meski secara formal pendidikan keguruan telah diselesaikan dan sekaligus telah memenuhi syarat untuk menerima akreditasi sebagai calon guru agama, bukan berarti tanggung jawab secara keilmuan telah selesai pula, justru setelah tamat ini tuntutan untuk mempertanggungjawabkan ilmu yang telah diperoleh menjadi semakin meningkat, baik dalam konteks mempertanggungjawabkannya kepada orang tua maupun kepada masyarakat.

Hal penting lain yang beliau pesankan adalah pentingnya menjaga dan memelihara tali silaturrahmi yang telah ada, baik silaturrahmi antara sesama siswa/siswi, maupun silaturrahmi antara siswa/siswi dan guru serta segenap karyawan/karyawati PGAN Kediri. Terkait dengan itu, beliau menggarisbawahi bahwa kebiasaan menerbitkan Buku Memori oleh siswa/siswi yang baru saja lulus kelas III merupakan langkah yang sangat baik dan akan memberikan manfaat yang sangat besar kelak di kemudian hari. Perjalanan belajar selama 3 tahun tentu akan meninggalkan kesan yang mendalam dan keindahan tersendiri manakala di kemudian hari dapat diingat-ingat kembali. Bahkan tidak jarang hal-hal yang dulunya dijalani dengan perasaan biasa-biasa saja akan terasa indah atau bahkan ‘lucu’ bila diingat pada kesempatan yang sudah jauh berbeda.

Beliau mengungkapkan bahwa ada 3 kecenderungan langkah yang diambil oleh alumni PGAN sebagaimana yang sudah-sudah, yaitu: (i) terjun langsung ke masyarakat menjadi tenaga pendidik non-formal; (ii) mengabdikan diri menjadi tenaga pendidik formal; dan (iii) melanjutkan studi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Terhadap ketiga kecenderungan di atas, dalam pandangan beliau ketiganya sama-sama merupakan pilihan yang baik, yang penting masing-masing dapat benar-benar berupaya menjadi insan yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa,dengan tetap menjunjung tinggi almamater PGAN sesuai peran dan posisi masing-masing. Untuk mendukung mencapai sukses di ketiga pilihan tersebut, beliau berpesan hendaknya masing-masing membekali diri dengan sikap mental yang baik, meliputi sikap cekatan, penuh inisiatif, ulet, dan militan dalam menggapai cita-cita. Beliau mengingatkan pula bahwa pada dasarnya ilmu yang bermanfaat itu tidak ditentukan oleh banyaknya maupun tingginya ilmu yang dikuasai, tetapi sejauh mana ilmu-ilmu yang diperoleh itu dapat bermanfaat bagi dirinya dan lingkungan masyarakat sekitarnya.

Terakhir, beliau menutup pesan dan kesannya dengan menyampaikan kalimat do’a kiranya para alumni PGAN Kediri, kelak dapat menjadi insan muslim yang intelek dan insan intelek yang muslim yang diridloi Allah SWT, amin ya robbal alamin.

(Kediri, 11 Maret 1989, Drs. M. Sudja'i Habib)

Thursday, February 28, 2008

Teman-Teman: Kabarmu Kini

Adalah kerinduan tersendiri untuk mengetahui keadaan dan keberadaan teman-teman yang sudah lama berpisah. Oleh karenanya tentu menjadi kebahagiaan pula bila kita dapat mengetahui kabar dan keberadaan masing-masing. Tentu perubahan sudah banyak terjadi diantara teman-teman dulu. Kalau dibayangkan saat itu kita sama-sama bersekolah di PGA dengan niatan sama menjadi guru agama di SD, tentu bayangan ini mungkin sudah jauh tidak relevan. Dalam perkembangannya sudah banyak yang berubah haluan, atau sebenarnya tetap dalam jalur dan koridor keguruan, tetapi dalam level dan maqom yang berbeda (baca: lebih tinggi), misalnya jadi dosen, jadi guru besar, jadi ustadz, jadi kyai, dll.. Nah.. yang berubah jalur misalnya ada yang jadi pengusaha, kontraktor (seperti mas Sobir), jadi kuli pemerintah (seperti mas Thohir), atau jadi juragan besar. Itu semua adalah hal yang mungkin dan sangat bisa terjadi.

Berangkat dari pemikiran tersebut, di bawah ini akan ditulis seputar keadaan terkini yang berhasil terekam dari kawan dan teman alumni yang saat ini sudah menyebar di mana-mana. Oleh karena sumber informasi yang sangat terbatas, mohon teman-teman yang membaca media ini dan tahu informasi yang lebih lengkap tentang kawan dan teman kita, mohon bantuannya untuk dapat menyampaikan ke kami (Thohir Afandi) via email thohir.afandi@gmail.com untuk selanjutnya kami gunakan untuk meng-update data dan informasi terakhir mengenai teman-teman.

Abdul Ghofur. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fak. Tarbiyah Jur. Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Menikah dengan sang pujaan hati yang asli Jogjakarta dan telah dikaruniai (kalau tidak salah) dua anak. Pekerjaan saat ini menjadi Wakil Kepala Sekolah MAN I Bantul Jogjakarta.

Ahmad Syafi'in. Teman asal Gresik ini tahun 1989 melanjutkan belajar di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Menikah dengan putri Madura dan telah dikaruniai 3 orang anak yang manis dan pinter-pinter. Saat ini beliau berprofesi sebagai ustadz dan kyai di salah satu lembaga pendidikan Islam di Surabaya.

Basori Alwi. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fak. Tarbiyah, Jur. Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Menikah dengan putri Jogjakarta dan telah dikaruniai anak. Saat ini bekerja sebagai Kepala KUA Jogjakarta (Sleman?).

Jauhar Hatta. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fak. Tarbiyah, Jur. Pendidikan Bahasa Arab, IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Pada tahun (1994?) melanjutkan studi ke jenjang S-2 di IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat Jakarta Selatan, dan saat ini sedang menyelesaikan tahap akhir studi pada jenjang S-3 di lembaga pendidikan yang sama (mudah-mudahan saat ini sudah selesai). Pekerjaan saat ini adalah sebagai tenaga dosen di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta.

M. Ali Ridlo. Tahun 1989 melanjutkan studi di Jakarta, tepatnya di salah satu perguruan tinggi Islam di bawah naungan kedutaan besar Arab Saudi. Status sudah menikah dengan putri seorang ulama di Jakarta Pusat yang asli Jawa Timur dan telah lama tinggal di Jakarta. Aktifitas keseharian saat ini adalah sebagai pengasuh (baca: ustadz dan kyai) di pesantren dan yayasan Al-Hasanah, Senen Jakarta Pusat.

M. Sobir. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fakultas Syari'ah, Jur. Perbandingan Madzhab, IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Di kota ini pula yang bersangkutan dipertemukan dengan sang idaman hati dan telah dikaruniai seorang anak laki-laki (sekarang sudah jejaka). Pekerjaan saat ini sebagai pengusaha kontraktor merangkap sebagai aktifis politik (politikus) di Jogjakarta.

Muslimin. Tahun 1989 melanjutkan studi di Fak. Tarbiyah, Jur. Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Sunan Ampel, Jember. Status sudah menikah dengan sang pujaan hati dan telah dikaruniai anak yang manis-manis. Saat ini bekerja sebagai pendidik di daerah Kediri.

Qomaruddin. Setelah lulus PGAN 1989, yang bersangkutan merintis usaha di Kediri, dan kini usahanya telah berkembang pesat hingga yang bersangkutan menjadi juragan bisnis di bidang perawatan otomotif. Status sudah menikah (?) dan tinggal di Ngadiluwih Kediri.

Suprihadi. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fak. Tarbiyah, Jur. Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Sunan Ampel Malang. Menikah dengan sang pujaan hati asal kota Lumajang dan telah dikarunia anak yang manis. Saat ini bekerja sebagai pendidik di daerah Kediri dan berdomisili di Wates Kediri.

Thohir Afandi. Tahun 1989 melanjutkan kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jur. Pendidikan Bhs. Inggris, Universitas Jember. Tahun 1997 memperoleh kesempatan belajar gratis pada jenjang Master's Degree di Illinois Institute of Technology, Chicago, USA. Menikah dengan putri Jember, dan telah dikaruniai 2 anak. Saat ini bekerja di Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas di Jakarta.

Untuk sementara, informasi yang diperoleh masih terbatas dan baru mencakup 10 (sepuluh) orang seperti tersebut di atas. Tentu informasi yang ditulis di atas bisa saja tidak/belum lengkap atau mungkin kurang akurat mengingat sumber informasi yang sangat beragam dan beritanya sebagian belum terkonfirmasi kepada masing-masing yang bersangkutan. Masukan dan saran, serta tambahan informasi bagi yang belum tercantum sangat diharapkan. Mohon segala informasi dapat dikirim via email kepada thohir.afandi@gmail.com

Diharapkan berita "Kabarmu Kini" dapat terus di-update sesuai kabar dan informasi yang berhasil dikumpulkan. Banyak terima kasih atas bantuannya. (Thohir Afandi, Jakarta)

Wednesday, February 27, 2008

Mak Mbrot, Ikon Warung Sederhana untuk Siswa PGAN Berkantong "Cekak"

Sungguh tak terpikir, apa yang mungkin terjadi seandainya saat itu tidak ada yang namanya Mak Mbrot dengan warung murahnya. Warung Mak Mbrot sudah sedemikian melegenda, lebih-lebih konsep warung yang ditawarkan begitu 'match' alias pas dengan situasi finansial kebanyakan siswa PGA saat itu, yang notabene berkategori pas-pasan. Kehadirannya benar-benar dianggap sebagai berkah bak hujan yang turun dalam suasana kemarau terik.

Menyangkut nama Mak Mbrot, sebenarnya merupakan sebutan yang kurang elok, bahkan ada kemungkinan yang bersangkutan akan marah bila tahu dan mendengar dipanggil demikian. Buktinya saat para pelanggan makan di sana, hampir tidak satupun yang berani memanggil dengan panggilan Mak Mbrot, tetapi cukup memanggilnya dengan panggilan Mak. Tapi apa boleh buat, justru dengan sebutan tersebut orang akan lebih mudah mengingat dan bahkan bisa menjadi terkiwir-kiwir karenanya.

Terlepas dari suka atau tidak suka dengan julukan dan panggilan tersebut, adalah layak untuk mengenang masa-masa menjadi pelanggan tetap Mak Mbrot. Salah satu kenangan yang paling mudah diingat adalah porsi makanan yang demikian 'yahui' banyak, sebuah porsi yang pas bagi perut-perut keturunan petani yang bekerja keras, sekaligus perut-perut sosok manusia yang masih dalam masa pertumbuhan, he... he.... Saat itu, mungkin kebanyakan kita tidak banyak berfikir tentang komposisi dan kualitas gizi yang kita makan, tetapi saat itu yang sering kita pentingkan adalah 'kenyang' dan 'kepuasan'. Belum lagi kalau ada kegiatan, biasanya panitia nge-plot pesen makan siangnya ya ke Mak Mbrot ini.

Ritual makan di Mak Mbrot saat itu memang terasa biasa saja, tetapi setelah lama sekali tidak berkunjung ke sana, sepertinya saat-saat itu menjadi momentum yang istimewa untuk dikenang. Keberadaannya bagai tak terpisahkan dengan kenangan manis selama belajar di PGAN Kediri. Bravo Mak Mbrot...!

Daftar Nama Teman2 Alumni

Sekedar untuk mengingatkan nama-nama teman kita di kelas III-5, berikut ini saya list nama-nama yang berhasil saya ingat. Bila kurang tolong diingatkan. Sementara akan saya tuliskan nama-nama dan alamat asalnya saja, nanti diharapkan dapat disempurnakan dengan status akhir dan alamat terbaru masing-masing pada saat ini. Nama-nama dimaksud adalah sebagai berikut:

(1) Abdul Ghofur: Sumber Agung, Krecek, Pare, Kediri;
(2) Abdul Mutholib: Jambu, Tunge, Wates, Kediri;
(3) Achmad Jamil Choiri: Blabak Kota, Pesantren Kodya Kediri;
(4) Adib Tamimi: Dkh. Bondo, Jajar, Wates, Kediri;
(5) Ahmad Baedlowi: Juwet, Ngronggot, Nganjuk;
(6) Ahmad Syafi'in: Indra, Delik, Bungah, Gresik;
(7) Ambar Sugito (Alm.): Tambakrejo, Gurah, Kediri;
(8) Asmuni: Selosari, Prambon, Dagangan, Madiun;
(9) Ayub: Sanggrahan, Prambon, Nganjuk;
(10) Badrul Qomar: Adan-adan, Gurah, Kediri;
(11) Badrut Tamam: Rejomulya Kodya Kediri;
(12) Basori Alwi: Pule, Kandat, Kediri;
(13) Dardiri: Bandung, Prambon Nganjuk;
(14) Imam Bukhori: Jl. Mastrip 14A, Sukorame Kodya Kediri;
(15) Imam Khudori: Kampung Baru, Tanjung Anom, Nganjuk;
(16) Imam Maksum: Sumber Agung RT 54/09, Wates, Kediri;
(17) Imam Nawawi: Toyoresmi, Gampengrejo, Kediri;
(18) Imam Syafi'i: Pakisrejo, Srengat, Blitar,
(19) Jauhar Hatta: RT 01/03, Mojo Agung, Prambon, Nganjuk;
(20) Jaini Musthofa: Suko Anyar, Mojo, Kediri;
(21) Khoirul Anam: Betet, Ngronggot, Nganjuk;
(22) Khoiri MN: RT 17/05 Dayu, Nglegok, Blitar;
(23) Mahmud: Pulosari, Papar, Kediri;
(24) Maslam: Badas Pare Kediri;
(25) Maulin: Slumbung, Ngadiluwih, Kediri;
(26) Moh. Anwar Fauji: Sumber Cangkring, Gurah, Kediri;
(27) Moh. Anwar Zainuri: RT 21/08 Betet, Pesantren, Kediri;
(28) Moch. Ridlo'i: Gabru, Kepuhrejo, Gampengrejo, Kediri;
(29) Moch. Sobir Afiel: RT 08/03 Jatirejo,Grogol, Kediri;
(30) Moh. Sobirin: Gemaharjo, Watulimo, Trenggalek;
(31) Mohammad Syaerozi: RT 02/02 Badal Pandean, Ngadiluwih, Kediri;
(32) Mokhammad Ansori: RT 45/06 Tunge, Wates, Kediri;
(33) M. Ali Ridlo: RT 12/04, Tanjung Tani, Prambon, Nganjuk;
(34) M. Mujib: Kebon Dalem, Bareng, Jombang;
(35) M. Munawar: Sonoageng, Prambon, Nganjuk;
(36) M. Munir: Ngrembang, Rejo Agung, Ngoro, Jombang;
(37) Mukmin Fadholi: Kendal Rejo, Talun, Blitar;
(38) Muslimin: Blabak, Kandat, Kediri;
(39) Musta'an: Plemahan Kediri;
(40) Qomaruddin: Ngadiloyo, Ngadiluwih, Kediri;
(41) Saiqu Rosidin: RT 9 Blabak, Kandat, Kediri;
(42) Siswo Utomo: Paron, Gampeng Rejo, Kediri;
(43) Suprihadi: Jambu, Tunge, Wates, Kediri;
(44) Thohir Afandi: Jl. Sumber Agung, Tunglur, Pare, Kediri;
(45) Tolib: Minggirsari, Kanigoro, Blitar;
(46) Yahya: Kampung Baru, Tanjung Anom, Nganjuk;
(47) Zainal Abidin: Badal Pandean, Ngadiluwih, Kediri;
(48) Zainuddin: Badal Pandean, Ngadiluwih, Kediri.

Mudah-mudahan nama-nama tersebut senantiasa dalam ingatan kita, dan sewaktu-waktu mudah-mudahan kita dipertemukan kembali.

Awal Keinginan Reuni III-5 PGAN Kediri (Lulusan 1989)

Dalam ritual mudik pada lebaran 1428 H yang lalu, secara tidak sengaja tersambung komunikasi diantara beberapa teman alumni PGAN Kediri. Awalnya, mas Shobir yang sekarang jadi pengusaha di Yogyakarta menemukan nomor hp saya (Thohir Afandi). Komunikasi berlanjut dan akhirnya disepakati dilakukan 'meeting' kecil-kecilan di masjid PGAN Kediri saat lebaran Idul Fitri 1428 H (2007) yang lalu itu.

Apesnya, dalam proses komunikasi persiapan 'meeting' yang kecil tersebut diperoleh kabar bahwa tidak banyak yang bisa hadir, apalagi mas Suprihadi yang di Plosoklaten yang diharapkan jadi komandan untuk teman-teman yang di Kediri ternyata juga ada agenda ritual mudik ke rumah mertua di Lumajang. Praktis dengan situasi tersebut, 'janjian' untuk bertemu menjadi agak kocar-kacir. Beberapa yang sempat 'nyambung' adalah mas Abdul Ghofur (Yogyakarta), mas Ali Ridlo (Jakarta), mas Basori Alwi (Yogyakarta). Namun itu semua menjadi kacau karena janjian tidak solid.

Dalam perkembangannya, meski secara diam-diam ternyata juga berhasil terhubungi mas Muslimin (Kediri), mas Abdul Mutholib (Wates), mas Qomaruddin (Kras), dan lain-lain. Namun oleh karena janjian yang kurang solid tersebut, saya termasuk yang menjadi kurang taat waktu dan saya putuskan untuk datang di PGAN pada jam sholat dhuhur dari rencana semula pukul 9.00 pagi. Praktis dengan kondisi tersebut akhirnya yang telanjur sudah menunggu menjadi nggak sabar dan pulang. Wuih.... saya merasa bersalah banget, tapi apa boleh buat karena informasinya maju mundur sehingga keterikatan dengan janji bertemu juga menjadi longgar.

Saat saya datang di PGAN Kediri (di masjid) situasi seperti baru selesai orang menjalankan sholat dhuhur. Saya segera menyusul sholat, dilanjutkan dengan tengok sana-sini, melihat sudut-sudut masjid yang sudah 19 tahun ditinggalkan. Banyak sekali memory indah selama menjadi bagian dari ta'mir terbayang jelas dalam pikiran. Tak mau larut dalam imajinasi masa lalu yang berlebihan, segera saya putuskan untuk meluncur sowan ke ndalem Al-mukarrom, Al-ustadz Al-Akbar, Bpk. Drs. M. Sudja'i Habib di Ngronggo. Alhamdulillah, beliau sedang longgar dan berkenan menerima sowan kami.

Saking lamanya tidak bertemu beliau (Bpk. Sudja'i Habib), pembicaraan menjadi hangat dan panjang lebar. Beliau menemui dengan gaya lamanya, bersarung dan berbaju rapi, berkopyah, dan tetap memancarkan sosok beliau yang 'berilmu' dan 'berwibawa'. Saya dan istri menyampaikan salam ta'dzim kepada beliau.

Dari pembicaraan yang panjang lebar, termasuk yang saya ceritakan kepada beliau adanya keinginan teman-teman untuk bersama-sama sowan tetapi gagal karena janjian yang kurang solid, beliau mengungkapkan keinginannya yang sangat kuat untuk dapat bertemu dan ber-reuni dengan teman-teman. Pada saat bersamaan, mas Basori Alwi menghubungi saya selagi saya bercengkerama dengan beliau, sayang mas Basori posisi sudah telanjur di Pule Kandat sehingga tidak bisa bergabung sowan ke beliau. Singkat cerita, dari sowan tersebut beliau berpesan agar teman-teman dapat berhimpun untuk serius memikirkan rencana reuni pada tahun berikutnya, dan beliau ingin ikut hadir di tengah-tengah reuni tersebut.

Tanpa terasa ternyata ritual 'sowan' ke pak Dja'i (begitu kami dulu memanggil beliau) sudah berlangsung 3 jam, hingga akhirnya saya berpamitan. Dalam perjalanan pulang ke Pare, alhamdulillah ternyata mas Shobir menghubungi ke hp saya, akhirnya pertemuan kecil berhasil terlaksana sore harinya di masjid PGAN Kediri. Mas Shobir dengan istri dan jejaka anak semata wayang-nya, sementara saya ditemani istri, 2 anak, dan 1 keponakan. Nah.. dari pertemuan kecil ini akhirnya saya disambungkan dengan mas Qomaruddin dll., dan berlanjut dengan angan-angan dan rencana menyelenggarakan reuni sederhana pada tahun berikutnya.

Website ini menjadi salah satu media untuk mewujudkan keinginan tersebut, sambil terus dihimpun informasi keberadaan teman-teman yang sudah menyebar di mana-mana, termasuk mas Maulin yang telah menjadi ulama di Kalimantan, mas Ali Ridlo yang menjadi ustadz di Jakarta, mas Jauhar yang menjadi akademisi di IAIN Yogyakarta, dst.

Mudah-mudahan keinginan untuk reuni ini dapat terwujud, sehingga jalinan tali silaturrahmi yang telah ada dapat terpelihara dengan baik, amin.


Salam kangen
Thohir Afandi
Kementerian Negara PPN/Bappenas

Merajut Kembali Jaringan Lama yang Nyaris Hilang


Pada saat posting ini saya tulis, kira-kira sudah 19 (sembilan belas) tahun yang lalu kami-kami ini berpisah dengan teman-teman sekelas di PGAN Kediri. Kami lulus dari PGAN Kediri pada tahun 1989 dan saat itu kami tergabung dalam kelompok Kelas III-5.

Banyak sekali kenangan manis yang tidak mungkin dengan mudah terlupakan. Keakraban dan 'keluguan' bersama menjadi salah satu yang paling menarik untuk diingat dan dikenang. Meski sekolah kami di kota Kediri, tetapi jujur saja sebagian besar dari kami justru datang dari kampung-kampung yang tersebar di sekitar kota Kediri, misalnya dari Trenggalek (halo mas Sobirin), ada yang dari Blitar (halo mas Tholib, mas Imam Syafi'i dkk), ada yang dari Nganjuk (halo mas Jauhar, mas Ali Ridlo, mas Yahya, dan banyak lagi...), ada yang dari Jombang (halo mas Mujib dan mas Munir), ada yang dari Tulung Agung (siapa ya...), ada yang dari Wates (mas Suprihadi, mas Maulin, mas Abd. Mutholib, mas Imam Maksun, mas Anshori, dll.) ada yang dari Grogol (halo mas Shobir, pengusaha sukses di Yogyakarta), ada yang dari Gurah (halo mas Ridlo'i, dan almaghfurullah mas Ambar Sugito), ada yang dari Gresik (halo mas Ahmad Syafi'in), ada yang dari Keras (halo mas Zaenal Abidin, mas Qomaruddin, dkk.) ada yang dari Papar (halo mas Jamil Khoiri), ada yang dari Sukorame (halo mas Imam Bukhori).... dan masih banyak lagi yang belum saya sebut satu persatu.

Ketika mengingat masa-masa di PGA, hal yang terbayang adalah sosok murid yang rapi, baju abu2 putih berdasi dengan pin kebanggaan PGAN menempel di dada kiri, sebagian berkopyah bak santri Lirboyo, ada yang necis dasi-nya cuma dililitkan saja dan sering dikalungkan ke pundak (halo mas Jamil) dan lain-lain. Hal lain yang tidak bisa dilupakan pula adalah suasana yang 'cair' dalam komunikasi dan guyonan diantara teman-teman, apalagi kalau di kelas sudah ada salah satu teman yang mengantuk, ada saja yang menjadikannya sebagai 'victim of joke', misalnya: "waduh.. bis sudah berangkat nih, penumpang kepalanya sudah mulai goyang-goyang" he.. he.... pasti respon yang lain: gerrr......!

Sudah barang tentu hal yang mudah diingat tidak terbatas dan hanya yang lucu-lucu saja, tetapi kedisiplinan dan kewibawaan PGAN saat itu menjadi pengingat tersendiri. Sosok yang tidak bisa dilepaskan dari label disiplin dan wibawa ini adalah sosok sang Pemimpin Sekolah, yaitu Al-mukarrom, Al-ustadz Al-Akbar, Romo KH. Drs. M. Sudja'i Habib, M.Si. Beliau adalah sosok panutan yang luar biasa, baik dalam hal keilmuan, kedisiplinan, keluhuran akhlak, kewibawaan, dan lain-lain. Hingga sekarang, perilaku beliau tetap melekat sebagai pedoman dan suri tauladan bagi kebanyakan para murid di PGAN kala itu.

Singkat kata, bicara tentang PGAN Kediri ibarat mengingat sesuatu yang luar biasa dan tidak ada habisnya untuk diceritakan. Oleh karenanya, blog ini saya buat untuk menampung kesan dan memory teman-teman tentang PGAN Kediri, sekaligus sebagai media untuk merajut kembali tali silaturrahmi yang sudah kira-kira 19an tahun tak terhubung. Termasuk di dalamnya adalah untuk meng-update keadaan terakhir dan domisili masing-masing.

Bila teman-teman ingin menulis dan ingin tulisannya dimasukkan dalam blog ini, silahkan menulis dan di faks ke saya, Thohir Afandi, di (021) 3193-4779, atau dikirim via email ke thohir.afandi@gmail.com

Mudah-mudahan media ini dapat bermanfaat untuk kita bersama, amin.


Salam kangen untuk semua,
Thohir Afandi
Kementerian Negara PPN/Bappenas